Bapanas: 29.990 Ton Beras Bulog Turun Mutu

Sebanyak 1,45 juta ton beras impor Bulog atau 37,95 persen dari total CBP sudah berusia simpan lebih dari enam bulan.

06 Okt 2025 12:15 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA KOMPAS — Badan Pangan Nasional atau Bapanas mendapati 29.990 ton beras Perum Bulog turun mutu. Selain itu, ada juga 1,45 juta ton beras yang berusia simpan lebih dari 6 bulan. Bapanas telah meminta Bulog mengolah ulang beras itu.

Hal itu menyusul temuan sekitar 1.200 ton beras turun mutu di gudang Bulog di Ternate, Maluku Utara. Temuan itu merupakan hasil inspeksi mendadak Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto pada 23 September 2025.

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas Nita Yulianis, Senin (6/10/2025), mengatakan, Bapanas telah mengecek stok beras Bulog yang kualitasnya turun. Hasilnya, sebanyak 29.990 ton dari 3,84 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) turun mutu.

Beras yang kualitasnya turun itu terdiri dari 3.100 ton beras hasil pengadaan dalam negeri dan 26.890 ton beras impor atau pengadaan dari luar negeri. Bapanas juga mendapati 1,45 juta ton beras impor atau 37,95 persen dari total CBP sudah berusia simpan lebih dari enam bulan.

”Kami telah meminta Bulog mengolah ulang (reprocessing) beras itu untuk memperbaiki mutu beras tersebut sebelum disalurkan. Selain itu, Bulog juga perlu menguji kualitas CBP secara berkala guna memastikan beras yang disalurkan kepada masyarakat layak dan aman dikonsumsi,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta.

Quote

Kami telah meminta Bulog mengolah ulang (reprocessing) beras itu untuk memperbaiki mutu beras tersebut sebelum disalurkan.

Tangkapan layar Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis yang tengah menjelaskan penurunan mutu sebagian beras Perum Bulog dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara hibrida di Jakarta, Senin (6/10/2025).

Reprocessing beras Bulog itu dilakukan dengan membersihkan dan mencuci ulang beras rusak. Setelah itu, beras tersebut akan diuji laboratorium ulang. Jika masih layak konsumsi, beras itu akan diedarkan ke masyarakat. Jika tidak memenuhi standar, beras itu akan diolah menjadi pakan ternak.

Sejumlah kalangan sebenarnya telah mengingatkan potensi penurunan kualitas CBP yang dikelola Bulog. Penurunan mutu itu bisa terjadi pada beras yang diimpor pada 2024 dan beras yang gabahnya berasal dari gabah kualitas buruk hasil dari kebijakan serapan gabah any quality (tanda standar mutu).

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa, memperkirakan 100.000 ton beras Bulog bakal turun mutu dan tidak layak dikonsumsi (disposal) sehingga berpotensi merugikan negara senilai Rp 1,2 triliun. Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, memproyeksikan 300.000 ton beras Bulog terancam disposal sehingga berpotensi merugikan negara Rp 4 triliun (Kompas, 26/8/2025).

Harga beras

Selain mutu beras Bulog, Bapanas juga menyinggung perihal problem harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Problem itu berupa perbedaan harga beras SPHP yang disalurkan melalui TNI-Polri dengan mitra Bulog yang lain, seperti Kios Pangan, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, dan Rumah Pangan Kita.

”TNI-Polri menjual beras SPHP seharga beras SPHP di gudang Bulog. Ini membuat masyarakat kurang minat membeli beras SPHP di mitra Bulog lain yang menjualnya dengan harga lebih tinggi. Kami berharap ada koordinasi antarmitra Bulog untuk menyeragamkan harganya,” kata Nita.

Bapanas telah menetapkan harga beras SPHP di gudang Bulog Rp 11.000-Rp 11.600 per kilogram (kg) bergantung zonasi. Adapun harga beras SPHP di tingkat eceran Rp 12.500-Rp 13.500 per kg, bergantung zonasi.

Anggota TNI membantu menurunkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang akan dijual saat Gerakan Pangan Murah (GPM) di Taman 10 November, Surabaya, Selasa (23/9/2025).   Kegiatan yang diselenggarakan oleh BULOG Jatim tersebut dihadiri oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Bulog Jatim menyalurakan 2.400 beras SPHP, 10.526 liter minyak, dan 3.285 kg gula untuk kegiatan GPM yang digelar serentak di seluruh Jawa Timur.  
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Dalam rapat itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, dalam matriks level harga dan perubahan indeks perkembangan harga (IPH), beras tergolong ber-IPH rendah dan berlevel harga tinggi. Artinya, meskipun harganya mahal, kontribusi beras terhadap IPH di setiap daerah rendah.

”Ini tetap perlu diwaspadai mengingat yang dibayar konsumen itu adalah harga beras, bukan IPH atau inflasi,” ujarnya.

BPS juga mencatat, sepanjang September 2025, harga rerata nasional berbagai kualitas beras mencapai Rp 15.375 per kg atau turun 0,13 persen secara bulanan. Namun, secara tahunan, harga beras naik 4,06 persen.

Pada September 2025, beras berkontribusi terhadap inflasi tahunan sebesar 0,17 persen dan deflasi bulanan 0,01 persen. Sementara tingkat inflasi umum secara tahunan dan bulanan pada bulan tersebut masing-masing sebesar 0,21 persen dan 2,65 persen.

Merujuk Panel Harga Pangan Bapanas, per 6 Oktober 2025 pukul 11.30 WIB, harga rerata nasional beras medium di tingkat konsumen senilai Rp 13.962 per kg. Harga tersebut masih 3,42 persen di atas rerata nasional harga eceran tertinggi (HET) beras medium yang ditetapkan Rp 13.500 per kg.

Adapun harga rerata nasional beras premium di tingkat konsumen senilai Rp 16.084 per kg. Harga tersebut masih 7,95 persen di atas rerata nasional HET beras premium yang ditetapkan Rp 14.900 per kg.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto