Bagaimana Nasib Korban Hilang Saat Operasi SAR Berhenti?

Sesuai prosedur operasi standar Basarnas, keputusan menghentikan pencarian dilakukan melalui musyawarah tim SAR, pemda, TNI, Polri, pemuka masyarakat, dan keluarga.

11 Des 2025 20:24 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Willy Medi Christian Nababan

Oleh Willy Medi Christian Nababan

Di balik deru alat berat yang memecah keheningan lokasi bencana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, ada hitungan mundur yang terus berdetak. Bagi keluarga korban yang masih hilang, waktu adalah harapan yang tersisa untuk memulangkan orang terkasih dalam kondisi apa pun.

Hingga kini, masih ada puluhan orang yang dilaporkan hilang. Data sementara menyebutkan 60 hingga 67 orang belum ditemukan. Namun, operasi pencarian tidak bisa berlangsung selamanya. Ketika masa tanggap darurat, yang diperpanjang hingga 22 Desember 2025 berakhir, sebuah keputusan berat harus diambil.

Tantangan di lapangan kian hari kian bertambah. Lumpur yang membalut wilayah terdampak di Kecamatan Palembayan bukan lagi lumpur cair yang mudah disisir. Lumpur itu telah mengeras, bercampur dengan material batu besar dan kayu.

”Tidak mungkin lagi kita lakukan penggalian secara manual dengan cangkul ataupun sekop,” ujar Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono di posko utama Kantor SAR Padang, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Kamis (11/12/2025).

Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono di posko utama Kantor SAR Padang, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Kamis (11/12/2025).

Menurut Agus, tangan manusia tak lagi sanggup menembus puing-puing bangunan. Hanya alat berat seperti ekskavator yang kini menjadi andalan untuk membalik tanah yang mungkin menyembunyikan jasad korban.

Secara medis dan teknis, harapan menemukan korban selamat telah lama pupus. Masa emas (golden time) penyelamatan adalah tiga hari pertama. Lewat dari tujuh hari, kalaupun tubuh korban ditemukan, kondisinya kerap sudah tidak utuh dan berpotensi membahayakan kesehatan tim penolong.

Quote

Tidak mungkin lagi kita lakukan penggalian secara manual dengan cangkul ataupun sekop.

Lantas, apa yang terjadi jika hingga batas akhir tanggap darurat korban tak kunjung ditemukan? Prosedur penghentian operasi bukanlah keputusan sepihak. Ini adalah proses yang melibatkan perasaan dan air mata. Sesuai prosedur operasi standar (SOP) Basarnas, keputusan untuk menghentikan pencarian dilakukan melalui musyawarah.

Tim SAR, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan pemuka masyarakat akan duduk melingkar bersama pihak keluarga. Di sana, fakta-fakta harus disampaikan. Hal ini mulai dari efektivitas operasi, risiko kesehatan, hingga tanda-tanda keberadaan korban.

”Kami akan sampaikan kepada pihak keluarga. Kita duduk bersama, bermusyawarah. Tentunya nanti kami akan menunggu tanggapan dari pihak keluarga,” ujar Agus.

Jika keluarga memohon dan masih ada petunjuk akurat, pencarian mungkin diperpanjang. Namun, jika tanda-tanda nihil dan medan sudah terlalu berbahaya, keluarga mungkin harus dipaksa oleh keadaan untuk mengikhlaskan tanah longsoran itu sebagai makam abadi bagi orang-orang terkasih mereka.

Kondisi terkini lokasi bencana di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Kamis (11/12/2025).

Nisan tanpa nama

Bagi korban yang ditemukan pun cerita belum tentu berakhir dengan kepastian nama. Di tengah keterbatasan ruang pendingin jenazah di rumah sakit dan kewajiban agama untuk menyegerakan pemakaman, beberapa jasad harus dikebumikan tanpa identitas yang jelas.

Seperti yang terjadi pada 10 jenazah, terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa, yang baru saja dimakamkan secara massal. Mereka dimakamkan dengan kode khusus, bukan nama. Sampel DNA pun telah diambil dari jasad-jasad tersebut untuk dicocokkan dengan warga yang melapor kehilangan anggota keluarga.

Sepuluh nisan korban bencana galodo Agam tanpa identitas yang dikebumikan di Kampung baru Jorong, Sungai Jariang, Lubuk Basung, Agam, Sumatera Barat, Kamis (11/12/2025).

”Proses identifikasi masih terus berlangsung dan pencocokan DNA memerlukan waktu lama,” ungkap Kepala Pusat Identifikasi Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mashudi.

Nisan-nisan berkode itu kini menjadi penanda ketidakpastian. Jika suatu hari nanti hasil tes DNA keluar dan kecocokan ditemukan, keluarga memiliki pilihan untuk memindahkan jenazah ke tempat yang lebih layak atau membiarkan mereka beristirahat di sana dan mulai berziarah.

Saat alat berat berhenti menderu dan tim SAR menarik diri, yang tersisa di Agam bukan hanya puing bangunan, melainkan kesunyian panjang dari keluarga yang menanti kepastian. Kepastian untuk memberi nama pada nisan atau mengikhlaskan mereka yang hilang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji