Setelah menembakkan rudal ke pangkalan udara AS di Qatar, Iran melanjutkan serangan rudal pada Selasa pagi ke Israel. Sedikitnya lima warga Israel tewas.
24 Jun 2025 11:42 WIB · Internasional
DUBAI, SELASA — Sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklir Iran, serangan balasan diluncurkan Iran ke pangkalan militer AS di Qatar pada Senin (23/6/2025) malam waktu setempat. Berikutnya, pada Selasa (24/6) pagi, Iran melanjutkan meluncurkan lima gelombang serangan rudal ke Israel.
Tak lama setelah serangan balasan Iran ke pangkalan AS, Al Udeid, di Qatar, Senin malam, Presiden AS Donald AS mengumumkan bahwa Iran dan Israel telah bersepakat melakukan gencatan senjata total dan menyeluruh.
Melalui akun media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyebutkan gencatan senjata akan dilakukan bertahap. Dimulai dengan Iran menghentikan serangan sekitar 6 jam setelah pengumuman gencatan senjata oleh Trump. Kemudian, mulai 12 jam sejak pengumuman, Israel akan menghentikan serangan. Dalam 24 jam, ditargetkan konflik terbuka 12 hari Iran-Israel sepenuhnya berakhir.
Merespons klaim AS soal gencatan senjata itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan, Iran akan menghentikan serangan jika Israel mengakhiri serangan udaranya.
Sejak pengumuman Trump mengenai gencatan senjata itu, Iran telah meluncurkan lima gelombang serangan rudal ke Israel. Serangan rudal Iran yang menggiring warga Israel berlindung di bunker itu berlangsung selama hampir dua jam pada Selasa pagi.
Layanan penyelamatan darurat Israel, Magen David Adom, menyatakan, sedikitnya empat orang tewas dan delapan orang lainnya terluka akibat serangan Iran tersebut. Masih ada pula warga yang terjebak di reruntuhan bangunan yang rusak berat karena rudal Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/d1a1a7109bd13897ca7903c44eb626f8-ISRAEL_IRAN_CONFLICT_130765926.jpg)
Sebelumnya, dalam serangan balasan Iran ke Pangkalan AS, Al Udeid, di Qatar tidak terdapat korban jiwa. Namun, serangan Iran itu sempat membuat negara-negara Teluk menutup wilayah udara dan menimbulkan kekacauan penerbangan.
Mayjen Shayeq Al Hajri, perwira militer Qatar pada Senin malam waktu setempat, menjelaskan kepada wartawan, Iran awalnya menembakkan tujuh rudal. Pertahanan Udara Qatar berhasil mencegat tujuh rudal itu di atas perairan di antara kedua negara.
”Iran kemudian menembakkan 12 rudal lagi. Sebanyak 11 rudal dicegat di atas wilayah Qatar, tetapi satu rudal mengenai pangkalan AS,” kata Al Hajri.
Namun, tidak dijelaskan kerusakan yang timbul akibat hantaman rudal tersebut. Jumlah rudal tersebut berbeda dari angka yang disampaikan Presiden AS Donald Trump.
Menurut Trump, Iran menembakkan 14 rudal, sebanyak 13 rudal berhasil ditangkis, tetapi satu rudal diloloskan karena tidak menimbulkan ancaman. Trump juga menyatakan, Iran sebelumnya sudah memperingatkan AS sebelum melakukan serangan balasan ke pangkalan militer di Qatar.
”Saya ingin berterima kasih kepada Iran karena telah memperingatkan kami. Peringatan itu memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang, dan tidak ada yang terluka,” tulis Trump di media sosial.
Trump juga menyatakan harapan bahwa rudal tersebut menjadi akhir dari pembalasan Iran atas serangan AS di pusat-pusat nuklir Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/7af11f6d-aad8-4a25-b379-c5bc45cbfb9d_jpg.jpg)
Serangan Iran ke Qatar menimbulkan alarm waspada bagi negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Mereka menutup wilayah udara untuk pencegahan. Langkah itu untuk antisipasi karena situasi keamanan di negara tersebut dapat berubah dengan cepat.
Selain Qatar, Irak juga melakukan penutupan total wilayah udaranya. Sebagian besar wilayah udara negara Irak ditutup karena perang Israel-Iran yang sedang berlangsung. Namun, bandara di kota selatan Basra telah dibuka pada Senin.
Bahrain juga menutup wilayah udara sementara waktu setelah Iran menyerang Qatar dengan rudal. Demikian juga Uni Emirat Arab (UEA) menutup wilayah udara untuk penerbangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/9b90efff-61fd-439a-8d6c-4ffd837ba298_jpg.jpg)
Penutupan wilayah udara oleh Qatar, Irak, Bahrain, dan UEA membuat maskapai penerbangan yang melayani rute dari dan ke kawasan Timur Tengah semakin waspada. Banyak maskapai penerbangan menangguhkan lebih banyak penerbangan ke Timur Tengah. Penutupan sementara wilayah udara dan penangguhan penerbangan menimbulkan kekacauan terbaru dalam perjalanan udara di Timur Tengah.
Menurut data penerbangan Flightradar24, situs pelacak lalu lintas udara secara real-time, bandara-bandara di seluruh Teluk memperingatkan tentang penerbangan yang dibatalkan, ditunda, dan dialihkan. Pesawat-pesawat berbalik arah dari kawasan Teluk.
Sebetulnya kekacauan akibat penangguhan penerbangan ke Timur Tengah sudah terjadi sejak Israel menyerang Iran, Jumat (13/6/2025). Konsultan Risiko Penerbangan Osprey Flight Solutions menyatakan, konflik Israel-Iran telah memutus rute penerbangan utama di wilayah udara yang sangat sibuk.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/24/be978ae5-5c89-4dc0-baba-e9ff023670b1_jpg.jpg)
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan rancangan resolusi atas konflik Israel-Iran. Rancangan menyerukan gencatan senjata penuh dan tanpa syarat.
”Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres secara terbuka dan pribadi mendukung segala upaya diplomatik yang dapat dipulihkan,” kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.
”Sekjen PBB mengecam setiap eskalasi dalam konflik ini,” imbuh Dujarric kepada wartawan PBB pada hari Senin.
Ketika ditanya tentang Perancis dan Rusia yang menawarkan diri untuk menjadi penengah dalam konflik AS-Israel-Iran, Dujarric mengatakan, ada juga negara-negara lain yang menawarkan diri. ”Kami telah melihat Oman sangat produktif dalam hal itu, dan saya pikir siapa pun yang dapat membantu, harus membantu,” kata Dujarric.
”Yang perlu kita lihat bukanlah lebih banyak rudal yang meluncur ke dua arah atau ke arah yang berbeda. Yang perlu kita lihat adalah, seperti yang telah kita katakan, kembali ke diplomasi,” imbuh Dujarric.
Dijarric menekankan, ”Semakin banyak kita melihat penggunaan kekuatan sepihak, semakin banyak kita melihat pelanggaran hukum internasional, semakin berisiko kawasan itu.”
Kementerian Luar Negeri Irak melalui pernyataan resmi pada hari Senin juga menyatakan, ”Krisis regional hanya dapat diselesaikan melalui dialog, menggunakan jalur diplomatik, dan menghindari opsi militer, yang hanya akan membawa eskalasi dan penderitaan lebih lanjut.”
Pernyataan tersebut tidak mengecam serangan balasan Iran. Akan tetapi, pernyataan itu menjadi ekspresi keprihatinan Irak yang mendalam atas eskalasi konflik yang berbahaya dan semakin cepat di kawasan tersebut. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca Nababan, Nur HidayatiEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .