PIALA DUNIA

Bagaimana Peluang Tim Asia di Fase Gugur Piala Dunia?

Hingga saat ini, baru Jepang dan Autralia yang memastikan diri lolos ke 32 besar. Peluang Jepang berat karena bertemu favorit juara, Brasil.

27 Jun 2026 16:11 WIB · Olahraga

AP Photo/Sam Hodde

Oleh Prasetyo Eko Prihananto dari Amerika Serikat

Piala Dunia kali ini ternyata tidak ramah dengan tim-tim Asia. Dari sembilan tim yang mewakili zona AFC, kemungkinan hanya tiga tim yang bakal lolos ke babak 32 besar. Hingga laga Jumat (26/6/2026), baru Jepang dan Australia yang sudah mengunci tiket ke fase gugur.

Sementara Iran dan Korea Selatan masih harus menunggu hingga laga hari terakhir penyisihan grup pada Sabtu (27/6/2026). Pada daftar klasemen sementara peringkat ketiga terbaik, Iran yang pada laga pamungkas bermain imbang lawan 1-1 lawan Mesir, menempati peringkat keenam dengan tiga poin dan selisih gol nol.

Adapun Korea Selatan, yang secara mengejutkan ditaklukkan Afrika Selatan pada laga pamungkas, nasibnya di ujung tanduk karena hanya menempati peringkat ke delapan atau posisi terakhir peringkat ketiga terbaik dengan tiga poin dan selisih gol minus 1. Sejumlah tim masih bisa menggusur posisi Korsel.

South Korea's forward #07 Son Heung-min misses to kick the ball as he's defended by South Africa's midfielder #13 Sphephelo Sithole during the 2026 World Cup Group A football match between South Africa and South Korea at the Monterrey Stadium in Guadalupe, Mexico, on June 24, 2026.  (Photo by Julio Cesar AGUILAR / AFP)

Aljazair yang memiliki tiga poin hanya membutuhkan hasil imbang pada laga pamungkas melawan Austria untuk menggusur Korsel keluar dari peringkat delapan. Sementara DR Congo yang memiliki satu poin butuh kemenangan menghadapi wakil Asia, Uzbekistan, yang sudah tersingkir.

Tim-tim AFC sebenarnya mengawali laga Piala Dunia 2026 dengan sangat bagus. Enam tim tak terkalahkan pada laga pertama. Jepang meraih hasil imbang 2-2 melawan raksasa Eropa Belanda, kemudian Korsel mengalahkan wakil UEFA, Ceko, dengan skor 2-1.

Australia juga menaklukkan wakil UEFA Turki dengan skor 2-0 sedangkan Qatar dan Arab Saudi meraih hasil imbang 1-1 melawan Swiss dan Uruguay.

Sementara wakil lainnya, Irak dan tim debutan Uzbekistan dan Jordania tak berkutik menghadapi lawan-lawan mereka. Irak tunduk 1-4 dari Norwegia, Jordania kalah 1-3 dari Austria, dan Uzbekistan tumbang 1-3 dari Kolombia.

Australia's Nestory Irankunda (17) drives past Turkey's Ismail Yuksek (16) during the World Cup Group D soccer match between Australia and Turkey in Vancouver, British Columbia, Saturday, June 13, 2026. (AP Photo/Kaleb Tatum)

Namun, setelah memasuki laga kedua penyisihan grup, wakil Asia sulit bersaing dengan kualitas lawan-lawan mereka. Akhirnya, baru Jepang dan Australia yang sudah memastikan diri lolos ke babak 32 besar dan kemungkinan Iran yang akan menyusul.

Lantas bagaimana peluang tim-tim AFC tersebut di babak 32 besar? Jepang yang diharapkan mampu mengibarkan bendera Asia di Piala Dunia kali ini terbilang kurang beruntung. ”Samurai Biru” langsung harus bertemu Brasil pada fase gugur.

Jepang yang menempati peringkat kedua Grup F, harus bertemu dengan juara Grup C, Brasil, Senin (29/6/2026) di Houston, Texas. Sedangkan Australia yang merupakan runner-up Grup D, bertemu peringkat kedua Grup G, Mesir di Arlington, Texas, Jumat (3/7/2026). Iran jika memastikan lolos bakal bertemu Swiss dan Korsel bertemu Belgia.

Performa Jepang bisa menjadi ancaman serius bagi Brasil. Jepang membuktikan kualitasnya sejak laga pertama fase grup dengan berhasil menahan imbang raksasa Eropa, Belanda, dengan skor 2-2.

Keberhasilan mencuri poin dari tim besar menunjukkan bahwa mereka memiliki mentalitas bertanding yang tidak gentar menghadapi tim-tim unggulan.

Japan's Ayase Ueda (18) celebrates scoring their fourth goal during the World Cup Group F soccer match between Tunisia and Japan in Guadalupe, near Monterrey, Mexico, Saturday, June 20, 2026. (AP Photo/Addison Simmons)

Karakteristik utama tim Jepang adalah kedisiplinan taktis yang sangat rapat dan kerja sama tim yang solid. Gaya bermain kolektif ini sering kali menjadi momok bagi tim dengan talenta individu tinggi seperti Brasil, terutama jika Jepang mampu meredam kreativitas serangan Brasil lewat pressing yang ketat.

Menghadapi Brasil yang berstatus sebagai juara Grup C dan salah satu favorit juara, Jepang akan bermain lepas tanpa tekanan besar. Posisi sebagai underdog ini sering kali justru membuat tim tampil lebih lepas, agresif, dan mampu memanfaatkan kelengahan lawan yang terlalu percaya diri.

Meski di atas kertas Brasil lebih diunggulkan, kedisiplinan dan momentum positif yang dibawa Jepang dari fase grup membuat mereka tidak bisa diremehkan begitu saja di babak 32 besar.

Terlebih lagi, Jepang mampu mengalahkan Brasil pada laga terakhir saat keduanya bertemu pada laga persahabatan internasional pada 14 Oktober 2025. Pada laga itu, Jepang mampu mengalahkan Brasil dengan skor 3-2.

Brazilian fans celebrate their team's second goal during the 2026 World Cup Group C football match between Scotland and Brazil at the Miami Stadium in Miami Gardens on June 24, 2026.  (Photo by PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP)

Pemain yang bisa menjadi ancaman bagi Brasil adalah Ayase Ueda, Daici Kamada, Daizen Maeda, dan Keito Nakamura. Mereka adalah para pencetak gol Jepang selama babak penyisihan grup.

Akan tetapi, Brasil kali ini tentu berbeda. Laga kali ini bukanlah pertandingan persahabatan, melainkan babak 32 besar Piala Dunia. Brasil lolos dengan meyakinkan menunjukkan bahwa mereka berada dalam performa puncak.

Sebagai salah satu tim favorit juara, Brasil memiliki deretan talenta individu dengan kualitas dunia yang mampu mengubah arah pertandingan dalam sekejap. Jika pertahanan Jepang lengah sedikit saja, kreativitas serangan Brasil akan sangat sulit dibendung.

Performa Vinicius Junior yang brilian akan sulit untuk dibendung oleh Jepang. Jika ingin terus mengibarkan bendera Asia di Piala Dunia, Jepang harus bisa meredam ketajaman dan kreativitas Vinicius yang sudah mencetak empat gol dan satu asis. Namun, Brasil juga masih punya penyerang lain yang berbahaya seperti Matheus Cunha.

Brazil's forward #07 Vinicius Junior acknowledges the crowd after winning the 2026 World Cup Group C football match between Scotland and Brazil at the Miami Stadium in Miami Gardens on June 24, 2026.  (Photo by PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP)

Secara statistik penampilan di Piala Dunia, Jepang dan Brasil sama-sama mencetak tujuh gol, tetapi Brasil jauh lebih banyak melepaskan tembakan, yaitu 40 berbanding 27.

Angka harapan gol (expected goals/xG) Brasil juga jauh lebih tinggi, mencapai 6,19 xG sedangkan Jepang hanya 2,92 xG. Sementara rata-rata penguasaan bola Brasil 49 persen, sedangkan Jepang 46 persen.

Peluang lebih baik untuk melaju dari 32 besar adalah Australia yang menghadapi Mesir. Di atas kertas, peringkat dunia kedua tim juga tidak terpaut jauh. Australia berada di posisi ke-28 FIFA dan Mesir berada di peringkat ke-26.

Australia secara tradisional mengandalkan keunggulan fisik, ketahanan stamina, dan organisasi pertahanan yang disiplin. Mereka sangat berbahaya dalam situasi bola mati (set-piece), baik saat bertahan maupun menyerang.

Iran's Ramin Rezaeian (23) battles for the ball with Egypt's Trezeguet (7) during the World Cup Group G soccer match between Egypt and Iran in Seattle, Friday, June 26, 2026. (AP Photo/Lindsey Wasson)

Berbeda dengan tim-tim besar yang bertumpu pada satu atau dua megabintang, kekuatan utama ”Socceroos'” terletak pada kerja sama tim yang kompak, kerja keras di lapangan, dan transisi permainan yang cepat. Nestory Irankunda akan menjadi senjata Australia untuk membuka pertahanan Mesir.

Skuad Mesir secara tradisional dikenal memiliki perpaduan yang baik antara bintang-bintang yang merumput di kompetisi elite Eropa dengan para pemain pilar dari klub-klub raksasa domestik, seperti Al Ahly dan Zamalek. Mesir memiliki Mohamed Salah yang masih merupakan salah satu penyerang sayap terbaik di dunia.

Apakah Jepang sanggup menghadirkan kejutan terbesar di Piala Dunia 2026 dengan menyingkirkan Brasil?


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto dari Amerika Serikat
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase