Bandung, Pepatah, dan Sejarah dalam Lawatan Xi Jinping
Presiden Xi Jinping berulang kali menulis "Bandung" dalam artikel soal lawatannya ke Asia Tenggara. Ia begitu terkesan. Ia juga gemar mengutip pepatah.
Presiden China Xi Jinping dijadwalkan merampungkan lawatan ke Asia Tenggara pada Jumat (18/4/2025) ini. Selama lawatan lima hari, ia secara rutin menyinggung soal sejarah, mengutip pepatah, juga menyebut soal Bandung.
Xi mendatangi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja bergantian sejak 14 April 2025. Lawatan Asia Tenggara menjadi kunjungan luar negeri pertama Xi di 2025.
Meski tidak ke Indonesia, Xi menyinggung Bandung. Begitu penting Bandung bagi Xi. Padahal, kunjungannya ke ibu kota Jawa Barat itu sudah 10 tahun berlalu. Pada April 2015, Xi salah satu pemimpin negara yang ikut jalan kaki di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Kegiatan itu salah satu bagian peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Oleh Xi, juga banyak orang di luar Indonesia, KAA 1955 kerap disebut Konferensi Bandung.
Dalam dua dari tiga artikel yang ditulisnya terkait lawatan ke Asia Tenggara 2025, Xi menyinggung soal KAA. Hanya artikel yang terbit di media Vietnam yang tidak menyinggung soal KAA.
Indonesia tidak menyelenggarakan peringatan 70 tahun KAA pada 2025. Hanya sejumlah pihak membuat peringatan soal kegiatan diplomatik itu.
Dalam artikel yang terbit di media Kamboja, Xi menyinggung pertemuan Perdana Menteri China Zhou Enlai dengan Raja Norodom Sihanouk di KAA. Zhou dan Norodom, tulis Xi, bercengkerama seperti sahabat lama. ”Bangsa kita menempa persahabatan sekuat besi,” tulis Xi.
Sementara dalam artikel yang terbit di media Malaysia, Xi menulis KAA mewariskan semangat penting bagi dunia yang terpolarisasi saat ini. ”Sembari menghormati capaian-capaian itu, negara kita harus menguatkan kerja sama dalam urusan internasional dan kawasan, menjunjungi Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai dan Semangat Bandung,” tulis Xi.
Lima Prinsip atau Hépíng gòngchǔ wǔ xiàng yuánzé merupakan konsep China soal hubungan luar negeri. Konsep itu seperti ”Mendayung Di Antara Dua Karang” yang dikenalkan Mohammad Hatta sebagai konsep politik luar negeri RI.
Mengenang sejarah
KAA ditulis Xi dalam bagian soal sejarah relasi China dengan mitra-mitranya. Xi menekankan, relasi China dengan negara-negara di kawasan sudah terbentuk ribuan tahun. Jauh sebelum China dan negara kawasan berbentuk seperti sekarang, relasi sudah terbentuk.
Ia, antara lain, menyinggung delegasi wangsa Chenla mendatangi Chang'an, ibu kota China di era dinasti Tang. Delegasi Chenla disambut sebagai Binhan atau tamu kehormatan di Chang'an. Chenla merupakan wangsa yang memerintah Funan, kerajaan yang wilayahnya kini menjadi Kamboja.
Sementara dengan Malaysia, Xi menyinggung soal bantuan pejuang Malaysia menjaga jalur pasokan untuk perjuangan bangsa China melawan penjajah Jepang. Jalur itu, tulis Xi, amat penting bagi perjuangan bangsa China.
Jauh sebelum bantuan itu, Semenanjung Malaya disambangi peziarah dari masa Dinasti Tang dan Dinasti Ming. Begitu banyak peninggalan sejarah dari lawatan itu masih terus terpelihara di Malaysia sampai sekarang.
Ada pun di Vietnam, Xi menyinggung saling bantu China-Vietnam melawan penjajah. Ho Chi Minh ikut perang bersama pejuang China melawan penjajahan Jepang. Sebaliknya, pejuang China membantu Vietnam mengusir pasukan Perancis. ”Persahabatan Vietnam dan China sangat agung karena kita kamerad dan saudara,” tulis Xi.
Mengutip pepatah
Artikel di Vietnam dimulai Xi dengan mengutip pepatah yang kurang lebih bermakna, akhir musim semi penuh semangat. Pepatah itu sudah lama dikenal baik bangsa Vietnam atau China.
Di ujung musim semi lazimnya komunitas petani di China dan Vietnam bersemangat karena sebentar lagi panen. Akhir musim gugur juga berarti pesta akan segera digelar. Semua membawa kegembiraan.
Sementara di Malaysia, Xi mengutip pepatah melayu: air dicincang tidak akan putus. Pepatah itu kurang lebih bermakna soal hal-hal yang tidak mungkin dipisahkan. Sebelum mengutip itu, Xi menulis soal China-Malaysia dihubungkan oleh lautan. Relasi Malaysia-China disebutnya terjalin lebih dalam setidaknya 2.000 tahun terakhir.
Di Kamboja, meski dipenuhi aneka kata berbunga, Xi tidak mengutip pepatah lama. Meski demikian, seperti disiarkan The Phnom Pehn Post, Pemerintah Kamboja memilihkan sejumlah pepatah lama. Pepatah itu, menurut lembaga-lembaga Kamboja, merupakan favorit Xi.
Salah satunya adalah ”kelezatan sup bergantung campuran beragam bumbu”. Pepatah itu merefleksikan pentingnya keragaman. Dalam dunia yang kini dipenuhi upaya-upaya unilateral, promosi pada keragaman semakin menjadi hal yang penting.
Presiden China Xi Jinping dijadwalkan merampungkan lawatan ke Asia Tenggara pada Jumat (18/4/2025) ini. Selama lawatan lima hari, ia secara rutin menyinggung soal sejarah, mengutip pepatah, juga menyebut soal Bandung.
Xi mendatangi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja bergantian sejak 14 April 2025. Lawatan Asia Tenggara menjadi kunjungan luar negeri pertama Xi di 2025.
Serial Artikel
China Jaga Hubungan Baik dengan ASEAN
Nilai geostrategis dan geopolitik ASEAN membuat China senantiasa menjaga hubungan baik dengan kawasan tersebut.
Meski tidak ke Indonesia, Xi menyinggung Bandung. Begitu penting Bandung bagi Xi. Padahal, kunjungannya ke ibu kota Jawa Barat itu sudah 10 tahun berlalu. Pada April 2015, Xi salah satu pemimpin negara yang ikut jalan kaki di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Kegiatan itu salah satu bagian peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Oleh Xi, juga banyak orang di luar Indonesia, KAA 1955 kerap disebut Konferensi Bandung.
Dalam dua dari tiga artikel yang ditulisnya terkait lawatan ke Asia Tenggara 2025, Xi menyinggung soal KAA. Hanya artikel yang terbit di media Vietnam yang tidak menyinggung soal KAA.
Indonesia tidak menyelenggarakan peringatan 70 tahun KAA pada 2025. Hanya sejumlah pihak membuat peringatan soal kegiatan diplomatik itu.
Dalam artikel yang terbit di media Kamboja, Xi menyinggung pertemuan Perdana Menteri China Zhou Enlai dengan Raja Norodom Sihanouk di KAA. Zhou dan Norodom, tulis Xi, bercengkerama seperti sahabat lama. ”Bangsa kita menempa persahabatan sekuat besi,” tulis Xi.
Sementara dalam artikel yang terbit di media Malaysia, Xi menulis KAA mewariskan semangat penting bagi dunia yang terpolarisasi saat ini. ”Sembari menghormati capaian-capaian itu, negara kita harus menguatkan kerja sama dalam urusan internasional dan kawasan, menjunjungi Lima Prinsip Hidup Berdampingan secara Damai dan Semangat Bandung,” tulis Xi.
Lima Prinsip atau Hépíng gòngchǔ wǔ xiàng yuánzé merupakan konsep China soal hubungan luar negeri. Konsep itu seperti ”Mendayung Di Antara Dua Karang” yang dikenalkan Mohammad Hatta sebagai konsep politik luar negeri RI.
Serial Artikel
Sudah Surplus, China Masih Bujuk ASEAN Dekatkan Perdagangan
China surplus hampir 1 triliun dollar AS dari ASEAN dalam 10 tahun terakhir. Menggunakan sentimen sebagai sesama korban penjajahan, China ajak hubungan lebih dekat.
KAA ditulis Xi dalam bagian soal sejarah relasi China dengan mitra-mitranya. Xi menekankan, relasi China dengan negara-negara di kawasan sudah terbentuk ribuan tahun. Jauh sebelum China dan negara kawasan berbentuk seperti sekarang, relasi sudah terbentuk.
Ia, antara lain, menyinggung delegasi wangsa Chenla mendatangi Chang'an, ibu kota China di era dinasti Tang. Delegasi Chenla disambut sebagai Binhan atau tamu kehormatan di Chang'an. Chenla merupakan wangsa yang memerintah Funan, kerajaan yang wilayahnya kini menjadi Kamboja.
Sementara dengan Malaysia, Xi menyinggung soal bantuan pejuang Malaysia menjaga jalur pasokan untuk perjuangan bangsa China melawan penjajah Jepang. Jalur itu, tulis Xi, amat penting bagi perjuangan bangsa China.
Jauh sebelum bantuan itu, Semenanjung Malaya disambangi peziarah dari masa Dinasti Tang dan Dinasti Ming. Begitu banyak peninggalan sejarah dari lawatan itu masih terus terpelihara di Malaysia sampai sekarang.
Ada pun di Vietnam, Xi menyinggung saling bantu China-Vietnam melawan penjajah. Ho Chi Minh ikut perang bersama pejuang China melawan penjajahan Jepang. Sebaliknya, pejuang China membantu Vietnam mengusir pasukan Perancis. ”Persahabatan Vietnam dan China sangat agung karena kita kamerad dan saudara,” tulis Xi.
Serial Artikel
Vietnam-China, Dua Negara Komunis Terbang Tinggi
Vietnam dan China sepakat bekerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, dan infrastruktur. China mendorongnya lebih jauh.
Artikel di Vietnam dimulai Xi dengan mengutip pepatah yang kurang lebih bermakna, akhir musim semi penuh semangat. Pepatah itu sudah lama dikenal baik bangsa Vietnam atau China.
Di ujung musim semi lazimnya komunitas petani di China dan Vietnam bersemangat karena sebentar lagi panen. Akhir musim gugur juga berarti pesta akan segera digelar. Semua membawa kegembiraan.
Sementara di Malaysia, Xi mengutip pepatah melayu: air dicincang tidak akan putus. Pepatah itu kurang lebih bermakna soal hal-hal yang tidak mungkin dipisahkan. Sebelum mengutip itu, Xi menulis soal China-Malaysia dihubungkan oleh lautan. Relasi Malaysia-China disebutnya terjalin lebih dalam setidaknya 2.000 tahun terakhir.
Di Kamboja, meski dipenuhi aneka kata berbunga, Xi tidak mengutip pepatah lama. Meski demikian, seperti disiarkan The Phnom Pehn Post, Pemerintah Kamboja memilihkan sejumlah pepatah lama. Pepatah itu, menurut lembaga-lembaga Kamboja, merupakan favorit Xi.
Salah satunya adalah ”kelezatan sup bergantung campuran beragam bumbu”. Pepatah itu merefleksikan pentingnya keragaman. Dalam dunia yang kini dipenuhi upaya-upaya unilateral, promosi pada keragaman semakin menjadi hal yang penting.