Nestory Irankunda, pencetak gol termuda Australia di Piala Dunia. Bila tetap rendah hati, dia dipercaya bakal menjadi talenta besar sepak bola dunia.
15 Jun 2026 13:14 WIB · Olahraga
Ethan Cairns/The Canadian Press
Karier Nestory Irankunda melaju lebih cepat daripada umurnya. Saat baru berusia 20 tahun 126 hari, golnya ke gawang Turki pada laga pertama Australia di Piala Dunia 2026, Minggu (14/6/2026), menjadikannya pencetak gol termuda kedua dalam sejarah ”Socceroos”. Berbagai ujian telah ia lalui.
Laga di Grup D itu baru menunjukkan menit ke-27 saat Irankunda menerima umpan panjang dari rekannya, Paul Okon Engstler. Dengan satu sentuhan mengelabui bek berpengalaman Merih Demiral, Irankunda menceploskan bola ke gawang Turki yang dikawal Ugurcan Cakir.
Namun, gol itu hanya bagian dari perjalanan panjang perjuangannya merintis karier sepak bola. Dia bahkan nyaris kehilangan nyawa untuk sampai di titik ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/687563392add51bfb0d34cab1e0fbe3c-Turkey_Australia_WCup_Soccer_2.jpg)
Ujian pertamanya dilalui bersama keluarga. Bukan di lapangan hijau, melainkan bertahan hidup sebagai penyintas konflik. Dikutip dari BBC, Irankunda lahir di kamp pengungsian Tanzania pada 2006 dari orangtua asal Burundi. Mereka melarikan diri karena perang saudara.
Sempat terdampar di Indonesia, Irankunda dan keluarganya tiba di Australia tahun 2008. Di Australia, Irankunda menemukan gairah bermain sepak bola bersama Adelaide United yang berlaga di A-League.
Hanya satu tahun di akademi, dia tampil di tim utama pada Januari 2022. Saat itu, usianya baru 15 tahun 333 hari sehingga menjadikannya salah satu debutan termuda dalam sejarah kompetisi.
Luar biasanya, sekitar tiga minggu kemudian, ia mencetak gol dan menjadikannya sebagai yang termuda kedua dalam sejarah A-League.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/6e343a8ca7657b8c5c42e194aa62d30d-Turkey_Australia_WCup_Soccer_1.jpg)
Namun, prestasi itu tidak lantas menjadikannya superstar. Tim pelatih Adelaide United kerap membangkucadangkannya.
Masalah disiplin hingga kartu merah membuat tim merasa perlu membantu menekan ego anak muda itu di lapangan hijau. Baru saat usianya 17 tahun, ia mulai rutin menjadi pemain inti dan digadang-gadang menjadi masa depan sepak bola Australia.
Itu keputusan yang sulit, tetapi jelas tujuan terbesar saya adalah bermain di Piala Dunia.
Setahun setelah rutin mendapat tempat di tim utama, Irankunda meledak di tahun 2024. Dia pencetak hattrick termuda dalam sejarah A-League. Musim itu ia mencetak 16 gol dari 60 penampilan liga dan meraih penghargaan Young Footballer of the Year.
Prestasi itu menarik minat raksasa Jerman, Bayern Muenchen. Ketertarikan Muenchen sebenarnya sudah muncul lebih awal. Namun, performa gemilangnya hingga akhir musim 2024 mengukuhkan keyakinan klub untuk membawanya ke Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/96eb710811c7e5e313d9d6b410b6a6a2-Turkey_Australia_WCup_Soccer.jpg)
Di Muenchen, sinar bintangnya Irankunda meredup. Bukan karena penampilannya menurun, melainkan karena banyak bintang lebih terang di sana. Ia tidak pernah tampil di tim utama Jerman meski ikut berlatih bersama pemain hebat seperti Harry Kane.
Cemas bakal berimbas pada kesempatannya tampil di Piala Dunia, Irankunda tidak keberatan dipinjamkan ke Grasshopper, klub Swiss, dan pindah ke Watford, klub Inggris, di tahun 2025. Merujuk data Opta, di Watford yang berlaga di Divisi Championship Inggris, Irankunda mencetak 4 gol dari 40 penampilan.
”Itu keputusan yang sulit, tetapi jelas tujuan terbesar saya adalah bermain di Piala Dunia. Piala Dunia 2026 sudah di depan mata dan saya harus bermain, saya tidak bermain,” kata Irankunda, yang pernah cedera dan kesulitan bernapas di lapangan saat berlaga di A-League, kepada Sky Sports.
Seiring mendapat kesempatan bermain, Irankunda tetap dipanggil tim nasional Australia. Setelah debutnya dalam kualifikasi Piala Dunia pada Juni 2024 melawan Bangladesh, dia menjadi pencetak gol termuda kedua Australia saat melawan Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/18b5e2d6c4cc8852672b5ae4cdcefdae-Turkey_Australia_WCup_Soccer_3.jpg)
Dia juga kembali ke Indonesia, untuk melawan timnas Indonesia di Gelora Bung Karno pada 10 September 2024, atau ketika berusia 18 tahun. Meski laga berakhir imbang tanpa gol, tekanan lebih kurang 70.000 penonton saat itu sedikit banyak bisa ikut memperkuat mentalnya saat ini.
Dua tahun kemudian, meski hanya disaksikan sekitar 50.000 penonton, Irankunda mendapatkan panggung lebih besar. Ia menjadi bagian dari kemenangan Australia saat meladeni Turki. Dia mencetak satu dari dua gol Socceroos.
Dengan hasil itu, lagi-lagi dia mencetak sejarah. Di usianya yang baru 20 tahun 126 hari, Irankunda adalah orang Australia termuda yang mencetak gol sepanjang turnamen Piala Dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/e5b0e0c66b4cabaf1f1eca4a2615c8a9-APTOPIX_Turkey_Australia_WCup_Soccer.jpg)
Mohamed Toure, rekan setimnya di Australia, mengatakan tidak pernah ragu dengan bakat Irankunda. Ia menjuluki rekannya itu ”Houdini”, merujuk pesulap terkenal.
”Saya telah melihat banyak pemain bagus, tetapi terkadang Anda memiliki bakat istimewa dan dialah orangnya. Jika dia bekerja keras dan tetap rendah hati, saya pikir dia akan melampaui potensi yang telah dikatakan banyak orang tentang dirinya,” kata Toure.
Lewat golnya ke gawang Turki, Irankunda semakin diperhitungkan dalam Piala Dunia 2026. Namun, yang harus diingat semua tidak instan. Hidupnya penuh dengan ujian, mulai dari bertahan hidup di kamp pengungsian, momen kelam bersama Bayern Muenchen, hingga riuh rendah di Stadion Gelora Bung Karno.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan