Rapor Siswa di Sembilan Bangku Sekolah yang Kosong Selamanya

Ujian semester yang seharusnya digelar pekan ini terhenti oleh duka teramat dalam. Sembilan siswa SDN 33 Koto Alam tewas tersapu banjir bandang.

09 Des 2025 15:51 WIB · Politik & Hukum

Kompas/Willy Medi Christian Nababan

Oleh Willy Medi Christian Nababan

Jarum jam menunjuk pukul 08.00 pagi di Jorong Gumarang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025). Di dalam kelas Madrasah Ibtidaiyah Negeri atau MIN 6 Agam, ratusan siswa menunduk khusyuk. Tidak ada suara gawai, hanya gesekan alat tulis di atas kertas buram. Mereka sedang mengerjakan ujian semester mata pelajaran Akidah Akhlak.

Suasana itu tampak normal, seolah galodo (banjir bandang) tak pernah menyapu wilayah ini sepekan lalu. Padahal, normalitas itu dibangun dengan susah payah. Listrik baru menyala hari Sabtu setelah sepekan mati total, membuat mesin fotokopi sekolah baru bisa mencetak soal ujian beberapa jam sebelum dibagikan.

Namun, bergeser sedikit sekitar 200 meter melintasi jalan provinsi yang kini sepi dan rusak menuju Palembayan, di SDN 33 Koto Alam, potret pendidikan berubah drastis menjadi sebuah tragedi sunyi. Ruang-ruang kelas yang biasanya riuh oleh hafalan perkalian kini hampa, kosong, dan terkunci rapat.

Di ruang guru yang pintunya terbuka, sejumlah pendidik berkumpul melingkar. Mereka duduk termenung, sesekali melempar obrolan ringan dengan suara pelan. Wajah mereka tampak lemas, menyiratkan kelelahan yang tak hanya fisik, tetapi juga batin.

Quote

Kamis sore, enggak ada lagi sembilan orang siswa Ibu.

Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 menerima trauma healing dari kepolisian dan mahasiswa usai ujian di MIN 6 Agam, Gumarang, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025).

Kelemasan di wajah para guru itu beralasan. Ujian semester yang seharusnya digelar pekan ini terhenti oleh duka yang teramat dalam. Sembilan bangku siswa di sekolah itu kini kosong dan akan tetap kosong selamanya. Sembilan pemilik bangku itu tewas tersapu banjir bandang, Kamis (27/11/2025).

Pesan tak terbalas

Kepala SDN 33 Koto Alam Mardiah ZN masih mengingat jelas hari Rabu (26/11/2025), sehari sebelum petaka. Hujan deras mulai mengguyur lereng bukit. Melalui grup Whatsapp kelas, para guru meminta anak-anak pulang lebih cepat dan melanjutkan belajar di rumah. Pesan-pesan tugas dikirimkan, berharap esok hari dikumpulkan kembali.

Tak ada yang menyangka, itu adalah tugas terakhir. ”Kamis sore, enggak ada lagi sembilan orang siswa Ibu,” ucap sang kepala sekolah dengan suara tercekat.

Di grup percakapan digital itu, nama-nama mereka masih ada, tetapi tak akan pernah ada lagi tanda ”sedang mengetik”. Sembilan nyawa melayang, satu siswa mengalami patah kaki, dan dua lainnya kehilangan tempat tinggal.

Kini, para guru di sana dihadapkan pada realitas yang membingungkan, kalender pendidikan menuntut pengisian rapor akhir tahun, sementara siswanya telah tiada. Bagi sekolah, memaksakan anak-anak yang masih trauma untuk datang ujian adalah hal yang mustahil.

”Nilai rapornya kami ambil dari nilai harian saja. Kalau dipaksakan anak datang ke sekolah sekarang untuk ujian, mungkin marah orangtuanya sama kita,” ujar Mardiah pelan.

Kisah pilu di SDN 33 Koto Alam hanyalah satu potret dari kerusakan masif pendidikan di Sumatera Barat. Berdasarkan data Posko Terpadu Kebencanaan per Minggu (7/12/2025), bencana hidrometeorologi ini memukul telak sektor pendidikan.

Kepala Sekolah SD N 33 Koto Alam, Mardiah ZN di kompleks sekolahnya, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Selasa (9/12/2025).

Tercatat sebanyak 338 unit sekolah di 16 kabupaten/kota mengalami kerusakan atau terdampak langsung. Sebagian rusak diterjang air bah, sebagian tertimbun longsor, dan sisanya, seperti sejumlah sekolah di Koto Alam, terpaksa beralih fungsi menjadi tempat pengungsian atau posko darurat.

Dua wajah

Kontras antara SDN 33 dan MIN 6 Agam adalah cermin retaknya wajah pendidikan pascabencana. Di Jorong Gumarang, MIN 6 berjuang menjaga rutinitas. Rilla, salah satu guru mereka, sempat terseret arus bersama anaknya dan selamat, tetap hadir di sekolah. Meski ada lima siswa yang terisolasi di seberang sungai, guru rela mengantar soal ujian secara manual dan menjemputnya kembali.

Biasanya, ujian di madrasah ini berlangsung dengan tata tertib ketat. Siswa duduk sesuai nomor meja yang ditempel dan mengenakan tanda peserta di dada. Namun, kali ini, protokol itu tergerus situasi darurat. Tidak ada nomor meja, tidak ada kartu peserta yang tersemat. Siswa duduk di bangku biasanya, mengerjakan soal seadanya.

”Saat ini, satu hari satu bidang studi. (Hari ini) selesai pukul 09.00, langsung trauma healing,” ujar Wakil Kepala MIN 6 Agam Reni Warnita, menggambarkan penyesuaian antara penerapan kurikulum dan pemulihan mental.

SDN 7 Koto Alam yang menjadi posko bantuan dan tempat tinggal sementara personel TNI, Selasa (9/12/2025).

Di Koto Alam, jalan provinsi yang menghubungkan Bukittinggi dan Pasaman di dekat sekolah itu kini terpisahkan jurang menganga akibat longsor. Keterisolasian fisik ini sejalan dengan keterasingan batin yang dirasakan para gurunya.

Akhir tahun ini, para guru SDN 33 Koto Alam akan tetap mengisi rapor. Mereka akan menghitung rata-rata nilai dari tugas-tugas lama yang pernah dikerjakan sembilan murid mereka. Rapor itu akan dicetak, mungkin akan disimpan di lemari arsip atau diserahkan kepada ahli waris sembilan murid.

Lembaran kertas itu bukan lagi sekadar evaluasi akademik. Ia menjadi monumen kertas. Sebuah kesaksian bahwa sembilan anak itu pernah ada, pernah belajar, dan pernah bermimpi di kelas tersebut, sebelum galodo merenggut segalanya di satu sore hingga malam yang kelabu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase