Tanpa dibekali skuad mewah, Pelatih Hansi Flick membawa Barcelona berjaya di Spanyol. Pendekatan revolusioner pelatih asal Jerman itu menjungkirbalikkan prediksi awal musim yang tak menjagokan Barca juara.
16 Mei 2025 05:15 WIB · Olahraga
BARCELONA, JUMAT — Barcelona resmi dinobatkan sebagai juara Liga Spanyol setelah mengalahkan rival sekota, Espanyol, 2-0, dalam derbi Catalan di Stadion RCDE, Jumat (16/5/2025) dini hari WIB. ”Blaugrana” sukses membalikkan prediksi pada awal musim yang menjagokan Real Madrid menjadi juara. Tiga gelar domestik juga menjadi bukti kerja-kerja tangan dingin Pelatih Hansi Flick.
Meski ini merupakan musim pertamanya menangani Barca, Flick tidak butuh waktu lama untuk meraih prestasi. Membawa filosofi menyerang berbasis garis pertahanan tinggi yang sama sekali berbeda dengan ciri khas penguasaan bola ala Barca, Flick membuktikan bahwa pendekatannya pun bisa membawa kesuksesan.
Sebelum memastikan tiga gelar domestik, yaitu Piala Super Spanyol, Piala Raja Spanyol, dan Liga Spanyol, Barca nyaris bisa menjuarai Liga Champions Eropa. Namun, langkah mereka dihentikan oleh Inter Milan pada semifinal.
Barca seharusnya sudah bisa mengunci trofi Liga Spanyol jika Real Madrid kalah dari Real Mallorca sehari sebelumnya. Hanya saja, perayaan gelar juara Barca tertunda akibat gol kemenangan menit-menit akhir Jacobo Ramon yang membawa Real menang 2-1. Kepastian trofi Barca pun berada di tangan mereka sendiri dengan syarat harus memenangi derbi Catalan kontra Espanyol.
Segalanya tidak berjalan mulus bagi Barca. Espanyol yang membutuhkan tambahan poin demi bisa menjauh dari zona degradasi bertahan sangat solid. Dua pivot Espanyol, Pol Lozano dan Urko Gonzalez, yang tampil dalam formasi 4-2-3-1 bermain cemerlang melindungi empat bek dari serbuan penyerang Barca. Sepanjang laga, para pemain Barca mendominasi dengan 75 persen penguasaan bola serta melepaskan empat tendangan ke gawang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/e640c0f6f35eecbf43ba98995b1d1e19-APTOPIX_Spain_Soccer_La_Liga.jpeg)
Jumlah tendangan Barca bisa lebih banyak lagi, tetapi para bek Espanyol tidak membiarkan lini serang Barca yang diisi Lamine Yamal, Robert Lewandowski, Dani Olmo, dan Raphinha nyaman menguasai bola di area sepertiga akhir.
Skor kacamata bertahan hingga turun minum. Barca kembali kesulitan mencetak gol pada babak kedua. Akan tetapi, mereka memiliki Yamal yang ahli bermain di ruang sempit. Dengan kepiawaiannya menggiring bola, Yamal mengelabui bek Espanyol, lalu melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti. Sepakan Yamal sukses membuka keunggulan Barca sekaligus meletakkan satu tangan Barca pada trofi juara.
”Pada sesi pemanasan tadi, Yamal juga mencetak gol dengan cara yang sama sebanyak dua kali. Kami beruntung memiliki pemain seperti dia,” ujar gelandang Barca, Pedri.
Setelah tertinggal, Espanyol mencoba membalas dengan meningkatkan intensitas serangan. Hanya saja, upaya serangan Espanyol kerap kandas akibat garis pertahanan tinggi Barca. Para pemain Espanyol terjebak offside hingga lima kali.
Barca semakin di atas angin saat Fermin Lopez mencetak gol kedua pada waktu tambahan. Hingga akhir laga, Espanyol gagal mencetak gol untuk merusak momentum Barca. Skor 2-0 bertahan hingga laga usai sekaligus mengunci gelar Liga Spanyol ke-28 untuk ”Blaugrana”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/0d61168b-b50d-4eb8-aa75-dc89a111a1de_png.png)
Kekacauan Barca bersama pelatih Xavi Hernandez musim lalu tidak menjadikan mereka sebagai favorit juara. Pada awal musim, Real banyak dijagokan akan menguasai Spanyol dengan persentase mencapai 86 persen. Adapun prediksi pada awal musim itu menyebutkan Barca hanya punya kemungkinan 10,3 persen menjadi juara.
Apalagi Barca menunjuk Flick sebagai pengganti Xavi. Dalam sejarahnya, tidak banyak pelatih Jerman yang pernah menjuarai Liga Spanyol. Satu-satunya pelatih Jerman yang pernah melakukannya hanyalah Bernd Schuster bersama Real pada musim 2007-2008.
Akan tetapi, Flick membalikkan semua prediksi itu dengan tangan dinginnya. Pendekatan revolusioner sekaligus berani dari Flick dengan menerapkan gaya menyerang berbasis garis pertahanan tinggi akhirnya menjungkirbalikkan prediksi. Real yang diperkuat megabintang Kylian Mbappe nyatanya hanya bisa gigit jari tanpa memenangi satu trofi pun musim ini.
”Kami kuat secara mental. Setelah jeda, kami bangkit lebih kuat karena kami memanfaatkan kesempatan untuk bekerja keras. Kami memenangi Piala Super, yang memberi kami rasa percaya diri lebih untuk mengarungi musim ini,” kata Flick.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/55c20c6ab0fa97a5d988eef6754b934e-Spain_Soccer_La_Liga_2_.jpeg)
Kesuksesan Flick dibangun tanpa kemewahan skuad. Pada bursa transfer awal musim, Barca hanya mendatangkan Olmo sebagai pemain termahal.
Sisanya, Flick banyak memanfaatkan lulusan akademi La Masia, seperti Yamal, Marc Casado, dan Pau Cubarsi. Barca bahkan harus melepas sejumlah pemain, seperti Vitor Rogue dan Ilkay Guendogan, agar tidak melanggar aturan keuangan liga.
Tidak disangka, tanpa dibekali skuad mewah, Flick mampu membawa Barca berjaya di Spanyol.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .