Tempat aman bagi tentara Israel semakin sempit. Semakin banyak negara menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Israel di Gaza.
Media-media Israel sedang meributkan keputusan kepolisian Kanada soal hal itu. Dilaporkan Times of Israel dan The Jerusalem Post, kepolisian Kanada diam-diam menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan soal perang Gaza. Penyelidikan dilakukan sejak awal 2024 atau beberapa bulan selepas Israel menyerbu Gaza.
Dalam pernyataan pada 4 Juni 2025, kepolisian Kanada menegaskan bahwa penyelidikan itu bukan penyelidikan pidana. Tujuannya mengumpulkan informasi terkait yang mungkin akan dibutuhkan dalam penyelidikan resmi di masa depan.
Canadians for Justice and Peace in the Middle East (CJPME), LSM Kanada, segera menyurati kepolisian Kanada selepas pernyataan itu beredar. CJPME menyatakan, telah meminta kepolisian Kanada bertindak sejak Januari 2024.
CJPME meminta ada penyelidikan terhadap warga Kanada yang punya kewarganegaraan Israel dan bergabung di militer Israel, Tzahal. Orang-orang itu bisa jadi terlibat kejahatan perang atau kejahatan kemanusiaan di Gaza.
”Keterlibatan sukarelawan warga Kanada dalam serangan Israel sebagai ’prajurit lepas’ meningkatkan kemungkinan serius bahwa mereka terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida. Kanada memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional dan domestik untuk menyelidiki kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta mengadili para tersangka,” demikian pernyataan CJPME.
Kami akan meminta jaksa ICC segera mengeluarkan penangkapan terhadap Letkon Beni Aharon.
Israel gelisah dengan perkembangan di Kanada. Apalagi, bersama Inggris dan Perancis, Kanada baru saja mengeluarkan kecaman resmi ke Israel. Mereka menyebutkan tindakan Israel di Tepi Barat dan Gaza mengerikan.
Negara lain
Kanada bukan satu-satunya negara yang menyelidiki dugaan kejahatan perang Israel di Gaza. Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) telah menerbitkan surat penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ICC menuduh Netanyahu melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sementara Hind Rajab Foundation (HRF), LSM di Belgia, rutin melaporkan para tentara Israel yang diduga terlibat kejahatan perang di Gaza. Bukti yang diajukan HRF terutama rekaman video dan foto yang diunggah para prajurit Israel di tengah serbuan ke Gaza.
Sebelum dilarang Tzahal, para tentara Israel secara masif dan rutin mengunggah aneka ulah mereka di Gaza. Rekaman itu menjadi bukti tindakan mereka atas berbagai keterlibatan dalam kerusakan di Gaza.
Laporan HRF terbukti menggentarkan Israel. Menteri Diaspora Israel Amichai Chikli membatalkan lawatan ke Belgia pada Januari 2025.
Pemerintah Israel hanya menyebut ada alasan keamanan yang menyebabkan pembatalan. Padahal, seperti dilaporkan Kan 1 dan i24 News, Badan Keamanan Nasional Israel atau Shin Bet menyebut tidak ada ancaman keamanan nyata pada Chikli.
Menurut kedua media Israel itu, Chikli takut ditangkap di Belgia karena dilaporkan Presiden HRF, Dyab Abou Jahjah. Chikli dilaporkan setelah mengunggah ”Hati-hati dengan penyerantamu” untuk menanggapi unggahan Jahjah. Unggahan itu dianggap ancaman pembunuhan karena merujuk pada serangan teror penyeranta Israel di Lebanon.
HRF juga membuat laporan lain ke Peru. Dalam pernyataan pada awal Mei 2025, HRF menyebut Peru mengadukan seorang tentara Israel dari satuan zeni. Dalam unggahan video dan foto oleh sesama tentara Israel, terlihat seorang pria tersenyum kala memasang peledak. Pemeriksaan ke berbagai video dan foto lain menunjukkan, peledak dipasang di rumah warga sipil.
Tidak disebutkan di mana pria itu berada. HRF beralasan, tidak mengungkap lokasi terlapor untuk menghindari kejadian seperti pelarian Yuval Vagdani. Pada awal Januari 2025, Kedutaan Besar Israel di Brasil membantu Vagdani kabur dari Brasil.
Vagdani dilaporkan HRF ke aparat Brasil dan laporan itu ditanggapi. Untuk menghindari penangkapan, Vagdani terbang tengah malam untuk keluar dari Brasil. Vagdani pernah jadi anggota pasukan cadangan dan ikut menyerbu Gaza.
Terus memburu
HRF juga melaporkan rekan Vagdani, Orel Benyaish. Laporan dimasukkan ke Romania. Vagdani dan Benyaish terekam dalam foto dan video yang diunggah Benyaish ke media sosial. Dalam unggahan itu, mereka terlihat meledakkan rumah di Gaza.
HRF terus mengejar tentara Israel yang ikut menyerbu Gaza. Salah satu fokus HRF adalah memburu pasukan Israel yang menembak Hind Rajab (7) dan keluarganya. Pada 24 Januari 2024, mobil keluarga Rajab ditembak oleh tank Israel.
Rajab sebenarnya masih bisa diselamatkan. Walakin, tentara Israel menembaki siapa pun yang mendekati mobil itu. Tembakan itu juga akhirnya mengenai Rajab.
Sejumlah media Amerika Serikat dan Eropa mencoba menghaluskan peristiwa itu. Alih-alih menggunakan kata ”ditembak”, media AS dan Eropa menyebut Rajab ”dilewati peluru tentara Israel”.
Pada Mei 2025, HRF menyebut pasukan penembak Rajab dan keluarganya dipimpin Letnan Kolonel Beni Aharon. Ia Komandan Brigade 401. Batalyon di brigade itu berada di lokasi penembakan keluarga Rajab.
Tzahal dan Pemerintah Israel masih menutup rapat identitas Aharon serta seluruh prajurit Israel yang terlibat penembakan Rajab. Hal serupa dilakukan terhadap ribuan tentara Israel yang menyerbu Gaza. ”Kami akan meminta jaksa ICC segera mengeluarkan penangkapan terhadap Letkon Beni Aharon,” demikian pernyataan HRF.
Selain ke ICC, HRF juga akan melaporkan Aharon dan rekannya ke negara lain yang punya perangkat hukum untuk menangkap pelaku kejahatan perang.
”Kami akan memburu setiap perwira yang terlibat. Mereka yang memerintah, mereka yang menembak, mereka yang menutupi, dan mereka yang membiarkan ini terjadi,” lanjut HRF.
Laporan HRF dan mitranya membuat Israel cemas. Nasib tentara Israel bisa jadi mengikuti nasib serdadu Nazi, diburu karena kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. (AP/AFP)
Tempat aman bagi tentara Israel semakin sempit. Semakin banyak negara menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Israel di Gaza.
Media-media Israel sedang meributkan keputusan kepolisian Kanada soal hal itu. Dilaporkan Times of Israel dan The Jerusalem Post, kepolisian Kanada diam-diam menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan soal perang Gaza. Penyelidikan dilakukan sejak awal 2024 atau beberapa bulan selepas Israel menyerbu Gaza.
Dalam pernyataan pada 4 Juni 2025, kepolisian Kanada menegaskan bahwa penyelidikan itu bukan penyelidikan pidana. Tujuannya mengumpulkan informasi terkait yang mungkin akan dibutuhkan dalam penyelidikan resmi di masa depan.
Serial Artikel
Tentara Israel Jadi Buruan
Dulu Israel memburu Nazi karena kejahatan perang. Kini, Israel diburu karena kejahatan perang di Gaza.
Canadians for Justice and Peace in the Middle East (CJPME), LSM Kanada, segera menyurati kepolisian Kanada selepas pernyataan itu beredar. CJPME menyatakan, telah meminta kepolisian Kanada bertindak sejak Januari 2024.
CJPME meminta ada penyelidikan terhadap warga Kanada yang punya kewarganegaraan Israel dan bergabung di militer Israel, Tzahal. Orang-orang itu bisa jadi terlibat kejahatan perang atau kejahatan kemanusiaan di Gaza.
”Keterlibatan sukarelawan warga Kanada dalam serangan Israel sebagai ’prajurit lepas’ meningkatkan kemungkinan serius bahwa mereka terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang, dan genosida. Kanada memiliki kewajiban berdasarkan hukum internasional dan domestik untuk menyelidiki kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta mengadili para tersangka,” demikian pernyataan CJPME.
Kami akan meminta jaksa ICC segera mengeluarkan penangkapan terhadap Letkon Beni Aharon.
Israel gelisah dengan perkembangan di Kanada. Apalagi, bersama Inggris dan Perancis, Kanada baru saja mengeluarkan kecaman resmi ke Israel. Mereka menyebutkan tindakan Israel di Tepi Barat dan Gaza mengerikan.
Negara lain
Kanada bukan satu-satunya negara yang menyelidiki dugaan kejahatan perang Israel di Gaza. Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) telah menerbitkan surat penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ICC menuduh Netanyahu melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Sementara Hind Rajab Foundation (HRF), LSM di Belgia, rutin melaporkan para tentara Israel yang diduga terlibat kejahatan perang di Gaza. Bukti yang diajukan HRF terutama rekaman video dan foto yang diunggah para prajurit Israel di tengah serbuan ke Gaza.
Sebelum dilarang Tzahal, para tentara Israel secara masif dan rutin mengunggah aneka ulah mereka di Gaza. Rekaman itu menjadi bukti tindakan mereka atas berbagai keterlibatan dalam kerusakan di Gaza.
Serial Artikel
Hind Rajab, Anne Frank dari Jalur Gaza
Anne Frank, gadis Yahudi korban Nazi, jadi simbol perlawanan dan kemanusiaan melawan rasisme. Kini, Hind Rajab, gadis kecil Palestina, jadi simbol perlawanan baru.
Laporan HRF terbukti menggentarkan Israel. Menteri Diaspora Israel Amichai Chikli membatalkan lawatan ke Belgia pada Januari 2025.
Pemerintah Israel hanya menyebut ada alasan keamanan yang menyebabkan pembatalan. Padahal, seperti dilaporkan Kan 1 dan i24 News, Badan Keamanan Nasional Israel atau Shin Bet menyebut tidak ada ancaman keamanan nyata pada Chikli.
Menurut kedua media Israel itu, Chikli takut ditangkap di Belgia karena dilaporkan Presiden HRF, Dyab Abou Jahjah. Chikli dilaporkan setelah mengunggah ”Hati-hati dengan penyerantamu” untuk menanggapi unggahan Jahjah. Unggahan itu dianggap ancaman pembunuhan karena merujuk pada serangan teror penyeranta Israel di Lebanon.
HRF juga membuat laporan lain ke Peru. Dalam pernyataan pada awal Mei 2025, HRF menyebut Peru mengadukan seorang tentara Israel dari satuan zeni. Dalam unggahan video dan foto oleh sesama tentara Israel, terlihat seorang pria tersenyum kala memasang peledak. Pemeriksaan ke berbagai video dan foto lain menunjukkan, peledak dipasang di rumah warga sipil.
Tidak disebutkan di mana pria itu berada. HRF beralasan, tidak mengungkap lokasi terlapor untuk menghindari kejadian seperti pelarian Yuval Vagdani. Pada awal Januari 2025, Kedutaan Besar Israel di Brasil membantu Vagdani kabur dari Brasil.
Vagdani dilaporkan HRF ke aparat Brasil dan laporan itu ditanggapi. Untuk menghindari penangkapan, Vagdani terbang tengah malam untuk keluar dari Brasil. Vagdani pernah jadi anggota pasukan cadangan dan ikut menyerbu Gaza.
Serial Artikel
Misteri Hilangnya Seorang Bocah Perempuan dan Tim Penyelamatnya di Gaza
Sepekan berlalu, nasib Hind Rajab (6) di kota Gaza belum juga diketahui. Dua anggota tim penyelamatnya pun hilang.
HRF juga melaporkan rekan Vagdani, Orel Benyaish. Laporan dimasukkan ke Romania. Vagdani dan Benyaish terekam dalam foto dan video yang diunggah Benyaish ke media sosial. Dalam unggahan itu, mereka terlihat meledakkan rumah di Gaza.
HRF terus mengejar tentara Israel yang ikut menyerbu Gaza. Salah satu fokus HRF adalah memburu pasukan Israel yang menembak Hind Rajab (7) dan keluarganya. Pada 24 Januari 2024, mobil keluarga Rajab ditembak oleh tank Israel.
Rajab sebenarnya masih bisa diselamatkan. Walakin, tentara Israel menembaki siapa pun yang mendekati mobil itu. Tembakan itu juga akhirnya mengenai Rajab.
Sejumlah media Amerika Serikat dan Eropa mencoba menghaluskan peristiwa itu. Alih-alih menggunakan kata ”ditembak”, media AS dan Eropa menyebut Rajab ”dilewati peluru tentara Israel”.
Pada Mei 2025, HRF menyebut pasukan penembak Rajab dan keluarganya dipimpin Letnan Kolonel Beni Aharon. Ia Komandan Brigade 401. Batalyon di brigade itu berada di lokasi penembakan keluarga Rajab.
Tzahal dan Pemerintah Israel masih menutup rapat identitas Aharon serta seluruh prajurit Israel yang terlibat penembakan Rajab. Hal serupa dilakukan terhadap ribuan tentara Israel yang menyerbu Gaza. ”Kami akan meminta jaksa ICC segera mengeluarkan penangkapan terhadap Letkon Beni Aharon,” demikian pernyataan HRF.
Serial Artikel
Israel Akui Salah dalam Pembunuhan Paramedis Gaza
Amat jarang terjadi, Israel mengaku salah dalam operasi militer di Gaza.
Selain ke ICC, HRF juga akan melaporkan Aharon dan rekannya ke negara lain yang punya perangkat hukum untuk menangkap pelaku kejahatan perang.
”Kami akan memburu setiap perwira yang terlibat. Mereka yang memerintah, mereka yang menembak, mereka yang menutupi, dan mereka yang membiarkan ini terjadi,” lanjut HRF.
Laporan HRF dan mitranya membuat Israel cemas. Nasib tentara Israel bisa jadi mengikuti nasib serdadu Nazi, diburu karena kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. (AP/AFP)