Bagaimana Timnas Jepang Bisa Menjadi yang Terkuat di Asia?

Mudahnya timnas Jepang menggunduli Indonesia dengan skor 6-0 menggambarkan kekuatan tim Samurai Biru. Bagaimana Jepang menjadi yang terkuat di Asia?

11 Jun 2025 18:43 WIB · Olahraga

Oleh Emilius Caesar Alexey

Timnas Indonesia harus pulang dengan kepala tertunduk setelah dicukur gundul dengan skor 0-6 oleh timnas Jepang pada laga putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, Selasa (11/6/2025), di Stadion Sepak Bola Kota Suita, Prefektur Osaka, Jepang. Kemenangan itu tidak hanya menegaskan dominasi Jepang atas Indonesia, tetapi juga memperlihatkan Jepang merupakan salah satu kekuatan sepak bola terbesar di Asia.

Dalam daftar klasemen putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, Jepang menempati puncak klasemen Grup C, bersama dengan Korea Selatan di puncak Grup B, dan Iran di puncak Grup A. Jepang dan Iran mengumpulkan 23 poin, sementara Korsel 22 poin. Namun, Jepang lebih superior dibandingkan Iran karena memiliki surplus 27 gol. Adapun Iran hanya surplus 11 gol.

Saat menghadapi pemain Indonesia yang sebagian besar adalah pemain naturalisasi dan bermain di liga-liga Eropa, Jepang tetap percaya kepada para pemain lokalnya. Para pemain dari ras kuning itu juga banyak yang bermain di liga-liga utama Eropa, seperti Liga Inggris, Liga Jerman, Liga Italia, dan Liga Perancis.

Apa yang menyebabkan timnas Jepang begitu kuat saat tampil di Asia dan bahkan di level dunia?

Semua dimulai pada 1991 saat federasi sepak bola Jepang, Japan Football Association (JFA), membubarkan liga semiprofesional Japan Soccer League (JSL) karena dinilai tidak membawa kemajuan bagi dunia sepak bola ”Negeri Sakura” tersebut. Pada 1992, JFA meluncurkan visi 100 tahun yang isinya adalah Jepang harus menjadi juara Piala Dunia dalam 100 tahun ke depan.

Untuk mewujudkan visinya, JFA melakukan dua hal sekaligus. Yang pertama meluncurkan J-League sebagai liga profesional dan melakukan pembinaan dan kompetisi sepak bola berjenjang di tingkat akar rumput.

Yokohama FC forward Kazuyoshi Miura (R) is tackled by Kawasaki Frontale forward Leandro Damiao during the J-League football match between Kawasaki Frontale and Yokohama FC at Todoroki Athletics stadium in Kawasaki on September 23, 2020. – Miura was in the starting line-up for Yokohama FC’s clash against Kawasaki Frontale, and at 53 years, six months and 28 days old easily smashed the record for oldest-ever J-League first division starter set by Masashi Nakayama in 2012. (Photo by STR / JIJI PRESS / AFP) / Japan OUT

Liga profesional

Sebelum meluncurkan J-League, JFA mempelajari berbagai liga profesional dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. J-League menggantikan JSL karena JSL merupakan liga yang diisi oleh klub-klub milik perusahaan-perusahaan besar di Jepang. Para pemainnya adalah pegawai dari perusahaan tersebut.

Di J-League, klub harus berdiri sendiri dan para pemainnya adalah pemain profesional. Klub biasanya memiliki ”bapak angkat” perusahaan besar di kota tempat klub itu didirikan, sebagai sponsor utama, tetapi tidak dimiliki perusahaan tertentu, sehingga memiliki independensi. Sponsor-sponsor pendukung juga berasa dari kota atau prefektur yang sama sehingga tercipta keterikatan yang kuat antara dunia bisnis dan klub sepak bola lokal.

Keterikatan antara klub dan para suporter lokal juga dibangun dengan baik. Para suporter mendukung dalam berbagai hal, termasuk finansial, dengan membeli tiket dan cenderamata. Para pemain klub membalas rasa cinta para pendukung dengan bermain sepenuh hati dan menghindari suap dan pengaturan skor.

Pada awal digelarnya J-League, JFA membuka keran perekrutan pemain dan pelatih papan atas Eropa. Zico, Gary Lineker, Dragan Stojkovic, dan pelatih Arsene Wenger pernah didatangkan oleh klub-klub Jepang pada awal dimulainya J-League.

Kehadiran mereka diperlukan untuk meningkatkan pamor J-League dan sekaligus transfer ilmu kepada para pelatih dan pemain Jepang. Para pemain Jepang juga berusaha keras meningkatkan kemampuan mereka agar bisa bersaing dengan para pemain asing yang datang.

Kompleks J-Village yang berada di Kota Futaba, Prefektur Fukushima, Jepang, awal Februari lalu. Kawasan khusus pemusatan latihan itu akan digunakan tim nasional sepakbola putra dan putri Jepang untuk persiapan Olimpiade 2020.

Animo penonton J-League meroket, dari sekitar 1.600 penonton setiap laga saat JSL menjadi lebih dari 20.000 penonton setiap laga karena kualitas pertandingan semakin bagus. Kualitas pertandingan itu meningkat karena kemampuan para pemain lokal Jepang yang semakin baik.

Membaiknya kemampuan pemain lokal Jepang terbukti dengan kemampuan Hidetoshi Nakata dan Kazuyoshi Miura menembus Liga Italia. Nakata ke Perugia pada 1998 dan Miura ke Genoa pada 1994. Setelah itu, para pemain Jepang banyak yang diminati oleh klub-klub Eropa hingga saat ini.

Pembinaan usia dini

Berbeda dengan Indonesia yang hanya fokus pada timnas dan liga profesional, federasi sepak bola Jepang sangat peduli pada pembinaan usia dini di tingkat sekolah, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kurikulum pelatihan sepak bola sebagai ekstrakurikuler disusun dengan sangat baik secara berjenjang. Kemudian, kompetisi berjenjang dari tingkat kota sampai tingkat nasional juga digelar secara rutin.

Para guru olahraga dilatih untuk menjadi pelatih sepak bola, sesuai tingkat sekolah yang diajar. Dengan demikian, mereka dapat mengajari teknik-teknik dasar permainan sepak bola untuk guru SD dan merancang taktik permainan yang kompetitif untuk guru SMA.

Salah satu tokoh di balik keberhasilan Jepang melakukan pembinaan usia dini adalah Tom Byer. Tom Byer merupakan mantan pemain sepak bola asal Amerika Serikat yang tinggal di Jepang sejak 1980. Byer mengajarkan dua hal dalam pembinaan sepak bola, yaitu kesenangan bermain bola dan teknik permainan.

Anak-anak usia 8-10 tahun harus diajarkan untuk menikmati permainan sekap bola. Jika mereka gembira saat bermain, teknik permainan sepak bola akan lebih mudah diajarkan bagi mereka.

Anak-anak dan remaja peminat sepak bola di Jepang sangat besar karena dua hal, yaitu prestasi timnas Jepang dan komik atau manga yang berkisah tentang sepak bola. Manga Captain Tsubasa sangat menginspirasi anak dan remaja Jepang tahun 1990-an sampai 2000-an untuk bermain sepak bola. Manga itu laku 90 juta kopi.

Semakin bertambahnya usia, para remaja harus menguasai teknik permainan dengan lebih baik dan mulai memahami taktik bermain sebagai tim. Pada usia SMA, mereka sudah siap berlaga secara kompetitif.

Kompetisi di tingkat SMA dibuat berjenjang sejak dari tingkat kota sampai negara, yang diberi nama All Japan High School Soccer Tournament. Kompetisi berbasis sekolah itu menarik sangat banyak penonton dan digelar di stadion. Jumlah penonton laga tingkat SMA bisa menarik penonton sampai 10 juta orang secara total dalam satu musim.

Setelah SMA, para pemain yang berkualitas memiliki dua pilihan, yaitu masuk ke akademi milik klub J-League (baik J1, J2, atau J3) atau masuk ke klub universitas. Banyak pemain yang memilih masuk ke klub universitas karena memiliki kualitas pembinaan dan kompetisi yang berkualitas tinggi. Di sisi lain, mereka bisa tetap kuliah sehingga punya bekal ilmu untuk masa depan jika gagal sebagai pemain profesional.

Pemain Jepang, Kaishu Sano (kanan), memotong bola di hadapan penyerang Indonesia, Ole Romeny, pada laga putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Kota Suita, Prefektur Osaka, Jepang, Selasa (10/6/2025). Indonesia kalah telak pada laga tersebut.

Kualitas kompetisi sepak bola di tingkat universitas di Jepang dinilai setara dengan kompetisi J2 atau kasta kedua dari J-League. Tidak heran banyak pemain dari universitas yang mendapat kontrak sebagai pemain profesional dari klub J-League, seusai lulus kuliah.

Pada kompetisi di tingkat SMA dan universitas, pemandu bakat dari semua klub akan hadir untuk memantau talenta-talenta unggul yang muncul. Dengan demikian, pemain yang bergabung dengan klub adalah pemain berkualitas tinggi.

Tingginya kualitas pemain Jepang membuat banyak dari mereka yang direkrut oleh klub-klub Eropa, setelah dua atau tiga musim berlaga di J-League. Dari daftar pemain yang sedang dan pernah memperkuat timnas Jepang untuk kualifikasi Piala Dunia 2026, terdapat 35 pemain yang membela klub-klub Eropa. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan pemain Korea Selatan di Eropa, yang mencapai 19 orang.

Pemain Jepang yang berlaga di Eropa, antara lain, adalah Wataru Endo (Liverpool), Tafekusa Kubo (Real Sociedad), dan Zion Suzuki (Parma). Banyaknya pemain yang berlaga di Eropa membuat hanya tujuh pemain dari 23 pemain anggota skuad timnas Jepang yang berlaga di J-League. Selebihnya membela klub-klub Eropa.

Penyerang Jepang, Takefusa Kubo, merayakan golnya ke gawang Indonesia pada laga putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Kota Suita, Prefektur Osaka, Jepang, Selasa (10/6/2025). Indonesia kalah telak pada laga tersebut.

Prestasi Jepang

Tingginya kualitas pemain Jepang yang dihasilkan dari pembinaan berjenjang dan kompetisi yang ketat serta sebagian pemain yang ditempa di Eropa membuat Jepang berhasil menembus Piala Dunia pada 1998 dan tidak pernah absen sejak saat itu. Dari tujuh kali keikutsertaan di Piala Dunia, Jepang empat kali lolos dari fase grup dan menembus babak 16 besar.

Pada Piala Dunia Qatar 2022, Jepang memuncaki klasemen grup setelah mengalahkan Jerman dan Spanyol dengan skor identik 2-1. Kedua tim yang pernah menjadi juara dunia itu dibuat tidak berdaya karena meremehkan permainan cerdik Jepang.

Pada ajang Piala Asia, Jepang menjadi tim yang paling banyak menjuarai turnamen tertinggi di Asia. Jepang menjadi juara empat kali, yaitu pada 1992, 2000, 2004, dan 2011. Jepang lebih unggul dibandingkan Arab Saudi dan Iran yang menjadi juara tiga kali. Korsel dan Iran tertinggal di belakang karena baru menjadi juara dua kali.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul