Bagaimana Arsenal Selamat Sendirian dari Periode Festival?

Fenomena unik Liga Inggris di awal tahun membawa tanda tanya besar. Apakah Arsenal hanya sedang beruntung atau justru tim-tim ”Enam Besar” lain yang terkena kutukan?

06 Jan 2026 08:00 WIB · Olahraga

AP Photo/Alastair Grant

Oleh Kelvin Hianusa

Muncul fenomena unik di awal tahun 2026. Tim-tim ”Enam Besar” Liga Inggris, kecuali Arsenal, tersandung bersama-sama. Mulai dari tim raksasa Manchester City sampai juara bertahan Liverpool gagal menang dalam dua laga awal setelah pergantian tahun. Uniknya, pemuncak klasemen Arsenal tampak baik-baik saja.

Tren itu seperti kutukan. Bagaimana tidak, City (versus Chelesa) dan Liverpool (versus Fulham) nyaris saja meraup tiga poin di laga pekan ke-20, Minggu (4/1/2026). Mereka hanya terpaut beberapa menit sebelum peluit panjang untuk menang, tetapi malah kebobolan gol di injury time. Mereka pun dipaksa puas dengan hasil imbang.

Itu adalah hasil imbang beruntun bagi City dan Liverpool. Keduanya juga gagal menang dalam laga di hari pertama 2026 saat menghadapi tim promosi. City ditahan Sunderland 0-0, sementara Liverpool diimbangi Leeds 0-0. Alhasil, empat poin hilang dari genggaman mereka hanya dalam rentang tiga hari.

Pelatih interim Chelsea Calum McFarlane (tengah) merayakan gol anak asuhnya ke gawang Manchester City dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Senin (6/1/2026). Gol yang dicetak Enzo Fernandez itu membuat Chelsea bisa pulang dari Stadion Etihad dengan satu poin. Chelsea menahan imbang City 1-1.

Apakah suasana euforia pesta perayaan pergantian tahun berpengaruh? Mungkin saja jika konteksnya adalah laga di pekan ke-19. Tidak sama halnya dengan pada akhir pekan lalu. Para pemain sudah kembali fokus penuh ke lapangan. Khususnya City dan Liverpool yang baru saja kehilangan poin. Alasan itu kurang relevan.

Menariknya, tiga tim ”Enam Besar” lain juga bernasib sama. Chelsea, Manchester United, dan Tottenham Hotspur hanya menghasilkan dua poin dari dua laga terakhir. Standar mereka menurun drastis. Padahal, di atas kertas, mereka bisa mendapat poin lebih. Contohnya MU yang melawan juru kunci klasemen Wolverhampton Wanderers.

Kegundahan Pep Guardiola, Manajer City, seusai versus Chelsea bisa sedikit menjelaskan fenomena itu. Saat ditanya soal cederanya duo Ruben Dias dan Josko Gvardiol di tengah laga, dia menjawab, ”Pastinya saya khawatir (dengan jumlah cedera). Apakah Anda melihat bangku cadangan kami hari ini?”

Guardiola merujuk ke tiga pemain akademi berusia 17 tahun di bangku cadangan, yaitu Ryan McAidoo, Reigan Heskey, dan Stephen Mfuni. City kekurangan pemain karena beberapa nama cedera, seperti John Stones dan Matteo Kovacic. Dua pemain lain sedang berlaga di Piala Afrika, yaitu Omar Marmoush dan Rayan Ait-Nouri.

Dampak keterbatasan pilihan, Guardiola tidak bisa melakukan rotasi yang optimal. Padahal, mereka membutuhkan penyegaran skuad untuk menghadapi puncak periode festival liga. Periode dengan jadwal terpadat dalam semusim itu dimulai dari 20 Desember hingga 4 Januari, di tengah libur Natal dan Tahun Baru. Ada empat laga dalam rentang 15 hari untuk setiap tim.

Klasemen klub "Enam Beasr" di periode festival Liga Inggris

Liverpool juga mengalami keterbatasan serupa. Jangankan soal pilihan di bangku cadangan, pelatih Arne Slot saja sudah pusing untuk memilih susunan terbaik dalam daftar starter. Khususnya di posisi striker, Liverpool harus memasang Cody Gakpo yang berposisi asli sebagai pemain sayap. Dua penyerang tengah tim, yakni Alexander Isak dan Hugo Ekitike, sedang cedera.

Slot sampai menjelaskan, filosofinya sama sekali tidak berubah jika dibandingkan dengan saat mengantar Liverpool juara liga musim lalu. ”Namun, kami harus menjalani (filosofi) itu dengan pemain yang tersedia. Kami punya 11 pemain sangat bagus di lapangan walaupun tidak semua bermain di posisi normal mereka,” katanya.

Tim-tim yang tidak memiliki skuad sedalam City dan Liverpool lebih kesulitan lagi. MU harus menghadapi jadwal padat dengan kehilangan dua pemain andalan di lini serang, yakni Bryan Mbeumo dan Bruno Fernandes. Chelsea menghadapi City tanpa empat pemain inti yang bertugas di lini pertahanan, antara lain Robert Sanchez dan Marc Cucurella.

Kekebalan Arsenal

Lantas, mengapa Arsenal bisa berbeda nasib? Bicara cedera, mereka merupakan salah satu tim tersial sejak awal musim. Nyaris seluruh skuad inti mereka sudah menepi akibat cedera. Mulai dari cedera yang kompak menerpa para penyerang dan para bek sudah dialami bertubi-tubi dalam separuh awal musim.

Beruntung, badai cedera itu sedikit mereda di puncak periode festival. Nyaris semua pemain telah kembali, kecuali bek Riccardo Calafiori dan Cristhian Mosquera. Padahal, Arsenal sempat kehilangan dua bek tengah inti, yakni Gabriel Magalhaes dan William Saliba, di awal Desember. Gelandang Declan Rice juga sempat diplot jadi bek sayap di laga versus Brighton, akhir Desember.

Gelandang Arsenal Declan Rice mencium kamera setelah mencetak gol ke gawang Bournemouth dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Vitality, Bournemouth, Inggris, Minggu (4/1/2026) WIB.  Rice menjadi pahlawan kemenangan Arsenal dengan sumbangan dua gol. Arsenal menang 3-2 atas Bournemouth.

Rotasi tim asuhan manajer Mikel Arteta terbilang sangat amat dalam dua laga terakhir, versus Aston Villa dan Bournemouth. Kemewahan skuad Arsenal terpancar saat menang di kandang Bournemouth, 3-2, Sabtu lalu. Bangku cadangan mereka diisi nama-nama besar, seperti Bukayo Saka dan Gabriel Jesus. Adapun Saka dimasukkan pada paruh kedua dan langsung menyumbang satu asis.

Menurut Arteta, ketersediaan pemain itu membantu Arsenal tetap berada dalam performa tertinggi di tengah rentetan jadwal sulit. ”Kami menginginkan performa, performa tertinggi, setiap tiga hari atau sepanjang pertandingan. Karena itu, kami butuh pemain terbaik yang juga sedang berada dalam kondisi terbaik,” katanya.

Menariknya, sapu bersih kemenangan selama periode festival bukanlah hal paling istimewa dari Arsenal. Keistimewaan Saka dan rekan-rekan terpancar sepanjang musim saat mampu menunjukkan konsistensi di tengah gangguan badai cedera. Itu yang membuat mereka berada di puncak klasemen dengan 48 poin, unggul enam poin dari pesaing terdekat City dan Aston Villa.

Kuncinya adalah skuad yang sangat dalam. Mereka tepat sasaran dalam mendatangkan delapan pemain di musim panas lalu, total 257 juta pound sterling (Rp 5,82 triliun). Berkat itu, Arteta punya pilihan dua pemain di setiap posisi dengan kualitas yang hampir sama. Di sisi sayap kanan, misalnya, terdapat Saka dan Noni Madueke yang sama-sama berstatus pemain tim nasional Inggris.

”Si Meriam”, julukan Arsenal, mendapatkan bonus tenaga dengan kembalinya Jesus setelah absen setahun lebih akibat cedera lutut. Jesus tidak direncanakan masuk dalam skuad musim ini, sempat ingin dilepas di jendela transfer Januari, tetapi ternyata bisa berkontribusi. Jesus menjadi pelapis untuk Viktor Gyokeres di posisi ujung tombak, mengisi peran Kai Havertz yang masih dalam tahap akhir pemulihan cedera.

Penyerang Arsenal Gabriel Jesus merayakan gol ke gawang Aston Villa dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Emirates, London, Inggris, Rabu (31/12/2025). Itu merupakan gol pertama Jesus untuk Arsenal setelah absen setahun lebih akibat cedera lutut. (AP photo/Alastair Grant)

Tidak ada pemain asal Afrika turut menjadi pembeda bagi Arsenal. Mereka tidak seperti mayoritas tim-tim ”Enam Besar” lain yang harus merelakan para pemain pergi di tengah periode festival. Adapun MU menjadi penyumbang terbanyak di Piala Afrila, tiga pemain, disusul City dan Tottenham (2) serta Liverpool (1).

Fenomena unik di awal tahun Liga Inggris jelas bukan kutukan ataupun sekadar keberuntungan belaka. Komposisi skuad yang lebih bagus memungkinkan hasil yang lebih baik. Kelebihan itu yang dimiliki Arsenal pada musim ini setelah belajar dari kesalahan di musim-musim sebelumnya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto