Trent Alexander-Arnold sering kali menjadi pedang bermata dua. Dia bisa melukai tim lawan sekaligus tim sendiri. Kepindahan ke Real Madrid memunculkan tanda tanya.
06 Mei 2025 07:58 WIB · Olahraga
Bek sayap Trent Alexander-Arnold telah dipastikan hengkang dari Liverpool pada akhir musim. Ucapan perpisahan penuh haru telah disampaikan. Ada penggemar yang bisa merelakan dan ada yang masih kesal. Apa pun reaksi dari orang luar, keputusannya sudah bulat saat ini dan tidak bisa diubah.
Alexander-Arnold akan berlabuh ke Real Madrid pada musim depan. Dia menuju klub yang dikenal sebagai galaksi tempat berkumpul bintang-bintang sepak bola. Liverpool memang tim impian masa kecil Alexander-Arnold. Namun, bocah kecil di dalam dirinya telah berevolusi, termasuk mimpinya.
Bek 26 tahun itu ingin mencari tantangan baru setelah bermain sebanyak 352 kali serta menyumbang dua gelar Liga Inggris dan satu trofi Liga Champions untuk ”Si Merah”. Oleh karena itu, alih-alih mempertanyakan kepantasan Alexander-Arnold pergi, pembahasan tentang masa depannya lebih menarik.
Alexander-Arnold memang merupakan salah satu bek sayap kanan terbaik di dunia saat ini. Namun, sebagai pemain bertahan, dia selalu dikritik karena kemampuan kurang baik dalam menjaga lawan. Apakah dampak dari titik lemah itu bisa dimaklumi di Madrid, seperti yang dilakukan Liverpool?
Menurut Whoscored, Alexander-Arnold telah dilewati sebanyak 55 kali di Liga Inggris musim ini. Jumlah itu merupakan yang terbanyak di antara para pemain bertahan di lima liga terbesar Eropa. Saking lesu ketika bertahan, dia sampai beberapa kali diteriaki oleh kapten Liverpool, Virgil van Dijk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/9d50bce4e9f532a069aa0df541ff46ea-cropped_image.jpg)
Liverpool bisa mengatasi kelemahan itu dengan berkompromi dalam pendekatan taktik. Bek Ibrahima Konate dan para gelandang punya tugas lebih menutupi lubang di sisi kanan pertahanan. Walaupun terkadang masih bisa diekspos lawan, cara itu masih menjadi yang terbaik.
Masalahnya, Madrid berbeda dengan Liverpool. Mereka sudah memiliki problem tersendiri dengan bertahan dalam sistem saat ini. Tim asuhan pelatih Carlo Ancelotti itu beberapa kali kalah dalam laga besar karena struktur pertahanan yang berlubang di berbagai sisi.
Thierry Henry, penyerang legendaris timnas Perancis, membedah masalah terbesar Madrid pada April lalu. Problem terletak di tiga pemain lini depan, yaitu Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Rodrygo. Menurut Henry, mereka merupakan penyebab kegagalan Madrid di Liga Champions musim ini.
Ketiganya masuk dalam daftar lima pemain dengan daya jelajah terendah per 90 menit. ”Sering kali, pemain terbaik Anda masuk dalam daftar itu, tetapi ini ada tiga pemain dari satu tim? Itu terlalu banyak menurut saya dan berhubungan dengan keseimbangan tim,” kata Henry di acara CBS Sport.
Di era sepak bola modern saat ini, pertahanan selalu dimulai dari pemain depan. Mereka bertanggung jawab menekan saat kehilangan bola, menutup ruang umpan tim lawan ke lini tengah. Hal itu tidak terlihat di Madrid, terutama sejak kedatangan Mbappe pada musim panas lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/bf655baeffb5735618074bba3e62fd8e-FBL_ESP_CUP_REAL_SOCIEDAD_REAL_MADRID_128681217.jpg)
Sulit membayangkan Madrid untuk harus menutup lubang Alexander-Arnold. Mereka memiliki problem yang sudah cukup kompleks di sistem saat ini. Gelandang tim, seperti Jude Bellingham dan Federico Valverde, sudah kerepotan menambal celah yang ditinggalkan para penyerang.
Menariknya, Ancelotti hampir pasti tidak akan memimpin Madrid pada musim depan. Pelatih baru akan datang dengan membawa sistem baru. Itu membawa harapan besar untuk Alexander-Arnold. Apalagi sosok yang diincar Madrid adalah Pelatih Bayer Leverkusen Xabi Alonso.
Alonso terkenal dengan formasi 3-5-2 di Leverkusen. Di sistem ini, tugas utama kedua bek sayap adalah membantu serangan. Tugas bertahan diserahkan ke tiga bek tengah. Alexander-Arnold terlihat cocok memainkan peran seperti bek sayap Leverkusen, Jeremie Frimpong.
Terlepas dari kelemahan di pertahanan, kualitas Alexander-Arnold dalam menyerang terlalu mubazir untuk dilewatkan Madrid. Dia bisa menyelesaikan kekurangan Madrid di sisi ofensif musim ini, seperti yang terlihat ketika mereka kalah dari Arsenal pada laga kedua perempat final Liga Champions.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/31/4d207e39-9934-4732-a93d-79c71305b68e_jpg.jpg)
Mbappe dan rekan-rekan frustrasi ketika itu karena pertahanan ketat tim lawan. Mereka hanya bisa mengandalkan umpan silang yang dilakukan sebanyak 42 kali. Mirisnya, hanya tujuh umpan yang menemui sasaran. Umpan itu akan lebih efisien jika ada Alexander-Arnold.
Alexander-Arnold tercatat sebagai pengumpan silang andal. Dia masuk dalam daftar sepuluh pemain dengan umpan silang terbanyak di Liga Inggris. Selain itu, bek kelahiran kota Liverpool itu juga piawai dalam memberikan umpan-umpan panjang. Itu akan memanjakan Mbappe dan Vinicius.
Nilai tambah di sisi serangan itu tecermin dari jumlah asis Alexander-Arnold yang mencapai 64 kali di liga domestik. Tidak ada bek lain yang bisa mencapai jumlah 60 asis dalam catatan di lima liga terbesar Eropa. Dia terasa bagai sosok David Beckham yang bermain di lini belakang.
”Jika ada satu pemain yang saya rasa mirip dengan saya dalam mengumpan bola, dia adalah Trent,” kata Beckham dalam siniar Rio Ferdinand Presents pada Oktober 2024. ”Sejujurnya, dia pemain yang menakjubkan. Visi bermainnya luar biasa,” lanjutnya yang juga pernah berseragam Madrid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/07/21/zidane2_1595294410.jpg)
Tentu, Alexander-Arnold tidak akan mendapatkan posisi inti begitu saja. Dia harus bersaing lebih dulu dengan bek veteran Dani Carvajal yang akan kembali dari cedera panjang pada musim depan. Pelatih baru Madrid pasti mengalami dilema untuk menentukan posisi bek sayap.
Meskipun begitu, itu adalah dilema yang manis. Sang pelatih tinggal memilih pemain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. Tidak seperti yang dialami Ancelotti musim ini. Pelatih kawakan tersebut sampai harus menarik Valverde ke posisi bek sayap karena krisis pemain. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus Harjono