Secara ilmiah, berlari tanpa alas kaki terbukti memiliki berbagai manfaat, seperti meningkatkan kemampuan berpikir dan mengurangi cedera.
04 Des 2024 13:49 WIB · Olahraga
Olahraga lari kini telah menjadi gaya hidup bagi banyak lapisan masyarakat di wilayah urban ataupun rural. Olahraga ini juga tergolong mudah dan murah karena bisa dilakukan di mana pun serta tidak memerlukan peralatan khusus. Umumnya, seseorang hanya membutuhkan sepatu untuk melindungi dan mengurangi rasa sakit di kaki saat proses berlari.
Di tengah gempuran produk sepatu lari yang dapat menunjang performa dan gaya, praktis saat ini jarang sekali terlihat orang berlari tanpa alas kaki. Padahal, apabila dilakukan dengan benar dan aman, berlari tanpa alas kaki sebenarnya memiliki berbagai manfaat.
Hasil studi yang dilakukan peneliti dari Departemen Psikologi University of North Florida, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa berlari tanpa alas kaki dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir atau daya ingat. Studi ini menyimpulkan, berlari tanpa alas kaki menghasilkan kinerja kognitif yang lebih baik daripada berlari dengan sepatu.
Dalam studi yang diterbitkan di Perceptual and Motor Skills tahun 2016 ini, para peneliti University of North Florida melibatkan 72 peserta berusia antara 18 tahun dan 44 tahun. Mereka diminta berlari masing-masing tanpa alas kaki dan mengenakan sepatu sesuai pilihannya sendiri. Mereka kemudian berlari dengan kecepatan yang nyaman selama sekitar 16 menit.
Setelah itu, peneliti mengalisis memori kerja para peserta yang diukur sebelum dan sesudah berlari. Hasilnya, peneliti menemukan peningkatan yang signifikan sekitar 16 persen dalam memori kerja dalam kondisi berlari tanpa alas kaki. Sebaliknya, peneliti menemukan tidak ada peningkatan signifikan dalam memori kerja saat peserta berlari menggunakan sepatu.
Jika kita melepas sepatu dan berlari, kita dapat memiliki kemampuan berpikir yang lebih cerdas setelah selesai berlari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/11/15/17ec1a06-4c8e-4006-8ade-7fa480e83453_jpg.jpg)
Memori kerja merupakan salah satu aspek kognitif yang berperan penting dalam kinerja kognitif. Sementara kognitif adalah aktivitas mental seseorang yang berkaitan dengan daya ingat, seperti pemikiran, pemahaman, pembelajaran, dan pengolahan informasi.
Ross Alloway, peneliti utama studi ini dari Departemen Psikologi University of North Florida, menyampaikan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua orang dapat menyadari potensi kognitifnya masing-masing dengan cara berlari tanpa menggunakan alas kaki.
”Jika kita melepas sepatu dan berlari, kita dapat memiliki kemampuan berpikir yang lebih cerdas setelah selesai berlari,” ujarnya seperti dikutip dari Sciencedaily, Rabu (4/12/2024).
Peningkatan kinerja kognitif atau kemampuan berpikir saat berlari tanpa alas kaki ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Saat berlari tanpa alas kaki, seseorang sering kali harus menghindari menginjak benda yang berpotensi melukai kaki. Seseorang juga akan menggunakan penempatan kaki yang tepat untuk menghindari cedera.
Pada saat inilah kinerja kognitif seseorang berfungsi karena mereka akan berlari sembari berpikir bagi keselamatan kakinya. Hal ini berbeda apabila seseorang berlari dengan sepatu karena mereka akan berpikir bahwa kakinya lebih terlindungi dari berbagai benda berbahaya sehingga mereka juga akan berlari tanpa mengamati jalur lintasan.
”Kondisi berlari tanpa alas kaki kemungkinan memerlukan penggunaan memori kerja yang lebih intensif karena tuntutan sentuhan dan proprioseptif (kemampuan tubuh untuk merasakan dan memahami posisi, gerakan, dan kekuatan otot) ekstra yang terkait dengan berlari tanpa alas kaki. Ini mungkin yang menjelaskan tentang peningkatan memori kerja seseorang ketika berlari tanpa alas kaki,” kata Ross Alloway.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/11/16/20201116ronA018_1605523309_jpg.jpg)
Apabila dilakukan dengan benar dan aman, berlari tanpa alas kaki secara signifikan juga dapat mengurangi risiko cedera karena menghasilkan perubahan signifikan pada pola langkah kaki seorang pelari. Hal ini terangkum dalam penelitian oleh para peneliti dari University of Granada, Spanyol, yang diterbitkan di Journal of Sport and Health Science tahun 2019.
Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti menghimpun data dari pengembangan program latihan 12 minggu berlari tanpa alas kaki dari para sukarelawan. Program latihan ini dirancang untuk menguji efek berlari tanpa alas kaki yang dihasilkan oleh setiap pelari.
Penelitian ini dilakukan terhadap 39 pelari sukarelawan yang mengikuti program latihan khusus dengan volume yang semakin meningkat di lintasan lapangan rumput. Latihan ini hanya didasarkan pada aspek lari secara terus-menerus, interval terpisah, dan lari cepat.
Setelah periode pelatihan, para peneliti menemukan bahwa atlet yang berlari tanpa alas kaki dapat menyesuaikan cara kaki mereka saat berlari. Berkat program pelatihan tersebut, pelari dengan pola entakan kaki belakang secara signifikan menyesuaikan pola entakannya ke kaki depan, baik pada kecepatan sedang maupun lebih tinggi.
Hasil penting lainnya dalam penelitian ini adalah yang berkaitan dengan risiko cedera. Para peneliti menemukan bahwa eversi (gerakan memiringkan telapak kaki ke arah luar) memiliki interval yang tetap konstan. Sementara rotasi kaki dan pergelangan kaki bervariasi antara peningkatan 5,5-13,8 persen dalam rotasi eksternal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/21/ec543a90-bafe-4b9a-a36b-404394aa667e_jpg.jpg)
Victor Manuel Soto Hermoso dari Departemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga University of Granada menjelaskan, sifat mekanis pada tungkai bawah dan gerakan transversal pergelangan kaki yang berlebihan berpotensi memicu cedera kronis bagi pelari.
”Jika dilakukan dengan benar, latihan berlari tanpa alas kaki dapat menghasilkan perubahan signifikan dalam tumpuan kaki. Terlepas dari kecepatan larinya, tumpuan kaki depan atau metatarsal cenderung meminimalkan puncak benturan sehingga menghasilkan risiko cedera yang lebih rendah,” tutur Viktor yang juga merupakan salah satu penulis penelitian tersebut.
Meskipun dapat mengurangi risiko cedera, peneliti mengimbau agar atlet tetap berhati-hati saat memulai latihan lari tanpa alas kaki. Peneliti merekomendasikan untuk melakukan studi multidisiplin tentang biomekanika sistem muskuloskeletal (sistem biologis yang terdiri dari tulang, otot, sendi, tulang rawan, ligamen, tendon, dan bursae), baik pada tingkat statis (podiatrik dan postural) maupun dinamis (gerakan ambulasi atau berjalan dan lari).
Para pakar di bidang ilmu olahraga dan kesehatan juga dapat merancang program pelatihan secara bertahap untuk memperkenalkan individu pada bentuk penggerak kaki. Program pelatihan ini dapat digunakan sesekali ataupun secara intensif bagi pelari profesional.
Penulis:
Pradipta PanduEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra