Dengan alasan melindungi warganya di Timur Tengah, Australia akan membantu negara Teluk dari serangan Iran. Terdapat 115.000 warga Australia di kawasan itu.
10 Mar 2026 17:00 WIB · Internasional
AP/OMID VAHABZADEH
SYDNEY, SELASA — Australia berencana mengirimkan rudal dan mengerahkan pesawat pengintai ke Uni Emirat Arab. Australia hendak membantu pertahanan negara-negara Teluk dari serangan Iran yang menyasar aset-aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan.
Serangan balasan Iran menghadapi agresi AS dan Israel yang telah berlangsung selama 11 hari terus bereskalasi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran negara-negara Teluk karena terimbas perang tersebut. Pemerintah Australia akan membantu pertahanan di negara Teluk mengingat terdapat sekitar 115.000 warganya di kawasan itu.
”Keterlibatan kami murni defensif. Itu untuk membela warga Australia yang berada di wilayah tersebut serta untuk membela teman-teman kami di Uni Emirat Arab (UEA),” ujar Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Selasa (10/3/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/06/94462867-5ee1-4c61-a87b-c3d64943786b.jpg)
Australia berencana mengerahkan salah satu pesawat sistem peringatan dini dan kendali udara E-7A Wedgetail. Dilengkapi radar canggih, pesawat buatan Boeing ini mampu mendeteksi target udara dan maritim secara bersamaan. Menurut rencana, pesawat ini akan beroperasi untuk periode awal selama empat minggu.
Selain itu, Australia akan mengirimkan rudal udara jarak menengah. Rudal dikirim setelah Albanese berkomunikasi dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan mengenai kondisi konflik di Timur Tengah.
”Dukungan militer Australia akan membantu negara-negara Teluk mempertahankan diri dari serangan tanpa provokasi dari Iran,” kata Albanese.
Dari sekitar 115.000 warga Australia di Timur Tengah, 2.600 orang di antaranya telah kembali Australia. Albanese menyebutkan, prioritas utama adalah menjaga keamanan warganya yang saat ini masih berada di sejumlah negara Teluk.
Dukungan militer Australia akan membantu negara-negara Teluk mempertahankan diri dari serangan tanpa provokasi dari Iran.
”Membantu warga Australia juga berarti membantu UEA dan negara-negara Teluk lainnya untuk membela diri dari serangan yang tidak beralasan. Kami tidak mengambil tindakan ofensif terhadap Iran. Kami telah menegaskan tidak mengerahkan pasukan Australia ke Iran,” ucapnya.
Pekan lalu, Australia mengerahkan pesawat angkut berat dan pesawat angkut bahan bakar ke Timur Tengah. Hal itu dilakukan untuk mendukung evakuasi warga Australia dari kawasan.
”Tantangan signifikan masih ada. Pekerjaan lebih lanjut sedang dilakukan untuk mendukung mereka yang masih ingin meninggalkan wilayah tersebut,” tutur Albanese.
Pengiriman rudal dan pesawat pengintai ini dikecam partai oposisi Australia, Partai Hijau. Sebab, Australia berisiko terlibat dalam ”perang abadi” lainnya yang dipimpin oleh AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/14/d611a51f93d4dd9f842d0d8d3adb51c7-AP25195157424359.jpg)
Australia sudah beberapa kali terlibat dalam invasi AS ke sejumlah negara. Keterlibatan itu mulai dari perang di Afghanistan pada 2001 dan Irak pada 2003. Australia kehilangan puluhan prajurit dalam perang tersebut.
Dilansir dari Al Jazeera, senator dari Partai Hijau, Larissa Waters, mengkhawatirkan keterlibatan pasukan Australia dalam konflik di Timur Tengah. ”Warga Australia tidak ingin terseret ke dalam perang ilegal (Presiden AS) Donald Trump dan (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu terhadap Iran. Partai Buruh (pendukung Pemerintah Australia) seharusnya tidak mengirim pasukan untuk membantu militer yang telah membunuh 150 anak sekolah dalam pengeboman sekolah dasar,” ujarnya.
Serangan gabungan AS dan Israel diduga kuat menewaskan lebih dari 150 siswa dan guru di Iran, Sabtu (28/2/2026). Serangan gabungan pada hari yang sama menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut Waters, keterlibatan Australia hanya akan meningkatkan konflik ilegal yang sudah berada di luar kendali. Hal itu sangat berpotensi membawa Australia terjebak dalam perang tak berkesudahan lainnya yang dipimpin oleh AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/f128610fe75867c1e04565ef3ef0095b-20260304_H01_DMS_Rudal_Iran_mumed.png)
”Setiap hari tuntutan Trump dan Netanyahu terhadap Australia terus meningkat. Kemarin mereka minta mengisi bahan bakar pesawat mata-mata AS. Hari ini jet pengintai dan rudal. Besok mungkin akan ada lebih banyak pasukan lagi,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menekankan, Iran berupaya menjaga persahabatan dengan pemerintah regional di Teluk berdasarkan hubungan bertetangga yang baik serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah. Iran menangguhkan serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali wilayah negara itu digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan peringatan keras menyusul pengakuan Komando Pusat AS (Centcom) mengenai pengerahan sistem artileri roket mobilitas tinggi (HIMARS) di negara-negara Teluk yang ditujukan ke Iran. Sistem ini akan mendukung serangan jarak jauh AS dalam menggempur Iran.
”Tidak ada yang boleh mengeluh jika rudal-rudal kuat kami menghancurkan sistem-sistem ini di mana pun mereka berada sebagai pembalasan,” kata Araghchi. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik W