Selalu kalah dalam empat ”el clasico” musim lalu bukanlah hal bagus untuk tim sekelas Real. ”Los Blancos” berniat membalas di saat performa Barca sedang inkonsisten.
25 Okt 2025 12:38 WIB · Olahraga
AP
MADRID, SABTU – Gagal memetik satu pun kemenangan pada el clasico musim lalu turut berkontribusi dalam kehancuran Real Madrid. Pelatih baru Real, Xabi Alonso, diharapkan bisa memetik hasil positif dalam el clasico perdananya di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Minggu (26/10/2025) pukul 22.15 WIB. Performa inkonsisten Barcelona awal musim ini jadi celah Alonso memupus hegemoni sang rival abadi.
Semenjak ditangani Hansi Flick, Barca selalu menemukan cara menaklukkan Real. Dalam empat kali el clasico musim lalu, Flick selalu sukses keluar sebagai pemenang. Pelatih asal Jerman itu pun di ambang menyamai rekor Pep Guardiola yang mampu membawa Barca meraih kemenangan terpanjang melawan Real di seluruh kompetisi. Guardiola pernah memenangi lima laga el clasico secara beruntun sejak 2008 hingga 2010.
Sebagai klub raksasa yang kini memimpin klasemen sementara Liga Spanyol, Real tentu tidak sudi kembali jadi bulan-bulanan Barca. Apalagi, kedua tim terlibat rivalitas sengit selama bertahun-tahun. Hal ini yang disadari Pau Cubarsi jelang laga akbar nanti. Bek tengah itu tahu Real akan sangat berambisi membalas empat kekalahan musim lalu sekaligus mengakhiri hegemoni Barca di el clasico.
”Tahun lalu kami menunjukkan kemampuan kami melawan Real Madrid, mengalahkan mereka empat kali dan berada di puncak klasemen. Tahun ini akan jadi pertandingan yang baru. Mereka pasti ingin balas dendam, tetapi kami harus menjadi diri kami sendiri seperti musim lalu dan percaya pada cara bermain kami,” tutur Cubarsi, dikutip dari The Athletic.
Cara bermain menjadi isu tersendiri di internal Barca saat ini. Taktik Flick yang sangat mengandalkan permainan menekan dengan garis pertahanan tinggi mulai bisa diatasi para lawannya. Tuntutan untuk menekan sejak lawan membangun serangan juga mulai sulit dijalankan para pemain Barca. Tidak seperti musim lalu, mereka tampak kelelahan bermain dengan intensitas menekan tinggi seperti diinginkan Flick.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/25/8111b617b7675b5c75275e3a2123d311-APTOPIX_Spain_Soccer_La_Liga_133420351.jpg)
Itu terlihat pada laga menghadapi Girona pekan lalu. Barca memang sukses memetik kemenangan, 2-1. Namun, kemenangan itu diraih dengan cara bermain yang tidak sedap dipandang. Momen-momen krusial lebih banyak bergantung pada kecemerlangan individu pemain semacam Lamine Yamal, Marcus Rashford, atau Pedri.
Selebihnya, Barca kesulitan mengontrol permainan. Girona bahkan seharusnya bisa dengan mudah mencetak lima gol pada babak pertama andai kiper Wojciech Szczesny tidak tampil cemerlang mementahkan peluang lawan. Kemenangan atas Girona diiringi renungan mendalam dari staf Barca. Mereka merasa, jika melawan tim yang jauh lebih solid dengan performa seperti itu, sudah dipastikan Barca akan kalah.
Setelah memenangi tiga gelar domestik musim lalu, Barca memulai awal musim ini dengan lambat. Dari sembilan laga Liga Spanyol, Barca dua kali kehilangan poin penuh dan seluruhnya terjadi saat bermain di markas lawan. Kecenderungan ini semestinya mulai menjadi perhatian serius bagi Flick. Sayangnya, Flick nantinya tidak bisa mendampingi timnya dari tepi lapangan lantaran mendapat kartu merah saat melawan Girona.
Selain Flick, Barca juga tidak diperkuat sejumlah pemain andalannya. Raphinha menderita cedera paha. Demikian pula Dani Olmo dan Gavi yang masih belum pulih. Kabar baiknya, Ferran Torres yang awalnya diragukan berpotensi bermain sejak menit awal. Penyerang timnas Spanyol itu mengoleksi keterlibatan gol kedua terbanyak Barca dengan torehan empat gol dan satu asis.
Ini akan menjadi laga besar setelah kami kalah beberapa kali tahun lalu. Tahun ini penting bagi kami untuk menang. Kami bisa memperlebar jarak di liga dan itu akan jadi laga spektakuler.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/25/d4ec9dd6ded39ea2da48ff87bc2c8a12-APTOPIX_Spain_Soccer_La_Liga_133420361.jpg)
Selain ambisi balas dendam Real, laga nanti juga diprediksi berlangsung sengit lantaran memperebutkan puncak klasemen sementara liga. Real saat ini memimpin dengan selisih dua poin dengan Barca di peringkat kedua. Dengan begitu, pemenang el clasico nanti akan mengambil alih pucuk pimpinan klasemen.
Real akan berusaha menjaga keunggulan di klasemen menjadi lima poin. Alonso beruntung dengan minimnya pemain cedera di timnya. Pikirannya justru terkuras untuk menentukan apakah akan memainkan Brahim Diaz atau Franco Mastantuono pada pos penyerang sayap kanan. Selain itu, Alonso juga harus memilih antara Jude Bellingham atau Arda Guler sebagai gelandang serang.
”Ini akan menjadi laga besar setelah kami kalah beberapa kali tahun lalu. Tahun ini penting bagi kami untuk menang. Kami bisa memperlebar jarak di liga dan itu akan jadi laga spektakuler,” tutur kiper Real, Thibaut Courtois.
Performa Real di bawah Alonso menunjukkan kemajuan dibandingkan musim lalu. Namun, masih perlu banyak perbaikan dalam skema taktik Alonso. Ia mengubah secara signifikan bagaimana cara Real bermain saat sedang tidak menguasai bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/25/6dbf021848620cc7c60b43fe4fc8f043-Spain_Soccer_La_Liga_133468897.jpg)
Selain itu, formasi pertahanan Real jauh lebih kohesif. ”Los Blancos” menjadi tim kedua di liga dengan rerata kebobolan paling sedikit per laga. Posisi pertama ditempati Deportivo Alaves dengan rerata kebobolan 0,9 gol per laga. Adapun Real hanya mencatatkan rerata kebobolan satu gol per laga.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul