Isu perekrutan Rosenior sebagai pelatih baru Chelsea membawa segudang tanda tanya, termasuk dari dirinya di masa lalu. Mengapa Chelsea menjadikannya opsi utama?
03 Jan 2026 13:58 WIB · Olahraga
AFP
Siapakah Liam Rosenior? Nama itu tiba-tiba muncul ke permukaan sebagai kandidat terkuat pengganti Enzo Maresca sebagai pelatih kepala Chelsea. Dia mengalahkan nama-nama pelatih besar yang tersedia saat ini, seperti Gareth Southgate, Xavi Hernandez, dan Thiago Motta.
Rosenior, Pelatih RC Strasbourg, tak menampik rumor kepindahan ke Chelsea. ”Dalam hidup tidak ada jaminan sama sekali. Anda tidak tahu yang terjadi besok. Saya hanya melakukan tugas. Saya tidak mau menjamin berapa lama akan berada di sini,” katanya kepada L’Euqippe dalam konferensi pers menjelang laga pekan ke-17 Liga Perancis, Sabtu (3/1/2026).
Sang pelatih 41 tahun dikabarkan sudah sangat dekat untuk berlabuh ke Stadion Stamford Bridge, markas Chelsea. Kepindahan dari Strasbourg tidak akan sulit. Klub asal itu sudah berpindah kepemilikan ke BlueCo, sebuah konsorsium yang dipimpin pebisnis Amerika Serikat, Todd Boehly dan Behdad Eghbali. Keduanya juga berstatus pemilik Chelsea.
Walaupun dipengaruhi ”orang dalam”, Rosenior tidak akan dilirik jika tanpa alasan kuat, apalagi tim selanjutnya adalah Chelsea. Dia dinilai layak naik kelas karena label sebagai salah satu pelatih muda paling berbakat di Eropa saat ini. Kualitasnya terbukti dalam dua musim terakhir di Strasbourg yang berstatus skuad termuda di Liga Perancis.
Strasbourg berhasil mencapai peringkat ketujuh di musim debut Rosenior, 2024-2025. Peringkat itu berhasil dipertahankan hingga paruh musim ini. Sebelum kedatangan mantan bek Liga Inggris itu, Strasbourg selalu terjebak di luar posisi sepuluh besar. Mereka bahkan nyaris terdegradasi di musim 2022-2023.
”Sang pelatih sangat baik dalam memimpin ruang ganti yang berisi pemain muda. Dia juga berambisi besar, ingin kami lolos ke Liga Champions, ingin kami memenangi Piala Perancis, ingin kami memenangi Piala Konferensi Eropa,” kata Ben Chilwell, mantan bek sayap Chelsea yang baru bergabung dengan Strasbourg pada musim panas lalu, kepada BBC Sport.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/16/7405f6c1-9258-4811-ab1d-490891860bf9_jpg.jpg)
Jika melihat konteks nilai pasar skuad Strasbourg yang menempati urutan keempat tertinggi di liga, prestasi Rosenior terbilang tidak istimewa. Namun, tugasnya tidak semudah yang dibayangkan. Sang pelatih harus memimpin skuad dengan rerata usia 22,7 tahun. Hampir semua pemainnya belum terbiasa bersaing di level tertinggi.
Poin plus lain dari Rosenior adalah prinsip bermain elegan. Dia tidak punya formasi andalan spesifik, bisa menampilkan 4-2-3-1 ataupun 3-4-3 bergantian. Ciri khas permainannya baru terlihat saat Strasbourg membangun serangan. Dia menyukai kombinasi umpan-umpan pendek dari lini belakang untuk memulai serangan.
Ciri khas Rosenior tecermin dalam statistik. Strasbourg merupakan tim dengan jumlah umpan panjang paling sedikit di antara semua tim dari lima liga terbaik se-Eropa, hanya 511 kali. Barcelona yang terkenal dengan permainan tiki-taka bahkan mencatatkan umpan panjang lebih banyak, 598 kali.
Menariknya, tim asuhan Rosenior ternyata sama sekali tidak pasif. Strasbourg tetap bisa menghasilkan banyak peluang tanpa umpan langsung dari belakang ke depan. Terlihat dari jumlah umpan terobosan mereka, 55 kali, yang merupakan terbanyak di liga domestik.
Identitas saklek itu tentu datang dengan pertanyaan selanjutnya. Apakah Rosenior bisa beradaptasi di Liga Inggris yang lebih kompleks? Di Inggris, banyak pelatih mengubah gaya bermain karena semua tim berani tampil dengan pertahanan blok tinggi agresif. Manajer Manchester City Pep Guardiola saja sampai berkompromi dengan memperbanyak umpan panjang.
Terlepas dari itu, Rosenior menunjukkan gayanya akan cocok dengan klub besar seperti Chelsea. Dia menginginkan kontrol permainan dan kreativitas pada saat bersamaan. Ditambah dengan kemampuan menangani pemain muda, Rosenior tampak tidak terlalu berbeda dibandingkan Maresca.
Pengalaman Rosenior tidak sedikit untuk pelatih seusianya. Mantan pemain Brighton itu sudah pernah melatih dua klub di Inggris, tepatnya di divisi Championship, yaitu Derby County dan Hull City. Dia menjadi pelatih interim di Derby terlebih dulu, lalu memimpin Hull selama dua musim.
Masalahnya, pelatih kelahiran London tersebut tidak punya pengalaman memimpin tim besar atau yang bermain di divisi tertinggi Liga Inggris. Seperti diketahui, tekanan terhadap tim-tim papan atas Liga Inggris itu berbeda. Mulai dari pendukung, pemain, sampai media, menjadikan tantangan lebih kompleks.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/09/bc237c38-fd48-46f0-96d5-daa0edcf7b08_jpg.jpg)
Pelatih baru datang, lalu ingin pemain ini dan itu. Semua tidak akan langsung bekerja, pasti ada momen sulit untuk sukses dalam jangka panjang.
Maresca mungkin mirip dengan Rosenior. Dia datang ke Chelsea hanya setelah mengantar tim divisi kedua Leicester City untuk promosi. Bedanya, Maresca sudah pernah mencicipi atmosfer tim besar ketika menjadi asisten dari Guardiola di City. Dia belajar banyak selama setahun, sebelum bergabung dengan Leicester.
Pelatih asli Inggris Graham Potter merasakan sendiri betapa sulit menangani tim besar. Dia melatih Chelsea setelah memimpin Brighton yang sebenarnya masuk kategori tim papan tengah ke atas. Namun, Potter hanya mampu bertahan kurang dari tujuh bulan sebelum dipecat pada April 2023.
Tantangan terberat akan datang dari tubuh Chelsea sendiri. Rosenior mungkin sudah mengenal Boehly dan Eghbali lewat kerja sama di Strasbourg. Meskipun begitu, tuntutan di Chelsea akan berbeda. Dia tidak lagi hanya ditugaskan untuk mengorbitkan para pemain muda, termasuk menampung pemain ”buangan” Chelsea, seperti di Strasbourg.
Di Chelsea, tugasnya menjadi berlipat. Rosenior pasti diminta meningkatkan nilai dari para pemain muda yang telah diinvestasikan oleh klub. Saat bersamaan, dia juga dituntut selalu mendapatkan hasil positif untuk menjaga level ”Si Biru” sebagai tim papan atas. Belum ada pelatih yang berhasil selamat dari jebakan ekspektasi di bawah kepemilikan Boehly.
Video lama Rosenior muncul di tengah rumor kepindahan. Dia pernah berkomentar soal Chelsea di acara Sky Sports, The Debate, pada 2019. Ketika itu, Chelsea baru mengganti pelatih dari Antonio Conte ke Maurizio Sarri. Rosenior menekankan pentingnya waktu dan ruang gerak agar pelatih bisa bersinar.
”Pelatih baru datang, lalu ingin pemain ini dan itu. Semua tidak akan langsung bekerja, pasti ada momen sulit untuk sukses dalam jangka panjang. Dukungan dewan direksi pun bukan hanya soal anggaran. Sejarah klub menunjukkan, jika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan, mereka langsung mengganti pelatih,” jelas mantan pemain tim nasional Inggris U-21 itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/12/fff8bd57-22ca-4df9-844e-45242d26d22d_jpg.jpg)
Sebagai konteks, Chelsea masih berada di bawah kepemilikan taipan Rusia Roman Abramovich ketika itu. Sekarang, mereka berada dalam fase lebih gelap di bawah pengaruh Boehly dan Eghbali. ”Si Biru” sudah memiliki enam pelatih dalam tiga setengah tahun terakhir.
Uniknya, nasihat Rosenior semakin relevan untuk situasi Chelsea saat ini. Maresca terdepak karena hubungan kurang baik dengan para petinggi klub. Maresca tidak didukung penuh dalam pembelian pemain ataupun penentuan skuad. Semua problem yang dikritik Rosenior di era Abramovich terjadi berlipat-lipat lebih parah di era kepemilikan terbaru saat ini.
Dalam film ternama Indonesia, Sore: Istri dari Masa Depan, terdapat seorang istri yang datang dari masa depan untuk mengubah takdir suaminya. Dia kembali ke masa lalu ribuan kali agar sang suami tidak meninggal di usia muda. Pada akhirnya, cinta yang begitu besar bisa merusak teori takdir.
Nuansa dalam film itu terasa dalam situasi Rosenior saat ini. Rosenior seperti kembali ke masa lalu, saat tampil di acara Sky Sports, untuk menasihati dirinya sendiri. Dia seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan jika mengambil pekerjaan bersama Chelsea. Pertanyaannya, apakah dia akan mendengarkan perkataan diri sendiri di 2019 tersebut? (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji