Bang Doel melihat bantaran Kali Krukut dan Kali Mookervart. Warga ditawarkan relokasi ke rusun.
21 Feb 2025 17:38 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno blusukan ke dua lokasi langganan banjir pada hari pertama kerja. Rano melihat kondisi dan kendala pengendalian banjir. Dia juga berdialog dengan warga tentang kemungkinan relokasi ke rumah susun.
Rano dan organisasi perangkat daerah terlebih dulu melihat pengerukan Kali Krukut di Jalan NIS, Kelurahan Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Jumat (21/2/2025) pagi. Mereka menyusuri beberapa titik dekat permukiman warga yang tengah dikeruk dan sebagian diturap.
Di sana, banyak rumah berdiri di bantaran kali. Bahkan, ada bangunan yang mengokupansi badan kali. Tanggul dari karung juga tidak optimal menahan air. Lebar kali juga kian sempit akibat sedimentasi.
”Panjang kali 700 meter, tetapi sempit. (Akibat akses jalan terbatas) alat berat kesulitan masuk. Kendala-kendala teknis di lapangan harus dipahami dan segera cari solusinya,” kata Bang Doel, sapaan akrab Rano Karno.
Ke depan, ia meminta warga tidak mendirikan bangunan di atas turap. Alasannya, praktik itu hanya akan membuat pengendalian banjir tidak optimal. Sebaliknya, warga ditawarkan relokasi ke rusun.
Menurut Bang Doel, relokasi paling memungkinkan. Namun, kata dia, tawaran itu mesti dibarengi sosialisasi dan ketersediaan unit hunian.
”Makanya, tadi saya tanya kepada warga, sudah berapa tahun kena banjir? Setiap tahun. Apa mau begini terus? Mereka bilang tidak mau. Jadi ada keinginan pindah. Yang penting harus kita ubah nasib,” kata Bang Doel.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/21/b024890c-b932-4571-9113-643e3872a088_jpg.jpg)
Warga menyambut baik upaya Pemprov DKI Jakarta. Mereka mengatakan sudah lelah menghadapi banjir.
Ayana (74), warga Jalan NIS, misalnya, sampai kehilangan harta benda akibat banjir. Itu karena rumahnya terendam hingga ketinggian lebih dari 1 meter. ”Habis barang-barang pada hanyut semua,” ujar Ayana.
Ia berharap kedatangan Bang Doel pertanda keseriusan pemerintah untuk rutin mengeruk Kali Krukut. Itu sekaligus menuntaskan penurapan agar air tidak meluap ke permukiman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/21/73e196d5-9f47-3ab5-b5e9-11d74253030a_jpg.jpg)
Selanjutnya, Bang Doel meninjau pengerukan Kali Mookervart segmen Jalan Rawa Buaya dan Jalan H Dairi, Jakarta Barat. Panjangnya 1.040 meter dengan lebar 30 meter dan tinggi 1 meter.
Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta menargetkan pengerukan 31.200 meter kubik lumpur dari aliran tersebut. Pengerukan mulai dilakukan 12 Februari hingga 31 Agustus.
Yatima (48), warga, berharap Pemprov DKI Jakarta bisa membantu pompa. Sebab, kontrakan warga lebih rendah daripada kali sehingga banjir lama surut. ”Harus pakai pompa biar air cepat surut,” kata Yatima.
Tati (52), warga lainnya, juga menyampaikan hal serupa. Warga tidak bisa meninggikan rumah atau merenovasi karena hanya berstatus pengontrak. ”Jadi susah. Kami hanya bikin semacam panggung untuk amankan barang-barang. Kalau air makin tinggi, harus mengungsi,” tutur Tati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/21/93785d36-1d3f-3878-8f22-9fa0aaec0d48_jpg.jpg)
Akan tetapi, keduanya mengatakan, masih pikir-pikir jika ditawarkan relokasi ke rusunawa. Salah satu alasanya, nominal biaya sewa.
Mereka berharap, harganya sama dengan sewa kontrakan saat ini, Rp 500.000 sampai Rp 600.000 per bulan. ”Kami pikir-pikir dulu (untuk pindah) walaupun (di sana) tidak kebanjiran,” ujar Tati.
Seusai blusukan ke kali, Bang Doel juga menyempatkan diri ke Rusunawa Pesakih, Cengkareng, Jakarta Barat. Ia berbincang dengan pengelola terkait ketersediaan air dan fasilitas lainnya.
Bang Doel lantas melihat-lihat salah satu lantai rusunawa. Politisi PDI-P ini mengobrol dengan salah satu warga karena kebanyakan penghuni sedang bekerja.
Menurut dia, jika warga dari bantaran kali maupun kawasan kumuh bersedia tinggal di rusun, permasalahan permukiman di Jakarta dapat teratasi secara perlahan. Untuk itu, butuh sosialisasi secara masif agar warga bersedia direlokasi.
”Jadi kami bujuk warga agar mau pindah dengan pendekatan yang baik. Jika itu berhasil, kami lanjut upayakan yang lainnya, seperti kebersihan dan semua kewajiban penghuni rusunawa,” ucap Bang Doel.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Cornelius Helmy Herlambang