Banjir dan Longsor Landa Belasan Kecamatan di Kawasan Timur Pantura Jateng

Tiga daerah wilayah timur pantura Jateng, yaitu Pati, Kudus, dan Jepara, dilanda banjir dan longsor. Belasan kecamatan terendam dan satu desa di Jepara terisolasi.

11 Jan 2026 16:28 WIB · Lingkungan

DOK BPBD JEPARA

Oleh Kristi Dwi Utami

PATI, KOMPAS — Banjir dan tanah longsor melanda belasan kecamatan di wilayah timur pantai utara atau pantura Jawa Tengah, yakni Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara, dalam beberapa hari terakhir. Ribuan rumah terdampak dan satu desa terisolasi di kawasan yang juga dikenal sebagai Muria Raya atau eks Keresidenan Pati itu.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat melanda Muria Raya pada Jumat dan Sabtu (9-10/1/2026). Di Pati, kondisi itu membuat debit air di sejumlah sungai meningkat. Di beberapa titik tanggul sungai jebol hingga akhirnya air meluap ke permukiman dan lahan pertanian warga.

”Tanggul sungai yang jebol ada banyak. Rata-rata di sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Kendeng ataupun di Gunung Muria. Jebolnya karena muka air sungai saat itu sudah di atas ketinggian tanggul sehingga tidak mampu menahan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati Martinus Budi Prasetya saat dihubungi, Minggu (11/1/2026).

Lumpur dan sampah yang terbawa banjir berada di sebuah permukiman di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026). Dalam beberapa hari terakhir, ada sembilan kecamatan di Pati yang dilanda banjir akibat jebolnya sejumlah tanggul sungai.

Awalnya, banjir hanya melanda enam kecamatan, yakni Dukuhseti, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Pati, dan Margorejo. Kemudian, banjir meluas hingga ke tiga kecamatan lain, yakni Pucakwangi, Winong, dan Tambakromo.

Ketinggian banjir di puluhan desa di sembilan kecamatan tersebut beragam. Banjir tertinggi sekitar 1 meter melanda Kecamatan Tambakromo. Pada Minggu, mayoritas wilayah yang dilanda banjir sudah surut. Salah satu desa yang masih tergenang adalah Ngurenrejo di Kecamatan Wedarijaksa. Di wilayah itu, pompa air akan dikerahkan agar banjir yang masih menggenang lekas surut.

Tak hanya banjir, tiga kecamatan di Pati juga dilanda tanah longsor, yaitu Gunungwungkal, Tlogowungu, dan Gembong. Setidaknya ada 13 titik longsor yang tersebar di tiga kecamatan yang berada di lereng Gunung Muria tersebut.

Perbaikan terhadap tanggul sungai yang jebol dilakukan setelah banjir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026). Dalam beberapa hari terakhir, ada sembilan kecamatan di Pati yang dilanda banjir akibat jebolnya sejumlah tanggul sungai

Selain karena hujan lebat, banjir ataupun tanah longsor di Pati terjadi karena rusaknya wilayah tangkapan air, baik di lereng Gunung Muria maupun di Pegunungan Kendeng. Di wilayah tersebut, hutan yang dulunya didominasi tanaman keras yang mampu menahan air diganti dengan tanaman semusim, seperti jagung dan ketela pohon.

Martinus berharap penanaman tanaman keras kembali dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah tangkapan air. Dengan demikian, risiko bencana, seperti banjir ataupun tanah longsor, bisa ditekan.

”Demikian juga aktivitas galian C, seperti di wilayah Kendeng, menurut saya, harus dihentikan karena itu sangat berpengaruh. Jadi, beberapa waktu lalu, di Kecamatan Sukililo dan Kayen itu sempat ada kejadian longsor karena aktivitas penambangan di Kendeng,” ucap Martinus.

