Banjir Saat Kemarau, Peringatan Keras Perubahan Iklim

Semakin sering banjir melanda saat seharusnya sedang kemarau. Perlu segera berubah agar bencana tidak semakin merusak.

11 Jul 2025 16:15 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Banjir dan hujan deras saat seharusnya sedang musim panas tengah terjadi di sejumlah negara. Korban tewas melonjak karena banyak yang tak menduga ada banjir di tengah kemarau.

Kantor berita Kyodo melaporkan, layanan kereta cepat Shinkasen dari dan ke Tokyo dihentikan pada Kamis (10/7/2025) malam. Hal ini karena hujan deras sampai memicu potensi banjir dan tanah longsor di Tokyo dan sekitarnya.

Peringatan dikeluarkan kala Jepang seharusnya sedang musim panas. Bahkan, pada Senin-Rabu, suhu di Tokyo mencapai 36 derajat celsius. Sebagian perusahaan sampai meminta karyawan bekerja dari rumah karena suhu terlalu panas.

Di Beijing, curah hujan mencapai 68,2 milimeter per jam pada Kamis. Padahal, di musim panas seperti sekarang, lazimnya tidak ada hujan atau maksimum gerimis saja.

China juga mengeluarkan peringatan soal kondisi 25 sungai di wilayah barat daya. Debit dan ketinggian permukaan air sungai-sungai itu melebihi batas aman. China juga memerintahkan evakuasi lebih dari 10.000 orang di Sinchuan dan Yunnan.

Media China, CCTV, melaporkan, sebagian sungai mencatat permukaan tertinggi sejak 1953. Sementara di Sinchuan, Sungai Xiaocao mencatatkan permukaan tertinggi dalam 29 tahun terakhir.

China, menurut otoritas meteorologi, terimbas monsun Asia di India. Bencana hidrometrologi semakin kerap karena perubahan iklim.

A vendor pushes his cart through a floodded street after heavy monsoon rains in Lahore on July 9, 2025. (Photo by Arif ALI / AFP)

Dalam laporan The Associated Press pada Jumat (11/7/2025), setidaknya 1.300 orang tewas di India karena banjir dan hujan sepanjang 2024. Di sekitar India, jumlah korban tewas akibat bencana hidrometeorologi juga mencapai ribuan jiwa. Seperti Pakistan pada 2022, ada 1.700 orang tewas akibat banjir pandang.

”Lebih dari satu setengah miliar orang tinggal di wilayah yang tidak begitu luas di dunia. Wilayah ini memiliki sistem sungai utama dari wilayah pegunungan Hindu Kush dan Himalaya yang mengalir melaluinya,” ujar Saleemul Haq, Direktur Pusat Internasional untuk Perubahan Iklim dan Pembangunan.

Asia Selatan secara tradisional memiliki dua musim hujan. Musim hujan pertama biasanya Juni hingga September. Pada periode ini hujan bergerak dari barat daya ke timur laut. Musim hujan kedua berlangsung Oktober hingga Desember. Pada periode ini hujan bergerak ke arah sebaliknya.

Namun, seiring meningkatnya suhu global karena lebih banyak emisi gas, musim hujan kini tidak selalu mengikuti kedua pola tersebut. Udara yang lebih hangat juga menahan lebih banyak uap air dari Samudra Hindia.

Pada musim hujan, terjadi banjir besar dan di sela periode kering. ”Kita menyaksikan pergeseran iklim yang jelas dalam pola musim hujan di seluruh Asia Selatan,” kata Roxy Mathew Koll, pakar iklim di Institut Meteorologi Tropis India di Pune dan penulis beberapa laporan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pergeseran iklim, menurut Koll, membuat frekuensi dan intensitas kejadian hujan ekstrem meningkat. ”Hujan ekstrem sering kali membanjiri infrastruktur drainase di wilayah perkotaan dan memicu banjir bandang,” kata Koll.

Damaged vehicles are seen after severe monsoon rains flooded the Bhotekoshi River and swept away a key bridge connecting the country with China at Rasuwagadi,120 kilometers (75 miles) north of the capital, Kathmandu, Nepal, Wednesday, July, 9, 2025. (AP Photo/Sujan Gurung)

Gletser mencair

Suhu tinggi dan hujan lebat juga berkontribusi terhadap mencairnya gletser di wilayah pegunungan Himalaya. Cairnya gletser menyebabkan banjir besar dan tanah longsor.

”Mencairnya gletser dan perubahan pola curah hujan dapat mengganggu sistem irigasi, memengaruhi pertumbuhan tanaman, dan memperparah kelangkaan air,” kata Anjal Prakash, pakar lingkungan di India.

Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu di Nepal pernah membuat kajian pada 2023. Dalam laporan itu, pencairan gletser Himalaya dan Pegunungan Hindu Kush di tahap yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dampak pencairan itu, 200 dari 2.000 danau di sekitar kedua pegunungan itu berisiko meluap. ”Hujan deras dan meningkatnya suhu menyebabkan longsoran salju dan es, longsoran batu, dan peristiwa lain yang dapat memicu danau meluap. Bahkan, danau glasial kecil pun kini meluap dan menyebabkan kerusakan,” kata Finu Shresta, salah satu pakar dalam tulisan itu.

Menurut Miriam Jackson, ahli glasiologi pada Inisiatif Iklim Kriosfer Internasional, pegunungan cenderung lebih panas ketimbang rata-rata global. Dampaknya, gletser cepat mencair.

Di sisi lain, gangguan pola musim memicu kekeringan sehingga pertanian terganggu. ”Lebih dari 60 persen penduduk Asia Selatan bergantung pada pertanian dan hampir semuanya bergantung pada curah hujan monsun,” kata Shrestha.

Pakar iklim di Pakistan, Fahad Saeed, menyebut Asia Selatan dianggap lumbung pangan dunia selama ribuan tahun. Perubahan iklim mengganggu produksi pangan di sana. Dalam kajian pada 2021 ditemukan, produksi gandum Asia Selatan 2021-2050 berkurang 16 persen karena kekeringan.

Motorists ride through a flooded road caused by heavy monsoon rain in Lahore, Pakistan, Thursday, July 10, 2025. (AP Photo/K.M. Chaudary)

Kawasan lain

Meningkatnya suhu global juga berdampak pada kawasan Asia Tenggara. Kwan Soo-Chen dan David McCoy dari United Nations University pada 28 Juni 2022 melaporkan, kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan suhu rata-rata tahunan sebesar 0,14 derajat celsius hingga 0,20 derajat celsius per dekade sejak 1960-an.

Asia Tenggara juga diperkirakan akan mengalami peningkatan frekuensi gelombang panas. Kelembaban udara yang tinggi di Asia Tenggara akan memperparah suhu tinggi dan meningkatkan insiden sengatan panas dan kematian akibat panas.

Tingkat energi dan kelembaban yang lebih tinggi di atmosfer akibat pemanasan global, menurut Kwan dan McCoy, mengakibatkan perubahan pola curah hujan. Peningkatan curah hujan rata-rata tahunan diamati terjadi di Malaysia, Vietnam, dan Filipina Selatan.

Di sebagian wilayah Asia Tenggara, curah hujan berkurang. Di sebagian lain, curahnya melonjak dan menimbulkan kerusakan parah. Hingga 75 persen kota di Asia Tenggara akan sering kebanjiran.

Dampak perubahan siklus dan musim, antara lain, mengganggu ketersediaan air dan ketahanan pangan. Di DAS Mekong, cadangan air ditaksir merosot menjadi 160 juta meter kubik.

Kwan dan McCoy menyebutkan, perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem juga akan meningkatkan risiko penyakit mental. Anak-anak, remaja, perempuan, dan warga lansia sangat berisiko mengalami kecemasan dan depresi.

Kwan dan McCoy juga menyebutkan, suhu yang lebih tinggi dan tekanan panas diperkirakan akan mengurangi kapasitas tenaga kerja pertanian hingga 50 persen. Suhu panas mengurangi produktivitas pertanian serta produksi pangan di Asia Tenggara. Hal ini akan menyebabkan kenaikan harga tanaman 5 persen akibat peningkatan biaya tenaga kerja dan kerugian produksi.

Di tengah peningkatan bencana, sistem peringatan dini semakin diperlukan. Koll menyebut, kerap kali pemerintah baru hadir setelah bencana terjadi. Seharusnya, lewat peringatan dini, pemerintah hadir sebelum bencana terjadi. Karena itu, pengembangan peringatan dini perlu ditingkatkan.

Selain itu, perlu pula pengurangan emisi gas rumah kaca yang memicu perubahan iklim. Hal ini penting karena ada tren peningkatan emisi di Asia Tenggara. Pada 2010-2019, emisi karbon naik rata-rata 1,8 persen per tahun. Di sektor energi, laju peningkatan emisi sampai 5,1 persen dan di transportasi sampai 4,6 persen per tahun.

Di sisi lain, luas hutan berkurang. Padahal, hutan salah satu penyerap karbon terpenting. ”Jika kita terus seperti biasa, dan emisi yang kita hasilkan tetap sama, maka Bumi akan terus memanas dan akan ada hujan dan banjir yang lebih lebat. Pada titik tertentu, kita bisa melampaui batas adaptasi,” ucap Jackson.

Kwan dan McCoy menyatakan, meski sudah ada pernyataan janji dan komitmen dari negara-negara di Asia Tenggara, janji dan komitmen harus diwujudkan dalam tindakan nyata. ”Sekalipun sudah terwujud, perubahan yang lebih cepat dan radikal masih diperlukan untuk mengurangi emisi,” tegas keduanya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati