Pemerintah sedang membangun hunian sementara bagi korban longsor di Cilacap dan Banjarnegara. Setelah itu, hunian tetap juga akan disiapkan.
01 Des 2025 20:13 WIB · Lingkungan
ANTARA/Aprillio Akbar
SEMARANG, KOMPAS — Ribuan korban bencana tanah longsor di Kabupaten Cilacap dan Banjarnegara, Jawa Tengah, masih bertahan di pengungsian maupun di rumah saudaranya hingga Senin (1/12/2025). Pemerintah sedang mengebut pembangunan hunian sementara atau huntara bagi warga yang rumahnya tidak bisa lagi ditinggali karena roboh atau tertimbun material longsor.
Di Kabupaten Cilacap, bencana tanah longsor melanda wilayah Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025) malam. Sebanyak 21 orang tewas dan dua orang yang diduga tertimbun material longsor belum ditemukan hingga operasi pencarian korban diakhiri pada Sabtu (22/11/2025).
Dalam bencana itu, sebanyak 16 rumah roboh dan tertimbun material longsor serta 281 rumah rusak ringan hingga sedang. Rumah-rumah itu juga berada di tanah yang retak atau lokasi rawan longor. Akibatnya, sekitar 1.042 orang yang menghuni 296 unit rumah itu hingga Senin masih mengungsi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/11ce0302f211b335347c944eac3c12c6-000_83Z43G4.jpg)
"Sebagian masih di pengungsian dan ada juga yang menumpang di rumah saudaranya. Yang di pengungsian itu kalau siang hari dan cuacanya cerah, mereka kadang kembali ke rumahnya masing-masing," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Taryo, saat dihubungi, Senin.
Taryo mengatakan, karena masih ada warga yang mengungsi, dapur umum dari dinas sosial setempat masih dioperasikan untuk menyuplai kebutuhan pangan warga. Sejumlah petugas kesehatan juga rutin memantau kondisi kesehatan para pengungsi.
Sembari mengurus pengungsi, pemerintah juga mulai membangun hunian sementara (huntara) bagi para korban longsor, terutama yang rumahnya tidak bisa lagi ditempati. Hunian sementara disiapkan pemerintah di lahan seluas 3,7 hektar di Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Lahan milik pemerintah itu terletak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi bencana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/7d3fa2e3831996945ddfb9fca55e5f6d-AP25318113676690.jpg)
Taryo mengatakan, untuk sementara, ada 16 unit huntara yang akan dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga dua pekan sejak dibangun, ada dua huntara yang selesai dibangun. Pembangunan huntara itu akan dikebut supaya bisa segera ditempati warga.
Setelah mendapatkan huntara, warga yang rumahnya rusak atau berada di wilayah rawan juga akan dibangunkan hunian tetap atau huntap oleh BNPB. Huntap bakal dibangun di lahan pemerintah yang sudah dikaji oleh Badan Geologi dan dinyatakan aman dari bencana.
"Data sementara, kami mengusulkan 296 unit huntap. Tapi, ini kemungkinan bisa berubah, berkurang atau bertambah tergantung hasil kajian dari Badan Geologi. Kami masih menunggu," ucap Taryo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/984888512842effb044c97d82189ae84-20251119DRA067.JPG)
Sementara itu, di Banjarnegara, tanah longsor terjadi di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Minggu (16/11/2025) siang. Dalam bencana tersebut, 17 orang tewas dan 11 orang yang diduga tertimbun longsor belum bisa ditemukan hingga hari terakhir pencarian pada Selasa (25/11/2025).
Bencana itu juga menyebabkan 48 unit rumah roboh dan 195 unit rumah rusak ringan atau sedang. Hingga Senin, sebanyak 218 jiwa yang rumahnya hilang atau rusak parah disebut Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Banjarnegara, Raib Saekhudin masih mengungsi di pengungsian maupun di rumah saudaranya.
Menurut Raib, BNPB sedang membangun 50 unit huntara bagi korban tanah longsor yang rumahnya tidak bisa lagi ditinggali. Rencananya, 50 huntara itu didirikan di lahan seluas 3 hektar milik pemerintah. Ukurannya masing-masing 5 meter x 7,2 meter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/225ed283d9d15fb02d98fb11a093ce65-antarafoto_jumlah_pengungsi_korban_longsor_situkung_banjarnegara_1763611797.jpg)
Ke depan, Pemkab Banjarnegara disebut Raib juga bakal mengusulkan pembangunan huntap untuk para korban bencana. Berdasarkan pendataan sementara, mereka bakal mengusulkan pembangunan huntap sebanyak 200 unit.
"Kalau di lokasi (berdirinya) huntara itu tidak cukup untuk 200-an rumah, nanti dicarikan lahan lain. Sebab, ada juga warga yang maunya huntapnya dibangun di lahan mereka sendiri, biar dekat dengan tempat mereka bertani," ujar Raib.
Wakil Bupati Banjarnegara Wakhid Jumali mengatakan, pembangunan huntara maupun huntap bakal dikebut. Pembangunan huntara diharapkan selesai sebelum akhir tahun. Adapun pembangunan huntap ditargetkan bisa dimulai awal 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/8789f0647288d69b9b902a620c18f607-20251119DRA044.JPG)
”(Pembangunan huntara dan huntap) harus segera dilakukan karena kasihan, kan, kalau mereka terus-terusan tinggal di pengungsian atau huntara. Biar mereka juga bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya,” kata Wakhid.
Warga terdampak bencana juga bakal dibantu dalam pemulihan ekonomi. Hingga kini, pendataan terkait kerugian ekonomi masyarakat akibat bencana tersebut masih terus dihitung.
"Kami juga kemarin sudah minta ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan relaksasi kepada warga. Untuk sementara enggak mengangsur kreditnya dulu karena selama bencana ini, mereka tidak bisa bekerja, otomatis tidak ada pendapatan," ucap Wakhid.
Wakhid juga menyebut, pemerintah bakal membantu para petani yang tanamannya rusak akibat bencana. Warga yang ternaknya mati atau hilang dalam bencana juga disebut Wakhid bakal dibantu.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Retma Wati