Bagaimana Elektabilitas Calon di Pilkada Jakarta, Jateng, Sumut, menurut Litbang Kompas?
Mulai Senin hingga Rabu, 4-6 November 2024, Litbang Kompas.id akan merilis hasil survei Pilkada Jakarta, Jateng, dan Sumut di harian Kompas (Kompas.id).
JAKARTA, KOMPAS — Sepanjang Senin-Rabu, 4-6 November 2024, Litbang Kompas akan merilis hasil survei Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2024, khususnya untuk Pilkada Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, di harian Kompas (Kompas.id).
Survei yang dilakukan dalam rentang Oktober 2024 itu menemukan persaingan ketat yang terjadi di Jakarta dan Jawa Tengah.
Survei juga menunjukkan bahwa faktor dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih menjadi faktor penting yang bisa mengubah konstelasi politik sebulan menjelang pemungutan suara pada 27 November mendatang.
Survei Litbang Kompas mengenai persaingan antarcalon kepala daerah di Jakarta, Jawa Tengah (Jateng), dan Sumatera Utara (Sumut), diselenggarakan secara terpisah dalam rentang waktu dari 15-30 Oktober 2024. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 1.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat.
Adapun tingkat kepercayaan survei, yang dibiayai sepenuhnya oleh PT Kompas Media Nusantara ini, mencapai 95 persen, sedangkan margin of error plus minus 3,2 persen.
General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristanto menjelaskan, survei Pilkada Jakarta, Jateng, dan Sumut dilakukan karena ada kecenderungan persaingan sengit di tiga daerah tersebut.
Merujuk hasil survei Kompas yang dilakukan sebelumnya, tingkat elektabilitas para pasangan calon yang berkontestasi di tiga provinsi itu tak terpaut jauh. Dengan begitu, diperkirakan bahwa situasi politik di Jakarta, Jateng, dan Sumut akan lebih dinamis dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki pasangan kandidat yang sudah dominan.
”Ketiga daerah ini juga kami pilih karena kami akan mengadakan quick count (hitung cepat hasil Pilkada 2024). Sebelum quick count, kami melakukan survei untuk melihat posisi setiap pasangan kandidat,” kata Kristanto, di Jakarta, Minggu (3/11/2024).
Ia melanjutkan, berdasarkan survei tersebut, ditemukan bahwa persaingan antarcalon kepala daerah di Jakarta dan Jateng berlangsung sengit. Di Pilkada Jateng, tingkat elektabilitas pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang diusung PDI Perjuangan seimbang dengan pasangan yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus, Ahmad Luthfi-Tan Yasin Maimoen.
Begitu pula di Jakarta. Dari tiga pasangan calon yang akan berkontestasi, dua di antaranya memiliki tingkat elektabilitas yang seimbang. Kedua pasangan dimaksud adalah Ridwan Kamil-Suswono dan Pramono Anung-Rano Karno. Adapun pasangan lainnya, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, masih tertinggal jauh dari kedua pasangan lawannya.
”Kekuatannya berimbang, perbedaan elektabilitasnya masuk dalam rentang margin of error,” ungkap Kristanto.
Dalam kondisi tersebut, menurut dia, ada beberapa faktor yang bisa mengubah situasi dalam waktu kurang dari sebulan menjelang hari pemungutan suara pada 27 November mendatang.
Salah satunya adalah dukungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ketujuh RI Joko Widodo. Survei menunjukkan, dukungan Prabowo dan Jokowi masih jadi pertimbangan pemilih dalam mengambil keputusan, baik di Jakarta, Jateng, maupun Sumut.
Oleh karena itu, ia memprediksi, ke depan pertarungan antarkepala daerah akan berfokus pada persaingan mendapatkan dukungan dari Prabowo dan Jokowi. Tidak mengherankan jika para kandidat pun telah memulai langkah itu. Contohnya, Ridwan Kamil yang menemui Prabowo dan Jokowi secara terpisah pada Kamis (31/10/2024) dan Jumat (1/11/2024).
Sekalipun demikian, kata Kristanto, dukungan yang dimaksud bukan sekadar melalui media massa. Baik Jokowi maupun Prabowo harus bergerak langsung ke masyarakat.
”Dukungannya akan berpengaruh kalau sampai ikut sosialisasi sampai ke level bawah masyarakat. Kalau hanya endorse di media itu tidak bisa menendang,” katanya.
Selain dukungan dari para tokoh politik nasional, Kristanto melanjutkan, hal lain yang bisa memengaruhi peta politik ke depan adalah bantuan materiil yang diberikan langsung kepada masyarakat.
Tak hanya itu, kasus korupsi yang melibatkan mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong juga bisa berpengaruh terhadap kandidat yang diasosiasikan dengan tokoh tersebut.
Kompas mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
JAKARTA, KOMPAS — Sepanjang Senin-Rabu, 4-6 November 2024, Litbang Kompas akan merilis hasil survei Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2024, khususnya untuk Pilkada Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, di harian Kompas (Kompas.id).
Survei yang dilakukan dalam rentang Oktober 2024 itu menemukan persaingan ketat yang terjadi di Jakarta dan Jawa Tengah.
Survei juga menunjukkan bahwa faktor dukungan dari Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih menjadi faktor penting yang bisa mengubah konstelasi politik sebulan menjelang pemungutan suara pada 27 November mendatang.
Survei Litbang Kompas mengenai persaingan antarcalon kepala daerah di Jakarta, Jawa Tengah (Jateng), dan Sumatera Utara (Sumut), diselenggarakan secara terpisah dalam rentang waktu dari 15-30 Oktober 2024. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 1.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat.
Adapun tingkat kepercayaan survei, yang dibiayai sepenuhnya oleh PT Kompas Media Nusantara ini, mencapai 95 persen, sedangkan margin of error plus minus 3,2 persen.
General Manager Litbang Kompas Ignatius Kristanto menjelaskan, survei Pilkada Jakarta, Jateng, dan Sumut dilakukan karena ada kecenderungan persaingan sengit di tiga daerah tersebut.
Merujuk hasil survei Kompas yang dilakukan sebelumnya, tingkat elektabilitas para pasangan calon yang berkontestasi di tiga provinsi itu tak terpaut jauh. Dengan begitu, diperkirakan bahwa situasi politik di Jakarta, Jateng, dan Sumut akan lebih dinamis dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki pasangan kandidat yang sudah dominan.
”Ketiga daerah ini juga kami pilih karena kami akan mengadakan quick count (hitung cepat hasil Pilkada 2024). Sebelum quick count, kami melakukan survei untuk melihat posisi setiap pasangan kandidat,” kata Kristanto, di Jakarta, Minggu (3/11/2024).
Ia melanjutkan, berdasarkan survei tersebut, ditemukan bahwa persaingan antarcalon kepala daerah di Jakarta dan Jateng berlangsung sengit. Di Pilkada Jateng, tingkat elektabilitas pasangan Andika Perkasa-Hendrar Prihadi yang diusung PDI Perjuangan seimbang dengan pasangan yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus, Ahmad Luthfi-Tan Yasin Maimoen.
Serial Artikel
Survei Litbang ”Kompas”: Andika Unggul Tipis dari Luthfi dalam "Margin of Error"
Kekuatan sosok, karakter, dan latar belakang membentuk elektabilitas calon gubernur Jawa Tengah di tengah kondisi mayoritas pemilih yang masih menimbang-nimbang.
Begitu pula di Jakarta. Dari tiga pasangan calon yang akan berkontestasi, dua di antaranya memiliki tingkat elektabilitas yang seimbang. Kedua pasangan dimaksud adalah Ridwan Kamil-Suswono dan Pramono Anung-Rano Karno. Adapun pasangan lainnya, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, masih tertinggal jauh dari kedua pasangan lawannya.
”Kekuatannya berimbang, perbedaan elektabilitasnya masuk dalam rentang margin of error,” ungkap Kristanto.
Serial Artikel
Survei Litbang ”Kompas” Pilkada Jakarta 2024: Ridwan Kamil dan Pramono Bersaing Ketat
Persaingan antara Ridwan Kamil-Suswono dan Pramono-Rano Karno makin kompetitif di Pilkada Jakarta. Pilkada Jakarta kali ini tanpa persaingan isu identitas sosial.
Dalam kondisi tersebut, menurut dia, ada beberapa faktor yang bisa mengubah situasi dalam waktu kurang dari sebulan menjelang hari pemungutan suara pada 27 November mendatang.
Salah satunya adalah dukungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ketujuh RI Joko Widodo. Survei menunjukkan, dukungan Prabowo dan Jokowi masih jadi pertimbangan pemilih dalam mengambil keputusan, baik di Jakarta, Jateng, maupun Sumut.
Oleh karena itu, ia memprediksi, ke depan pertarungan antarkepala daerah akan berfokus pada persaingan mendapatkan dukungan dari Prabowo dan Jokowi. Tidak mengherankan jika para kandidat pun telah memulai langkah itu. Contohnya, Ridwan Kamil yang menemui Prabowo dan Jokowi secara terpisah pada Kamis (31/10/2024) dan Jumat (1/11/2024).
Serial Artikel
Survei Litbang "Kompas": Elektabilitas Bobby Surya Tinggalkan Edy-Hasan
Selisih potensi keterpilihan antara dua pasangan calon di pilkada Sumut relatif lebar. Akankah menjadi gambaran kontestasi saat 27 November 2024 nanti?
Sekalipun demikian, kata Kristanto, dukungan yang dimaksud bukan sekadar melalui media massa. Baik Jokowi maupun Prabowo harus bergerak langsung ke masyarakat.
”Dukungannya akan berpengaruh kalau sampai ikut sosialisasi sampai ke level bawah masyarakat. Kalau hanya endorse di media itu tidak bisa menendang,” katanya.
Selain dukungan dari para tokoh politik nasional, Kristanto melanjutkan, hal lain yang bisa memengaruhi peta politik ke depan adalah bantuan materiil yang diberikan langsung kepada masyarakat.
Tak hanya itu, kasus korupsi yang melibatkan mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong juga bisa berpengaruh terhadap kandidat yang diasosiasikan dengan tokoh tersebut.
Kompas mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.