Area permukiman warga yang tergenang lumpur dan merusak bangunan rumah setelah banjir bandang menerjang Desa Sinomwidodo, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (1/12/2022). Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (30/12/2022) pukul 16.00 setinggi satu hingga dua meter ini menyebabkan belasan rumah rusak parah dan beberapa di antaranya roboh. Banjir tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan warga mengungsi. Banjir serupa juga menjadi ancaman tahunan disebebkan kondisi lereng Gunung Kendeng mengalami alih fungsi lahan dan banyaknya penambangan batu kapur serta pendangkalan sungai. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 01-12-2022

Martinus menyebut, pihaknya belum mengetahui secara pasti kerugian ataupun jumlah rumah warga yang terdampak banjir ataupun tanah longsor di wilayahnya. Hal itu disebutnya masih didata.

Saat ini, pemerintah setempat fokus pada perbaikan tanggul-tanggul yang jebol, mengerahkan petugas, sukarelawan, ataupun alat berat untuk membersihkan fasilitas umum yang dilanda banjir, serta mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan warga.

Banjir dan tanah longsor juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Kudus pada Jumat dan Sabtu. Banjir dengan ketinggian 5-60 sentimeter melanda 10 desa di empat kecamatan, yaitu Mejobo, Kudus, Jekulo, dan Bae. Sebanyak 1.640 rumah yang ditinggali sekitar 8.409 jiwa terdampak.

Pelajar dan sukarelawan bergotong royong membersihkan salah satu sekolah yang terdampak banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Di Kudus, banjir dengan ketinggian 5-60 sentimeter melanda 10 desa di empat kecamatan, yaitu Mejobo, Kudus, Jekulo, dan Bae. Sebanyak 1.640 rumah yang ditinggali sekitar 8.409 jiwa terdampak.

”Tanah longsor terjadi di delapan desa di tiga kecamatan, yaitu Gebog, Dawe, dan Bae. Titik longsornya sekitar 82,” ujar Kepala BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan.

Tanah longsor juga merusak sejumlah rumah warga. Berdasarkan pendataan BPBD, sebanyak 19 rumah rusak ringan, sedang, hingga berat. Selain rumah, longsor juga merusak dua kendaraan dan menutupi 65 akses jalan.

Pada Minggu, banjir di Kudus juga berangsur surut. Perbaikan tanggul-tanggul sungai yang jebol juga mulai dilakukan meskipun baru sebatas perbaikan darurat. Material longsoran yang menutupi jalan juga telah dibersihkan.

Akses jalan tertutup material usai longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Akses menuju desa yang ditinggali oleh 3.522 jiwa tersebut putus total hingga Minggu (11/1/2026).

Satu desa terisolasi

Di Jepara, tanah longsor melanda Desa Tempur, Kecamatan Keling, setelah wilayah itu diguyur hujan lebat pada Jumat. Akibat bencana itu, akses jalan menuju desa yang dihuni 3.522 jiwa tersebut putus total.

”Ada 18 titik longsor dengan karakteristik rusak berat hingga kritis. Titik terparah berada di lokasi pertigaan samping spot foto Selamat Datang. Badan jalan hilang total sepanjang 50 meter karena tergerus aliran Sungai Gelis. Titik kritis lain berada di lokasi Jembatan Mbah Sujak, jalan terkikis sedalam 6 meter akibat sungai yang berpindah aliran,” kata Kepala BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto.

Selain membuat satu desa terisolasi, tanah longsor juga merusak enam rumah. Jaringan listrik di desa itu juga lumpuh karena satu tiang listrik roboh dan satu lainnya miring.

Arwin mengatakan, berbagai upaya terus dilakukan untuk memulihkan kembali akses menuju ke desa tersebut. Petugas hingga sukarelawan telah diterjunkan untuk membantu membersihkan meterial longsor. Alat-alat berat juga telah dikerahkan.

”Kendala utama adalah cuaca ekstrem yang berpotensi memicu longsor susulan dan banyaknya material batu besar yang masih berjatuhan. Kami juga masih memerlukan alat berat tambahan berupa ekskavator untuk menangani material besar, alat konvensional untuk mempercepat pembersihan, dan logistik untuk menjamin pasokan bagi ribuan warga terdampak,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji