Kompas.id Brief

Bagaimana Masa Depan Real Madrid Bersama Xabi Alonso?

Xabi Alonso adalah pilihan tepat Real Madrid untuk pelatih baru menggantikan Carlo Ancelotti. Serupa Real, Alonso kental dengan ”DNA” juara. Seperti apa?

14 Mei 2025 15:00 WIB · Olahraga

Oleh Yulvianus Harjono

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa ada nuansa Barcelona dalam wajah baru Real Madrid bersama Alonso?
  2. Bagaimana proses kepindahan Alonso ke Real Madrid?
  3. Apakah Trent Alexander-Arnold bakal menjadi nilai tambah atau justru titik lemah Real Madrid?
  4. Bagaimana nasib pelatih Real Madrid saat ini, Carlo Ancelotti?

Klub raksasa Spanyol sekaligus tersukses di Eropa, Real Madrid, hampir dipastikan merekrut mantan pemain mereka, Xabi Alonso, sebagai pelatih baru. Kepastian itu kian dekat setelah pelatih mereka saat ini, Carlo Ancelotti, resmi ditunjuk menjadi pelatih tim nasional sepak bola Brasil, Selasa (13/5/2025) waktu Indonesia.

Sejumlah media menyebutkan, Real tidak akan menunggu waktu lama untuk mengumumkan Alonso sebagai pelatih baru menggantikan Ancelotti. Alonso, pelatih Bayer Leverkusen, diharapkan bisa mulai memimpin ”Los Blancos” pada kejuaraan baru empat tahunan, Piala Dunia Antarklub 2025. Ajang yang diikuti 32 klub terbaik dunia dari enam konfederasi itu akan digelar di Amerika Serikat pada 14 Juni-13 Juli mendatang.

Format ajang itu menyerupai Piala Dunia FIFA sebelum diekspansi menjadi 48 dari 32 tim mulai 2026. Sebagai ”raja” Eropa pengoleksi 15 gelar Liga Champions Eropa, Real berambisi menjadi juara di edisi inaugurasi Piala Dunia Antarklub itu.

Ajang itu sekaligus bisa menjadi perkenalan era baru Real bersama Alonso, pria kelahiran Spanyol yang pernah menjadi penggawa Los Blancos pada 2009-2014. Sebagai pemain, ia pernah dua kali mengangkat ”Si Kuping Lebar”, julukan trofi Liga Champions Eropa, yaitu bersama Liverpool (2005) dan Real Madrid (2014).

Trofi Piala Dunia FIFA juga pernah diraihnya bersama Spanyol pada 2010 silam. Belum lagi, sederetan gelar juara domestik. Hampir di setiap klub yang disinggahinya selama menjadi pemain, Alonso meninggalkan jejak juara. Ia pernah menjuarai Piala FA bersama Liverpool, juara Liga Spanyol dan Piala Spanyol dengan Real, dan meraih hattrick atau tiga gelar juara beruntun di Liga Jerman bersama Bayern Muenchen.

Maka, bisa dipastikan, ”DNA” juara begitu melekat pada dirinya. Hal itu selaras dengan Real yang juga dikenal memiliki tradisi kuat juara, baik di Spanyol, Eropa, maupun dunia. Namun, semusim terakhir, tradisi itu luntur. Untuk pertama kali dalam setengah dekade, Real hampa gelar mayor. Trofi Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental menjadi pelipur lara mereka.

Terakhir kali sebelumnya Real paceklik gelar adalah pada musim 2020-2021. Pada saat itu, mereka hanya finis kedua di Liga Spanyol dan terhenti di semifinal pada Liga Champions. Kondisi itu pun mengakhiri rezim Real bersama Zinedine Zidane, pelatih yang memberikan dua gelar juara Liga Spanyol dan tiga trofi Liga Champions.

Menyerupai Zidane

Setali tiga uang, rezim baru kini dimulai di Real. Bukan tanpa alasan mereka berani merekrut Alonso yang tergolong pelatih muda, yaitu 43 tahun. Mereka butuh penyegaran, seperti saat merekrut Zidane untuk pertama kali pada 2016 silam. Pada saat itu, Zidane juga berusia 43 tahun.        

Alonso juga bukan pelatih ”ingusan”. Meskipun pengalamannya belum banyak, ia terbukti sukses menjadi pelatih. Pada musim keduanya sebagai pelatih di Jerman, yaitu 2023-2024, ia membawa Leverkusen menjuarai Liga Jerman untuk kali pertama sepanjang sejarah klub itu. Hegemoni Bayern Muenchen pun diruntuhkannya dengan tambahan koleksi trofi Piala Liga Jerman dan Piala Super Jerman.

Di ajang kontinental, ia bahkan membawa Leverkusen ke final Liga Europa. Namun, saat itu, ia dan timnya dikalahkan Atalanta, 0-3, pada partai puncak. Yang menakjubkan, Leverkusen bersama Alonso mengukir sejarah sebagai satu-satunya juara yang tak terkalahkan semusim di Liga Jerman. Mereka juga mencatatkan 51 laga tak terkalahkan di sejumlah ajang, melewati rekor Benfica (Portugal) dengan 48 laga pada 1963-1965.

Capaian mentereng Alonso itu bisa menjadi modal bagus Real untuk setidaknya menghidupkan kembali persaingan di Spanyol dengan rival abadinya, Barcelona FC, yang tengah membangun ulang kejayaan bersama pelatih barunya, Hansi Flick.

  

Mengapa ada nuansa Barcelona dalam wajah baru Real Madrid bersama Alonso?

copy title

Xabi Alonso, kandidat terkuat pelatih baru Real Madrid, akan meruntuhkan batasan rivalitas antara Los Blancos dengan Barcelona. Jika resmi ditunjuk, ia akan membawa serta tiga asistennya di Bayer Leverkusen. Dua asisten di antaranya pernah menjadi anggota staf pelatih di tim muda Barca.

Menurut Marca, Alonso yang akan mulai bekerja di Stadion Santiago Bernabeu per 1 Juni 2025 hadir satu paket dengan tiga asistennya, yaitu Sebastian Parrilla, Alberto Encinas, dan Ismael Camenforte Lopez. Parrilla adalah tangan kanan Alonso. Mereka telah bertemu sejak Alonso masih bermain di Real Madrid pada periode 2009 hingga 2014.

Alonso mulai mengajak Parrilla untuk posisi teknis ketika menangani Real Sociedad B pada 2019-2022. Ketika Alonso dikontrak Leverkusen per Oktober 2022, Parrilla adalah sosok yang dipercaya Alonso untuk menggantikannya di sisi lapangan saat Alonso menerima hukuman larangan mendampingi anak asuhannya.

Pelatih Bayer Leverkusen Xabi Alonso mengangkat trofi setelah timnya menjuarai Liga Jerman atau Bundesliga, Sabtu (18/5/2024).

Adapun Encinas dan Lopez adalah sosok yang memiliki pengalaman kental dengan Barca. Meskipun datang ke Madrid dengan pengalaman membantu Alonso mempersembahkan tiga trofi untuk Leverkusen, keduanya memulai karier kepelatihan di La Masia, akademi milik Barca.

Kemampuan taktik yang dimiliki Parrilla dan Encinas amat membantu Alonso selama di Leverkusen. Parrilla dan Encinas juga membantu Alonso mengamati pemain-pemain muda dari akademi Leverkusen. Adapun Lopez adalah kepala metodologi latihan fisik Leverkusen. Ia memulai karier kepelatihan sebagai pelatih fisik tim B Barca pada 2007.

”Alonso dipastikan membawa tiga pembantunya di Bayer Leverkusen itu, yang telah membantunya menciptakan prestasi bersejarah di Jerman,” tulis Marca edisi Selasa (13/5/2025).

Bagaimana proses kepindahan Alonso ke Real Madrid?

copy title

Beberapa waktu lalu, Xabi Alonso mengadakan pertemuan dengan Chief Executive Officer Leverkusen Fernando Carro dan Direktur Olahraga Simon Rolfes. Dalam pertemuan itu, Alonso diyakini telah menyatakan keputusannya untuk meninggalkan klub Jerman itu.

”Ini adalah saat yang tepat untuk mengumumkannya karena kami selalu memiliki komunikasi yang baik dengan klub. Saya berbicara dengan para pemain dan staf. Itu tidak mudah,” kata Alonso.

Pelatih Bayer Leverkusen Xabi Alonso menghadiri jumpa pers di Leverkusen, Jerman, Jumat (9/5/2025). Alonso mengungkapkan akan pergi dari Leverkusen dan pindah ke klub lain.

Capaian Alonso bersama Leverkusen, yaitu tiga gelar pada musim lalu, membuat Real tertarik menjadikannya suksesor Carlo Ancelotti. Sejak musim lalu, isu kepindahan Alonso ke Real terus berembus, tetapi tidak kunjung menjadi kenyataan. Alonso memilih bertahan bersama Leverkusen dengan harapan bisa mengulangi kejayaan seperti musim lalu.

Akan tetapi, kedigdayaan Leverkusen bersama Alonso terhenti musim ini. Leverkusen gagal memutus dominasi Bayern Muenchen dan harus puas berada di peringkat kedua liga itu. Alonso kembali tidak berkutik di hadapan Bayern dengan agregat 0-5 pada babak 16 besar Liga Champions Eropa. Pada ajang DFB Pokal, Leverkusen pun tersingkir di babak semifinal oleh Arminia Bielefeld.

Meskipun gagal mengulangi pencapaian impresif musim lalu, Alonso sebetulnya masih dibutuhkan Leverkusen. Apalagi, kontraknya masih tersisa hingga Juni 2026. Hanya, Alonso merasa petualangannya bersama Leverkusen sudah cukup.

”Kami memiliki hubungan yang hebat dan itulah kuncinya. Saya ingin mengucapkan selamat tinggal yang pantas,” ujarnya, mengisyaratkan kian dekatnya dia dengan pintu keluar menuju Real Madrid.

Apakah Trent Alexander-Arnold bakal menjadi nilai tambah atau justru titik lemah Real Madrid?

copy title

Trent Alexander-Arnold digadang-gadang menjadi salah satu pemain baru untuk Real Madrid pada musim depan. Ia telah berpamitan dengan suporter dan klubnya saat ini, Liverpool FC.

Bek 26 tahun itu ingin mencari tantangan baru setelah bermain sebanyak 352 kali serta menyumbang dua gelar Liga Inggris dan satu trofi Liga Champions untuk ”Si Merah”. Alexander-Arnold memang salah satu bek sayap kanan terbaik di dunia saat ini.

Cara bermainnya dinilai sangat cocok dengan gaya dan pendekatan taktik Xabi Alonso, kandidat terkuat pelatih baru Real Madrid yang menggemari pakem formasi 3-5-2. Dalam sistem ini, tugas utama kedua bek sayap, seperti Alexander-Arnold, adalah membantu serangan.

Pemain Liverpool Trent Alexander-Arnold bersiap melakukan tendangan pojok pada laga Liga Inggris melawan Ipswich Town di Stadion Portman Road, Ipswich, Sabtu (17/8/2024).

Adapun tugas bertahan diserahkan kepada tiga bek tengah. Alexander-Arnold terlihat cocok memainkan peran seperti dijalani bek sayap Leverkusen, Jeremie Frimpong.

Maka, Alexander-Arnold bisa menyelesaikan kekurangan Real di sisi ofensif sayap pada musim ini, seperti terlihat ketika mereka kalah dari Arsenal pada laga kedua perempat final Liga Champions Eropa musim ini. Real bisa mengoptimalkan keunggulan sang bek sayap, yaitu kecepatan dan umpan akurat.

Alexander-Arnold tercatat sebagai pengumpan silang andal. Dia masuk dalam daftar sepuluh pemain dengan umpan silang terbanyak di Liga Inggris. Selain itu, bek kelahiran kota Liverpool itu juga piawai dalam memberikan umpan-umpan jauh yang bisa memanjakan duo penyerang Real, Kylian Mbappe dan Vinicius Jr.

Namun, di sisi lain, sebagai pemain bertahan, dia selalu dikritik karena kurang disiplin dalam menjaga lawan. Menurut Whoscored, Alexander-Arnold telah dilewati sebanyak 55 kali di Liga Inggris musim ini. Jumlah itu merupakan yang terbanyak di antara para pemain bertahan di lima liga terbesar Eropa.

Bagaimana nasib pelatih Real Madrid saat ini, Carlo Ancelotti?

copy title

Setelah melakukan berbagai pendekatan selama tiga tahun, seusai Piala Dunia Qatar 2022, timnas Brasil akhirnya bisa menggaet Carlo Ancelotti sebagai pelatih baru ”Selecao”. Kepastian Ancelotti akan melatih timnas Brasil diumumkan Federasi Sepak Bola Brasil atau CBF pada Selasa (13/5/2025) WIB.

”Membawa Carlo Ancelotti untuk melatih Brasil lebih dari sekadar gerakan strategis. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa kami bertekad untuk merebut kembali posisi puncak,” kata Presiden CBF Ednaldo Rodrigues.

Pelatih Real Madrid Carlo Ancelotti berpose dengan trofi Pelatih Terbaik FIFA 2024 dalam seremoni yang digelar badan sepak bola dunia itu di Doha, Qatar, Rabu (18/12/2024) dini hari WIB.

”Dia adalah pelatih terhebat dalam sejarah dan, sekarang, dia akan bersama tim nasional terhebat di planet ini. Bersama-sama, kami akan menulis babak baru yang gemilang dalam sepak bola Brasil,” ucap Rodrigues kemudian.

Ancelotti akan mulai melatih pada 25 Mei setelah Liga Spanyol berakhir. Pelatih yang saat ini masih menangani Real Madrid itu diharapkan segera memilih para pemain yang akan dibawa untuk menghadapi Ekuador dan Paraguay pada 5 Juni dan 10 Juni 2025 dalam laga babak kualifikasi Piala Dunia 2026.

Tugas Ancelotti kali ini sangat berat karena harus membangkitkan timnas Brasil yang sedang terseok-seok di babak kualifikasi Piala Dunia 2026 seusai kalah 1-4 dari Argentina, 25 Maret lalu.

Ancelotti tidak hanya bertugas meloloskan Brasil ke babak utama Piala Dunia 2026, tetapi juga membawa Selecao menjadi juara Piala Dunia lagi. Trofi Piala Dunia sudah tidak pernah dipegang Brasil sejak terakhir kali direbut pada Piala Dunia 2002 silam.

Zico, mantan pemain timnas Brasil, mengatakan, Ancelotti merupakan pelatih yang bakal dihormati para pemain timnas Brasil karena memiliki prestasi yang luar biasa sebagai pemain dan pelatih. Pelatih berpaspor Italia itu pernah membawa timnya menjuarai Liga Champions Eropa, baik sebagai pemain maupun pelatih.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti