Koordinasi lebih erat antara pemerintah daerah dan masyarakat diperlukan guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi.
04 Mar 2025 10:30 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan telah memberikan peringatan potensi hujan amat lebat hingga ekstrem untuk sejumlah wilayah di Indonesia dalam dua hari terakhir. Namun, pemerintah daerah dinilai lambat merespons.
Intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi, khususnya di bagian barat Indonesia dan Papua, seiring terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hujan lebat di Kabupaten Bogor pada Minggu (2/3/2025) malam, memicu banjir bandang yang menyebabkan seorang warga meninggal. Tujuh jembatan rusak dan 1.399 orang dari 381 keluarga di Bogor terdampak banjir.
Banjir juga meluas di Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin (3/3/2025) malam. Wilayah terdampak antara lain Pondok Aren, Pamulang, Ciputat, dan Serpong Utara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tangerang Selatan mencatat, 1.870 rumah terdampak banjir.
Di Jakarta, banjir juga dilaporkan melanda sejumlah wilayah, terutama dipicu luapan Kali Pesanggrahan dan Kali Ciliwung. Banjir terutama terjadi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam beberapa hari terakhir menyebutkan, hujan dengan intensitas amat lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kota Cirebon, Riau, Kabupaten Bogor, Kabupaten Mimika, Padang Pariaman, dan Manggarai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/9eaca82b2fe3e6309f619a33323ecfac-20250303BAH16.jpg)
Kepala Badan BMKG Dwikorita Karnawati, Selasa (4/3/2025), mengatakan telah secara aktif memberikan informasi cuaca terkini di daerah yang dilanda hujan lebat hingga ekstrem itu.
Namun, kesiapan daerah dalam merespons peringatan dini masih perlu ditingkatkan guna mengurangi dampak bencana yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.
Peran serta pemerintah daerah dalam mitigasi bencana amat krusial, terutama dalam memastikan tiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan.
Dwikorita menambahkan, peringatan dini bukan sekadar informasi, tetapi juga seruan untuk tindakan nyata. Kecepatan dan kesiapan merespons peringatan dini cuaca ekstrem sangat menentukan upaya mitigasi risiko, baik dari segi korban jiwa maupun kerugian materiil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/877e94e8-0243-4e8f-91d5-ef867cf2bb2f_jpg.jpg)
”Kami terus menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem melalui berbagai kanal komunikasi resmi, termasuk website, aplikasi mobile, SMS blasting, dan media sosial BMKG. Namun, efektivitas peringatan dini ini bergantung kesiapan daerah merespons dengan aksi konkret,” tuturnya.
Dwikorita menambahkan, diperlukan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan masyarakat guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi secara lebih cepat dan efektif.
Intensitas hujan tertinggi di Indonesia 24 jam terakhir terekam di Stasiun Meteorologi Citeko, Jawa Barat, mencapai 115 milimeter (mm) per hari, disusul Stasiun Klimatologi Banten 94 mm per hari, dan Stasiun Meteorologi Fl Tobing, Sumatera Utara, sebesar 77 mm.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/03/043f9e786c844d72812981ebdce18843-BPBDx.jpg)
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, Selasa (4/3/2025), menuturkan, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah pada periode 4-11 Maret 2025. Potensi hujan lebat ini terutama di bagian barat dan Kepulauan Papua.
Gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Low Frequency, dan Kelvin diprediksi tetap aktif di sebagian besar Sumatera, Jawa bagian Barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua. Ini berdampak pada peningkatan pertumbuhan awan hujan dengan intensitas bervariasi di area tersebut.
”Curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi dan perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terdampak cuaca ekstrem,” ujarnya.
Guswanto menambahkan, analisis terbaru menunjukkan terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia, tepatnya di barat Aceh, serta di selatan Papua. Hal ini memicu perlambatan kecepatan angin atau konvergensi di berbagai perairan, termasuk Laut Natuna, Laut Banda, perairan selatan Sulawesi, Laut Arafuru, dan Maluku.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/e7c2709e-147b-4141-922f-8d14b8f7ef8e_jpg.jpg)
Selain itu, daerah pertemuan angin (konfluensi) terdeteksi membentang di Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru, hingga Papua bagian selatan.
Curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi dan perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terdampak cuaca ekstrem.
Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya juga terpantau memanjang dari Pesisir Timur Riau hingga Kepulauan Riau, dari Sumatera Barat hingga Sumatera Selatan, dari Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan Jawa Barat, dari Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan, dari Laut Sulawesi hingga Kalimantan Timur.
Kondisi ini berpotensi memicu peningkatan curah hujan di wilayah-wilayah tersebut dan dapat berdampak pada aktivitas maritim serta masyarakat pesisir.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang masih aktif di Kepulauan Papua memperkuat dinamika atmosfer di kawasan timur Indonesia. MJO berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konveksi yang dapat memperbesar potensi hujan deras di sejumlah wilayah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/03/bc3e6f3a-235c-47a8-a2f9-95702e83365f_jpg.jpg)
Analisis BMKG menujukkan, perkembangan awan konvektif di berbagai daerah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, serta hampir semua wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kondisi ini berperan dalam mendukung pembentukan awan hujan, terutama pada siang hingga sore atau malam hari. ”Aktivitas atmoster meningkat,” ujarnya.
Oleh karena itu, BMKG mengimbau agar warga di area terdampak untuk mewaspadai hujan lebat disertai kilat, angin kencang, hingga banjir. ”Pemantauan cuaca secara berkala sangat penting untuk mengantisipasi dampak dari dinamika atmosfer yang terus berkembang,” ujar Guswanto.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji