Hilangnya gletser akibat pemanasan global tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga mengancam kesehatan seluruh planet kita.
14 Mei 2025 08:14 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Penyusutan gletser atau lapisan es di daratan saat ini terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern, dan tren ini terus meningkat akibat perubahan iklim. Penelitian terbaru menjelaskan tentang bagaimana hilangnya gletser tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga mengancam kesehatan seluruh planet kita.
Laporan kajian ini diterbitkan dalam Nature Reviews Biodiversity pada Mei 2025. Gianalberto Losapio dari Institute of Earth Surface Dynamics, University of Lausanne, Swiss, menjadi penulis pertama kajian ini.
”Menyusutnya gletser di planet ini merupakan salah satu indikator yang paling terlihat dan dramatis dari dampak perubahan iklim yang luas terhadap ekosistem dunia,” tulis Losapio, dalam keterangan tertulis pada Selasa (13/5/2025).
Masa depan mamalia yang menggunakan gletser sebagai tempat berlindung atau bersarang juga tidak pasti.
Penelitian tersebut menganalisis lebih dari 160 makalah penelitian yang difokuskan pada aspek-aspek tertentu dari mundurnya gletser untuk mengungkap gambaran besarnya. Kemudian dilihat juga dampak globalnya pada keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem sebab ribuan spesies yang telah berevolusi untuk hidup di ekosistem unik ini terancam oleh pencairan gletser yang cepat.
Para ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk para peneliti Securing Antarctica’s Environmental Future (SAEF) dari University of Wollongong (UOW), British Antarctic Survey, Cambridge University, University of Otago, University of Minnesota, dan University of Milan turut berkontribusi dalam makalah tersebut.
Menurut para peneliti, gletser di seluruh dunia diperkirakan kehilangan sepertiga massanya pada tahun 2050. Gletser di wilayah tropis bakal hilang lebih cepat, seperti yang terjadi di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daratan di Indonesia yang dilapisi es.
Sebelumnya, survei lapangan pada 11-15 November 2024 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan penurunan signifikan gletser, baik luasan maupun ketebalan es yang ada di Puncak Sudirman, bagian dari Pegunungan Jayawijaya.
Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG Donaldi Sukma Permana mengatakan, luasan tutupan es di Puncak Jaya, bagian Pegunungan Sudirman, pada 2024 menyusut 0,11-0,16 kilometer persegi dari sebelumnya 0,23 kilometer persegi pada 2022. Gletser di Puncak Jaya, Papua, ini berpotensi hilang sepenuhnya sebelum 2026.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/02/01/Screenshot_2021-02-01-Riset-Perubahan-Iklim-berdasarkan-Gletser-Lapisan-Es-Tropis-di-Pegunungan-Puncak-Jaya-Papua-Indon..._1612182751_jpg.jpg)
Penulis kontributor, Prof Sharon Robinson AM, seorang ARC Laureate Fellow di Sekolah Sains UOW, mengatakan, gletser mengandung es yang usianya bisa mencapai ribuan tahun, memberikan gambaran penting tentang bagaimana sejarah dan kesehatan Bumi telah berevolusi dari waktu ke waktu.
”Gletser adalah salah satu alat paling berharga yang kita miliki untuk memahami kesehatan planet kita, khususnya dalam menghadapi iklim yang memanas,” kata Robinson.
Menurut Robinson, gletser dan ekosistem yang dipengaruhi olehnya menampung keanekaragaman hayati unik yang mencakup semua kerajaan kehidupan, tetapi gletser menyusut seiring dengan menghangatnya iklim global, mengancam spesies spesialis, fungsi ekosistem, dan stabilitas.
”Menyusutnya gletser mendorong perubahan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem di berbagai habitat yang tak terhitung jumlahnya, dari permukaan gletser hingga ekosistem darat dan laut yang baru terpapar. Ekosistem gletser di seluruh dunia mengandung ribuan mikroorganisme, tumbuhan, invertebrata, dan vertebrata,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/09/05/ad771f08-6a55-4326-93e1-60711eb14b17.jpeg)
Karena iklim yang menghangat, gletser mencair lebih cepat daripada titik mana pun dalam sejarah. Di seluruh dunia, gletser diperkirakan kehilangan sepertiga massanya pada tahun 2050.
Gletser terbentuk di daratan dan ketika mencair, perlahan-lahan, limpasan air mengalir ke sungai dan anak sungai. Namun, ketika gletser mencair dengan cepat, limpasan air yang sangat besar menekan ekosistem lokal, mengurangi ketahanan air bagi manusia, flora dan fauna, dan berkontribusi pada naiknya permukaan air laut.
Gletser yang mencair dapat mengubah arus laut dan telah dikaitkan dengan pola cuaca global yang merusak dan runtuhnya perikanan di seluruh dunia. Pada tingkat mikro, Robinson mengatakan, hilangnya gletser memicu serangkaian efek pada spesies dan nutrisi yang menjadikan ekosistem penting ini sebagai rumah.
Sementara lanskap bebas gletser awalnya menyediakan ruang bagi spesies pionir (spesies yang pertama kali menjajah lingkungan baru) untuk berkembang, perubahan ekosistem akhirnya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.
”Ekosistem unik yang menjadi ciri gletser, kombinasi rumit antara keanekaragaman hayati dan mikroorganisme yang tumbuh subur di tempat ini akan hilang seiring waktu karena spesies generalis—spesies yang dapat tumbuh subur di banyak tempat berbeda, tetapi tidak unik di lingkungan itu—mengambil alih,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/26/f4551b48-aac7-4046-b5e6-ae1f85e79aad_png.png)
Dia menambahkan, mengingat tiga perempat air tawar Bumi tersimpan di gletser, penyusutan cepat akan menyebabkan hilangnya atau gangguan besar pada banyak ekosistem dan spesies akuatik. Ini termasuk pasokan makanan, area mencari makan, serta tempat kawin yang dapat menyebabkan kepunahan lokal.
”Masa depan mamalia yang menggunakan gletser sebagai tempat berlindung atau bersarang juga tidak pasti. Pada dasarnya, fungsi khas yang dilakukan gletser dapat terkikis, yang menyebabkan dampak jangka panjang pada ekosistem planet yang rapuh,” katanya.
Robinson menyatakan, tinjauan tersebut menyoroti perlunya pemahaman yang lebih baik tentang evolusi ekosistem dan interaksi kompleks spesies setelah gletser mencair, yang akan membantu memprediksi konsekuensi bagi keanekaragaman hayati dan mengembangkan strategi konservasi yang tepat. ”Kita perlu memahami dampaknya agar dapat menginformasikan praktik dan kebijakan konservasi pengelolaan, yang dapat mengurangi perubahan dahsyat yang terjadi di lanskap gletser,” katanya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mendeklarasikan tahun 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser. Momen ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran global tentang peran penting gletser dalam sistem iklim dan siklus hidrologi serta dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari perubahan yang akan datang ini.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari