Pelari kota terpaksa menjadikan jalan raya sebagai arena latihan. Ancaman kecelakaan dan polusi mengintai. Siasat disusun demi menghindarinya.
09 Des 2024 22:10 WIB · Olahraga
Keterbatasan ruang latihan seolah memaksa pelari perkotaan menggunakan jalan raya sebagai arena latihan. Dengan berbagai keterbatasannya, jalan raya disiasati agar mampu menjadi ruang latihan yang aman bagi para pelari. Segala risiko kesehatan hingga keselamatan dijadikan pertimbangan utama setiap kali melaju pada lintasan aspal jalanan kota.
Keresahan atas minimnya ruang latihan itu dirasakan pelari asal Semarang, Jawa Tengah, Dani Aditya Pratama (26). Sebagai pehobi lari, ia bersama teman-teman satu komunitasnya, Semarang Runners, mau tak mau menjadikan jalan raya medan latihan mereka. Apalagi mereka hanya bisa berlatih malam hari.
”Teman-teman ini biasa latihan berjarak 3-5 km. Sebenarnya ada tempat lumayan untuk latihan malam itu di GOR TLJ (Gedung Olahraga Tri Lomba Juang). Tetapi, lintasannya itu butuh lebih dari 12 putaran buat dapat jarak segitu. Itu pun hanya bisa digunakan malam pada Jumat, Sabtu, dan Minggu,” kata Tama, sapaan akrab Pratama, saat dihubungi Minggu (8/12/2024) malam.
Sebagus-bagusnya kondisi lari memang pagi hari. Malam hari adalah waktu alternatif yang sudah sibuk bekerja dari pagi, maka diadakan lari malam hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/10/28/bcb5eb4b-d4f1-4b50-bf8c-0950652d5881_jpg.jpg)
Latihan rutin komunitas itu berlangsung setiap Kamis malam, dengan tajuk ”Playon Kamis Bengi”, yang berarti ”Lari Kamis Malam”. Waktu malam hari diambil gegara latar belakang anggota komunitas yang mayoritas terdiri atas kalangan pekerja kantoran. Pilihan waktu latihannya pun sangat terbatas.
Tama sadar apabila pilihan waktu hingga medan berlatih komunitasnya mengandung sejumlah risiko. Yang paling kentara, jalanan malam hari lalu lintasnya cukup padat. Keadaan itu menimbulkan ancaman berupa polusi udara dan kecelakaan lalu lintas.
”Sebagus-bagusnya kondisi lari memang pagi hari. Malam hari adalah waktu alternatif yang sudah sibuk bekerja dari pagi, maka diadakan lari malam hari,” kata Tama, yang menjabat public relations pada komunitas tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/13/ab68eb2b-63cc-4b71-ae11-c01998d35453.jpg)
Untuk itu, Tama dan rekan-rekannya membuat perencanaan guna mengantisipasi ancaman-ancaman yang berpotensi timbul. Misalnya, rombongan lari diatur menjadi beberapa kelompok mengingat pesertanya bisa mencapai 250 orang sekali kegiatan.
Setiap rombongan menempuh rute lari berbeda-beda. Dengan demikian, jalan raya tidak terlalu padat sehingga lalu lintas tak terganggu. Risiko kecelakaan juga bisa ditekan.
”Lari di jalan raya ini, kan, kami harus berbagi dengan pengguna jalan lainnya kan seperti sepeda, mobil, dan (sepeda) motor. Itu harus sama-sama dihormati juga. Jadi, cara ini yang kami tempuh,” kata Tama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/01/166c1db529bfbd31813b35bf88b0ae34-1000019570.jpg)
Persoalan serupa dialami sesama pelari kota lainnya seperti Jakarta. Tantangan yang dihadapi boleh jadi lebih besar dibandingkan Semarang. Pasalnya, kondisi lalu lintas jauh lebih padat. Risiko polusi udara tentunya bakal berkali-kali lipat.
Andi Sugianto (37), pelari asal Jakarta, memiliki cara sendiri guna mengatasi persoalan itu. Ia sepenuhnya sadar akan kondisi lalu lintas kotanya yang begitu padat. Padahal, ruang-ruang publik untuk berlatih tidak cukup banyak. Alhasil, ia mesti memilih momen-momen ketika kendaraan tidak terlalu banyak melintas di jalan raya.
Pada hari-hari kerja, Andi dan rekan-rekannya dari komunitas Hoka Runners Jakarta akan mengambil rute lari di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kawasan stadion cukup luas. Kendaraan bermotor juga tidak terlalu banyak melintas. Itu membuat udara seolah cukup bersahabat bagi pelari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/14/db4be5da-8a83-4084-be4d-f7ffb2373402_jpg.jpg)
Tempat berbeda dipilih Andi dan teman-temannya sewaktu akhir pekan. Momen car free day yang berlangsung di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Bundaran HI menjadi arena latihan mereka.
”Sekarang pelari semakin banyak, sedangkan fasilitasnya cenderung kurang. CFD ini jadi ruang publik buat kami berolahraga. Terlebih weekend tidak banyak kendaraan di hari-hari biasa, jadi udaranya bagus. Yang terpenting, ini free dan itu yang dibutuhkan komunitas,” kata Andi, yang juga menjabat pelatih lari pada komunitasnya.
Besarnya animo olahraga lari, lanjut Andi, rasa-rasanya perlu direspons pemangku kepentingan dari kotanya. Ia berharap agar kelak para pehobi lari terfasilitasi dengan sarana olahraga yang mumpuni. Hendaknya keinginannya itu terwujud karena akan semakin menggairahkan gaya hidup sehat di tengah masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/05/78c63a40-db84-417d-8aaf-e0a9cbccd996.jpg)
Dihubungi terpisah, dokter spesialis olahraga, Andi Kurniawan menyampaikan, pelari perkotaan mesti ekstra hati-hati jika memutuskan berlari dengan rute jalan raya. Risiko utama yang mengancam ialah soal keselamatan. Sebab, pelari mesti berbagi dengan para pengguna jalan lainnya.
”Ini biasanya kami sarankan agar berlari melawan arah dari arus lalu lintas. Dengan begitu, mereka bisa mewaspadai kendaraan bermotor yang lewat. Sebaiknya juga jangan memakai earphone agar waspada dengan kondisi sekitarnya demi keselamatan selama di jalan,” kata Andi.
Andi turut mewanti-wanti ihwal ancaman polusi udara yang membayangi pelari perkotaan. Pihaknya pun menyarankan agar latihan dilakukan pada pagi hari. Pada jam-jam itu, kendaraan belum terlalu banyak memenuhi jalan sehingga ancaman polusi bisa diantisipasi. Soal pilihan tempat lokasi yang rindang dan minim kendaraan bermotor juga menjadi cara lain guna menghindari ancaman paparan udara buruk tersebut.
”Jadi, kalau kita sedang berolahraga memang perlu mempertimbangkan faktor positif dan negatifnya. Ini demi tujuan olahraga benar-benar menghasilkan badan yang sehat,” kata Andi.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase