Sudah Surplus, China Masih Bujuk ASEAN Dekatkan Perdagangan

China surplus hampir 1 triliun dollar AS dari ASEAN dalam 10 tahun terakhir.  Menggunakan sentimen sebagai sesama korban penjajahan, China ajak hubungan lebih dekat.

16 Apr 2025 12:11 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

KUALA LUMPUR, RABU — Malaysia menyambut meriah Presiden China Xi Jinping. Malaysia satu-satunya negara ASEAN yang selalu surplus besar dari berdagang dengan China. Sementara anggota lain ASEAN menanggung defisit sampai puluhan miliar dollar AS per tahun.

Xi disambut secara resmi Raja Malaysia Yang Dipertuan Agung XVII Sultan Ibrahim, Rabu (16/4/2025) di Istana Negara Malaysia di Kuala Lumpur. Sementara kala tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur pada Selasa sore, Xi disambut Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di ujung tangga pesawat. Amat jarang kepala negara lain disambut dengan cara itu di Malaysia.

Xi terakhir kali ke Malaysia pada 2013. ”Saya tidak sabar menyaksikan sendiri kemajuan dan transformasi luar biasa Malaysia,” tulis Xi dalam artikel yang diterbitkan sejumlah media Malaysia pada Selasa.

Dalam artikel itu, Xi menyebut relasi China-Malaysia kuat setidaknya dalam 2.000 tahun terakhir. Ia menggunakan peribahasa Melayu, ”air dicincang tak akan putus”, untuk menggambarkan kuatnya hubungan itu. ”Seiring waktu, hubungan persahabatan yang kuat di antara bangsa kita semakin kokoh,” tulisnya.

Ia juga membawa sentimen sebagai sesama korban penjajahan Jepang dan Eropa. ”Sekitar 80 tahun lalu, waktu perang perlawanan bangsa China terhadap penjajahan Jepang mencapai titik penting, pengemudi dan mekanik sukarelawan dari Malaysia secara berani mencapai Provinsi Yunna, membantu Jalan Raya Burma beroperasi, sebagai jalur pasokan penting bagi perlawanan China,” lanjutnya.

Tak cuma perang di China, ia juga menyinggung soal pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA). ”Kita harus menjunjung sistem internasional yang berpusat pada PBB dan tatanan global yang berbasis hukum internasional, serta mendorong tata kelola global yang lebih adil,” tulis Xi.

Surplus dagang

Kekuatan hubungan Malaysia-China antara lain tergambar di neraca perdagangan kedua negara. China menjadi mitra dagang teratas Malaysia. Dari China, Malaysia mengakumulasi surplus 147 miliar dollar AS pada 2015-2024.

Dari tiga negara ASEAN yang disambangi Xi kali ini, cuma Malaysia selalu surplus dengan China. Sementara Kamboja dan Vietnam selalu mencatatkan defisit dari berdagang dengan China.

ASEAN salah satu sumber surplus China. Pada 2015-2024, akumulasi surplus China dari ASEAN bernilai 989 miliar dollar AS. Selain Malaysia, walau jauh lebih kecil, Brunei Darussalam dan Laos konsisten menikmati surplus perdagangan dengan China dalam satu dekade terakhir.

Di periode sama, Indonesia hanya menikmati surplus pada 2021-2023. Sisanya selalu defisit dari berdagang dengan China.

Neraca perdagangan ASEAN-China

Otoritas kepabeanan China, GAC, menyebut ASEAN mitra dagang terbesar China. Pada caturwulan I-2025, 16,6 persen perdagangan luar negeri China dilakukan dengan ASEAN.

Juru bicara GAC, ​​Lu Daliang, menyebut bahwa 90,1 persen komoditas perdagangan ASEAN-China berupa produk manufaktur. Selain itu, komoditas pertanian juga termasuk yang penting.

”Pada caturwulan I-2025, China mengimpor produk pertanian senilai 52,65 miliar yuan dari negara-negara ASEAN. Ini meningkat 13,8 persen. Sementara China mengekspor produk pertanian senilai 37,92 miliar yuan ke negara-negara ASEAN, naik 1,4 persen,” kata Lu kepada harian Global Times.

Ia juga mengatakan, konektivitas pembangunan infrastruktur antara China dan negara-negara ASEAN yang terus berkembang. Ini membuka jalan bagi pertukaran perdagangan yang lebih lancar sehingga kemudian meningkatkan hubungan ekonomi.

Ia juga mencatat perundingan untuk Kawasan Perdagangan Bebas (FTA) China-ASEAN Versi 3.0 telah diselesaikan secara substantif. ”Kedua pihak akan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan dalam industri yang sedang berkembang, seperti ekonomi digital dan hijau, serta konektivitas rantai pasokan, sekaligus meningkatkan integrasi di bidang-bidang seperti standar dan peraturan,” kata Lu.

Malaysian King Sultan Ibrahim (R) walks with Chinese President Xi Jinping during a welcoming ceremony at the National Palace in Kuala Lumpur on April 16, 2025. (Photo by Vincent Thian / POOL / AFP)

Perang dagang

Meski sudah surplus hampir 1 triliun dollar AS, China masih mengajak ASEAN menjalin hubungan ekonomi lebih dekat. Pesan itu dibawa Xi dalam rangkaian lawatan ke Asia Tenggara kali ini. ”Kita harus menjunjung sistem perdagangan multilateral, menjaga rantai pasok dan industri global stabil, serta menjaga keterbukaan dan kerja sama internasional,” tulis Xi

China akan bekerja sama dengan Malaysia dan anggota lain ASEAN melawan upaya pelemahan sistem global. Kerja sama juga untuk menolak proteksionisme dan unilateralisme. ”Demi menjaga perdamaian dan pembangunan,” lanjutnya.

Perdagangan bebas memang menjadi salah satu pesan Xi dalam lawatan ini. Ia menampilkan negaranya sebagai entitas stabil, bisa dipercaya, dan punya kepastian.

Meski dirancang sejak beberapa bulan lalu, waktu lawatan Xi kini bertepatan dengan perang dagang baru. Perang dagang itu dipicu keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan tarif bea masuk impor (BMI).

Pada hari kedatangan Xi di Malaysia, AS menaikkan BMI China menjadi 245 persen. Sementara BMI Malaysia tetap 24 persen.

Xi menyebut, tidak akan ada pemenang dalam perang dagang. Meski demikian, China balik mengenakan BMI 125 persen pada semua impor dari AS.

Bukan cuma itu, Beijing juga melarang semua maskapai China melanjutkan pembelian pesawat-pesawat buatan Boeing. Penjualan pesawat Boeing salah satu andalan ekspor AS ke China. Pada 2025-2027, maskapai-maskapai China dijadwalkan menerima 179 unit pesawat Boeing.

Pembelian suku cadang pesawat buatan AS juga dilarang. Alasannya, biaya pembelian akan meningkat akibat perang dagang.

Dengan kondisi ini, maskapai China akan didorong membeli pesawat-pesawat Comac atau Airbus. Comac merupakan produsen pesawat China.

This handout photo taken and released by Malaysia's Department of Information on April 15, 2025 shows Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim (C) shaking hands with China's President Xi Jinping (R) upon his arrival at the Bunga Raya VIP complex of Kuala Lumpur International Airport in Sepang. (Photo by Farhan ABDULLAH / MALAYSIA'S DEPARTMENT OF INFORMATION / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / MALAYSIA'S DEPARTMENT OF INFORMATION" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Pertahankan pengaruh

Peneliti di Institut Urusan Internasional Singapura Oh Ei Sun mengatakan, tujuan utama kunjungan Xi untuk memastikan pengaruh China di Asia Tenggara tetap kuat. Lawatan juga untuk memastikan Asia Tenggara tetap menjadi mitra dagang utama China.

China juga punya kesempatan memproyeksikan bagaimana negara itu akan bertindak sebagai negara adikuasa yang bertanggung jawab. ”China dapat menawarkan banyak hal kepada Vietnam dan negara-negara ASEAN lainnya selama periode yang tidak menentu ini. Saya kira China dapat menjadi pemimpin,” kata Guru Besar Studi Vietnam di Universitas Fullbright Vietnam, Nguyen Thanh Trung.

Infografik riset Tensi Panas Perang Tarif AS-China

Guru Besar Studi ASEAN di Universitas Islam Internasional Malaysia, Phar Kim Beng, kepada CGTN menjelaskan, perdagangan ASEAN-China selama 10 tahun terakhir sudah berevolusi. Dari pertukaran berbasis komoditas tradisional menjadi hubungan ekonomi yang sangat terintegrasi dan digital.

Pergeseran ini didorong perjanjian perdagangan bebas regional, kemajuan teknologi, dan pesatnya pertumbuhan lokapasar. Semua itu menghubungkan bisnis dan konsumen lintas batas.

Formalisasi perdagangan ASEAN-China memperoleh momentum dengan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA), yang ditandatangani pada 2002 dan dilaksanakan sepenuhnya pada 2010.

Perjanjian ini secara signifikan mengurangi tarif dan memfasilitasi perdagangan lintas batas, menjadikan China mitra dagang terbesar ASEAN sejak 2009. Pada tahun 2023, perdagangan ASEAN-China melampaui 900 miliar dollar AS. China juga muncul sebagai tujuan ekspor terbesar ASEAN.

Perekonomian ASEAN diuntungkan permintaan China akan bahan mentah, barang pertanian, dan produk antara. Sementara China memasok ASEAN dengan barang elektronik konsumen, mesin industri, dan produk teknologi tinggi.

Selain itu, Prakarsa Sabuk dan Jalan memainkan peran penting dalam memperluas infrastruktur perdagangan regional, termasuk investasi di pelabuhan, jalan raya, dan rel kereta api, yang selanjutnya meningkatkan konektivitas rantai pasokan.

”Hanya saja, masa depan perdagangan ASEAN-China akan bergantung pada penyeimbangan keterlibatan ekonomi dengan China sambil memastikan stabilitas regional dan ketahanan ekonomi jangka panjang,” kata Phar. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari