Menjelang Lebaran, jalan-jalan yang rusak di Lampung diharapkan segera diperbaiki. Tanpa perbaikan, keselamatan pengendara berpotensi terancam.
09 Mar 2025 15:17 WIB · Nusantara
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Tiga pekan menjelang Lebaran, jalan nasional di Lampung yang bakal dilintasi pemudik masih mengalami banyak kerusakan. Kendati sudah ada perbaikan di beberapa lokasi, masih banyak lubang menganga di jalan raya sehingga membahayakan keselamatan pengendara.
Berdasarkan penelusuran Kompas pada Minggu (9/3/2025) dari Bandar Lampung menuju Bandara Radin Inten II, Kabupaten Lampung Selatan, sejauh 20 kilometer masih terdapat puluhan lubang di jalan lintas Sumatera. Lubang-lubang itu memiliki diameter dengan ukuran 10-50 sentimeter (cm) dan kedalaman 10-30 cm.
Di beberapa lokasi terlihat spanduk pengumuman yang meminta pengendara jalan berhati-hati karena banyak jalan berlubang dan bergelombang. Spanduk-spanduk semacam itu dipasang di tiang-tiang median jalan.
Meski sudah ada beberapa lokasi jalan rusak yang diperbaiki dengan cara ditambal, masih terdapat jalan berlubang yang hanya ditimbun dengan pasir atau tanah. Sebagian warga juga berinisiatif meletakkan ban-ban bekas di lubang besar yang menganga di badan jalan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/b7b0d363fee56309558f1a174353b06e-20250309_111951.jpg)
Kerusakan itu, antara lain, terlihat di jalan lintas Sumatera di Desa Natar, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Bagus (22), warga setempat, mengatakan, jalan berlubang di daerah itu sudah terjadi sejak Desember 2024. Dia menyebut, selama tiga bulan terakhir sudah ada belasan pengendara sepeda motor yang terjatuh akibat tergelincir di jalan yang berlubang.
Bagus yang kebetulan bekerja di tempat tambal ban pun berinisiatif menaruh ban-ban bekas di lubang itu. ”Ban ini sebagai penanda karena lubangnya sering tidak kelihatan. Apalagi kalau habis hujan deras dan tertutup genangan. Sudah banyak pengendara yang jatuh di sini,” kata Bagus sambil menunjukkan lokasi jalan berlubang.
Menurut dia, belum ada petugas yang meninjau ataupun memperbaiki jalan rusak tersebut. Warga setempat justru membantu memperbaiki jalan rusak itu dengan menggunakan semen. ”Tadinya di sini lebih parah. Ini sudah ditutup sedikit,” ucapnya.
Puji Rahayu (30), warga Kecamatan Natar, juga mengeluhkan kondisi jalan yang rusak parah. ”Saya sudah hafal lubang jalannya di mana saja, jadi bisa menghindar. Tapi, bagi orang-orang yang jarang lewat, pasti sulit menghindar,” kata perempuan yang sehari-hari bekerja di Bandar Lampung itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/d53b03fbb2080d6be932bcf5fec469f6-20250309_114431.jpg)
Di Kabupaten Pringsewu, Lampung, kondisi jalan yang rusak parah membuat warga terpaksa memperbaiki jalan secara swadaya. Beberapa hari terakhir, warga yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Pringsewu Bersatu membuka donasi dan memperbaiki jalan yang berlubang.
Erika Widiastuti, warga Pringsewu yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Pringsewu Bersatu, menuturkan, gerakan itu berawal dari keresahan masyarakat atas banyaknya kecelakaan akibat kondisi jalan rusak. Aksi itu juga dilakukan sebagai respons kekecewaan warga terhadap lambatnya upaya pemerintah dalam memperbaiki jalan yang rusak.
Berdasarkan data yang dihimpun dari kepolisian, selama periode Januari-Februari 2025 terdapat 26 kasus kecelakaan lalu lintas yang ditangani oleh Satuan Lalu Lintas Polres Pringsewu. Dari jumlah itu, 10 korban meninggal, 3 orang luka berat, dan 30 orang lainnya luka ringan.
Prihatin dengan kondisi itu, para pemuda lalu membuka donasi dan berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 7 juta. Masyarakat juga tergerak memberikan sumbangan berupa semen hingga meminjamkan mobil pengangkut untuk perbaikan jalan yang dilakukan sejak lima hari lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/2adb7bfbe7fade894d28e5e9430bbb7e-20250309_110903.jpg)
”Masyarakat tak ingin tinggal diam karena korban terus bertambah. Ini bentuk kepedulian kami. Masyarakat hanya ingin jalan yang layak,” kata Erika.
Ia menambahkan, perbaikan itu dilakukan dengan menambal jalan berlubang menggunakan batu split, pasir, dan semen. Warga menyadari, perbaikan jalan itu mungkin saja tidak sesuai standar. Karena itu, masyarakat sangat berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang rusak.
Saat dikonfirmasi, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung Susan Novelia mengapresiasi kepedulian warga Pringsewu yang berinisiatif memperbaiki jalan. Ia mengatakan, saat ini BPJN mulai memperbaiki jalan untuk persiapan jalur mudik Lebaran di seluruh ruas jalan nasional di Lampung, termasuk jalan lintas barat Sumatera di Pringsewu.
”Kami mengupayakan kegiatan perbaikan jalan dengan semaksimal mungkin melalui penanganan untuk menjaga fungsi jalan serta target zero pothole untuk menghadapi jalur mudik dengan anggaran yang tersedia,” kata Susan melalui wawancara tertulis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/8269bed1da955e4413db0a38f5ecacff-20250309_112009.jpg)
Berdasarkan data BPJN Lampung, total panjang jalan nasional di Lampung ialah 1.298 kilometer. Berdasarkan survei pada semester II tahun 2024, persentase kemantapan jalan nasional di Lampung 93,75 persen. Adapun 6,25 persen jalan dalam kondisi belum mantap.
Persentase kemantapan jalan paling rendah terdapat di jalan lintas tengah sebesar 88,71 persen, sedangkan jalan lintas barat 93,81 persen dan jalan lintas timur 97,75 persen. Sementara itu, persentase kemantapan di jalan lintas penghubung 93,63 persen dan jalan nonlintas 99,87 persen.
Susan mengakui, perbaikan jalan nasional di Lampung tahun ini lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu terjadi karena BPJN Lampung baru saja menyelesaikan serangkaian proses administrasi pembukaan blokir daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) tahun anggaran 2025.
Selain itu, anggaran untuk perbaikan jalan dan jembatan juga terdampak kebijakan efisiensi anggaran sehingga jumlahnya berkurang banyak dari pagu awal yang ditetapkan sebesar Rp 400 miliar.
”Anggaran BPJN Lampung tahun 2025 ini setelah proses efisiensi anggaran berjumlah sekitar Rp 82,6 miliar, yang digunakan untuk kegiatan pemeliharaan rutin jalan sepanjang 1.298 kilometer di seluruh jalan nasional Provinsi Lampung,” tutur Susan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/d4a09879ae8079bbbd393419a2d0262b-20250309_110800.jpg)
Secara terpisah, dosen Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Sumatera, Muhammad Abi Berkah Nadi, mengatakan, kebijakan efisiensi anggaran semestinya tidak menghilangkan budget penting, terutama untuk perbaikan jalan. Apalagi, menjelang masa mudik Lebaran, kesiapan infrastruktur jalan sangat krusial karena mobilitas warga bakal meningkat pesat.
Saat ini, beberapa ruas jalan di Lampung memang mengalami kerusakan minor hingga mayor. Apalagi, selama dua bulan terakhir, hujan deras sering mengguyur sehingga kerusakan jalan bisa semakin parah.
Masyarakat tak ingin tinggal diam karena korban terus bertambah. Ini bentuk kepedulian kami. Masyarakat hanya ingin jalan yang layak.
”Kerusakan inilah yang harus segera diperbaiki. Jangan sampai anggaran yang terkena dampak efisiensi mengganggu proses perbaikan jalan menjelang mudik Lebaran. Pemerintah harus memiliki dana darurat khusus yang dialokasikan untuk mempercepat proses perbaikan jalan,” kata Abi, yang juga Sekretaris Masyarakat Transportasi Indonesia Lampung.
Menurut dia, perbaikan jalan secara swadaya yang dilakukan masyarakat di Pringsewu semestinya menjadi alarm agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Pasalnya, banyak risiko lebih besar yang bakal dihadapi pengendara apabila kondisi jalan belum siap dilintasi saat mudik, yaitu kemacetan hingga kecelakaan yang dapat menghilangkan nyawa.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti