Investor asing mencatatkan jual bersih hampir 3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 48 triliun pada 1-18 September 2025.
23 Sep 2025 21:02 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Investor masih menunggu konsolidasi kebijakan moneter longgar dan rencana fiskal agresif di triwulan IV-2025 dalam negeri belakangan. Mereka menantikan komitmen disiplin fiskal, transparansi anggaran, dan akuntabilitas sumber pembiayaan program prioritas pemerintah.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto, dalam konferensi pers kondisi pasar keuangan terkini secara daring, Selasa (23/9/2025), menilai, pasar tengah mencermati arah kebijakan fiskal setelah Sri Mulyani Indrawati digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.
Purbaya, ia menilai, menggeser pola disiplin fiskal pada era Sri Mulyani ke kebijakan pro pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan menuju ke 8 persen. Pola ini terlihat dari langkah penempatan Rp 200 triliun dana pemerintah ke bank-bank BUMN. Pemerintah juga baru saja mengumumkan paket ekonomi dan langkah percepatan program prioritas.
Secara paralel, Bank Indonesia (BI) terus memangkas suku bunga hingga total 125 basis poin menjadi 4,75 persen per September 2025. Kebijakan moneter yang longgar ini mendukung pertumbuhan ekonomi.
”Untuk saat ini, saya lihat memang dari sisi pemerintah ataupun dari Bank Indonesia juga kayaknya agak sedikit melonggarkan moneter ataupun fiskal,” kata Rully.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/23/a984adf7874a04be1318a497b9ea8f97-Screenshot_20250923_183043_Chrome.jpg)
Namun, sejauh ini, kebijakan fiskal tersebut belum direspons positif oleh investor di pasar keuangan. Ini terlihat dari derasnya arus keluar investor asing di pasar obligasi dan saham.
Data yang dihimpun Mirae Asset Sekuritas menunjukkan, investor asing mencatatkan nilai penjualan bersih hampir 3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 48 triliun (kurs Rp 16.000 per dollar AS) selama 1-18 September 2025.
Pada periode sama, nilai penjualan bersih investor asing di produk surat utang negara mencapai 2,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35,4 triliun. Padahal, sejak awal tahun mayoritas investor melakukan pembelian dengan nilai bersih Rp 41,8 triliun.
Hal menarik yang terjadi saat ini adalah kala imbal hasil surat utang terus turun, investor asing mencatatkan outflow, baik di pasar obligasi maupun saham. Padahal, umumnya ketika yield-nya turun itu, ada inflow.
Sementara di pasar saham, investor asing pada periode yang sama melakukan penjualan bersih sekitar 0,68 miliar dollar AS atau sekitar Rp 11 triliun. Akumulasi arus keluar sejak awal 2025 telah mencapai Rp 61 triliun.
Terkait derasnya arus keluar di pasar obligasi, Rully mengatakan, situasi itu terjadi di luar kebiasaan. ”Hal menarik yang terjadi saat ini adalah kala imbal hasil surat utang terus turun, investor asing mencatatkan outflow, baik di pasar obligasi maupun saham. Padahal, umumnya ketika yield-nya turun itu, ada inflow (dominasi investasi masuk). Tapi, sekarang memang kondisinya berbeda,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/29/44ef3034-1eea-4f41-a257-dc2157fb2f61_jpg.jpg)
Penurunan suku bunga BI telah berefek pada pengurangan imbal hasil surat utang negara dan menaikkan harga aset tersebut. Sebagai contoh, imbal hasil surat utang negara 10 tahun ada di level 6,3 persen, lebih rendah dari posisi tertinggi 7,3 persen yang pernah tercapai di Januari 2025.
Di tengah derasnya penjualan surat berharga negara (SBN) oleh asing, pembelian oleh investor dalam negeri meningkat. Ini terutama dilakukan oleh institusi, seperti perbankan, lembaga dana pensiun, dana asuransi, dan manajemen investasi. Peningkatan pembelian SBN oleh investor domestik berkisar Rp 40 triliun-Rp 50 triliun.
”Ini mungkin juga sebagai impact dari kebijakan fiskal yang baru, di mana Pak Purbaya itu memberi perbankan likuiditas di sistem keuangan sebanyak Rp 200 triliun. Dana itu, menurut beliau, memang tidak boleh dibelikan SBN. Tapi, tetap dengan perkembangan saat ini, ada kucuran likuiditas di sistem keuangan yang luar biasa longgar,” katanya.
Peningkatan pembelian SBN oleh investor domestik berkisar Rp 40 triliun-Rp 50 triliun.
Di pasar saham, Rully menambahkan, sentimen banjir likuiditas hanya berdampak pada kaburnya investor asing. Sementara itu, kinerja saham yang dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih cemerlang. IHSG hari ini kembali mencetak level tertinggi pada penutupan bursa di level 8.125 atau tumbuh sekitar 15 persen sejak awal tahun.
Catatannya, kinerja IHSG itu ditopang pembelian oleh investor domestik dan kenaikan harga saham-saham konglomerat, contohnya saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), hingga PT Multipolar Technology Tbk (MLPT).
”Melihat dari data IDX, empat saham tersebut berkontribusi terhadap kenaikan indeks sampai dengan penutupan kemarin menyumbang kenaikan hampir 800 poin. Dengan kata lain, kalau tidak ada saham-saham ini mungkin IHSG masih di kisaran di bawah 7.500,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/18/add8adbcc40ede27d66cda625ae8531c-20250918TOK19.jpg)
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro, dalam laporan analisis pasar hari ini, menjelaskan, kaburnya asing dari pasar keuangan dalam negeri juga karena penguatan kurs dollar AS yang berlanjut.
Mengutip Tradingview, indeks dollar AS (DXY) dalam lima hari terakhir menguat 0,35 persen ke 97. Pada saat bersamaan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 1,42 persen ke Rp 16.660.
Kondisi itu, menurut Andry, membuat ekspektasi bahwa suku bunga global tetap tinggi. Dengan demikian, investor asing menarik diri dari aset yang mereka anggap lebih berisiko.
”Arus modal keluar dari pasar domestik karena investor global mencari aset safe haven sehingga likuiditas untuk rupiah menipis dan mendorong depresiasi. Sepanjang September, aliran dana asing keluar dari pasar saham domestik sebesar Rp 1,7 triliun dan dari pasar obligasi keluar sebesar Rp 35,5 triliun,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/af773a87a583e762a8af9073f71998e7-WhatsApp_Image_2025_09_22_at_21.16.23.jpeg)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR dengan Gubernur BI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/9/2025), berharap penurunan suku bunga acuan di dalam negeri akan segera tertransmisi ke penurunan suku bunga kredit bank.
”Harapannya, tentu saja perbankan akan kemudian menurunkan suku bunga dan menyalurkan kelebihan likuiditasnya ke sektor riil,” katanya.
Selain memangkas suku bunga, BI turut melakukan ekspansi likuiditas hingga mencapai Rp 800 triliun. Jumlah itu berasal dari penurunan instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 200,35 triliun, pembelian surat berharga negara (SBN) mencapai Rp 217,1 triliun, dan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) hingga Rp 384 triliun pada pekan pertama September 2025 (Kompas.id, 23/9/2025).
Meski demikian, Perry mengakui, berbagai langkah tersebut masih belum berdampak signifikan terhadap sektor riil. Salah satunya, dipicu belum turunnya suku bunga kredit. Masyarakat cenderung menunggu turunnya suku bunga kredit dan lebih memanfaatkan dana internal untuk pembiayaan usaha.
Kondisi itu tecermin dari rasio kredit yang belum dicairkan di sistem perbankan yang mencapai Rp 2.372,11 triliun pada Agustus 2025. Angka ini setara 22,71 persen dari total plafon kredit yang tersedia yang mencapai Rp 10,447,31 triliun.
Melihat adanya fenomena ketidakseimbangan pasar kredit dibandingkan dengan banjir likuiditas, ia mendorong agar belanja pemerintah ditingkatkan. Hal ini berguna untuk mendorong konsumsi dan investasi sektor riil serta menciptakan optimisme akan prospek ekonomi ke depan.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Retma Wati