Sebagai imam, Bartholomew gigih memperjuangkan perlindungan lingkungan. Ia juga tak kenal lelah mendorong persatuan, toleransi, dan pembelaan kaum papa.
Jumat (28/11/2025), Bartholomew I dari Konstantinopel, Patriark ekumenis konstantinopel Gereja Ortodoks Timur, akan kembali ikut mencatat sejarah. Bersama Paus Leo XIV, ia menghadiri peringatan 17 abad Konsili Nicaea di Iznik, Turki.
Berbeda dari Gereja Katolik Roma yang punya pemimpin tertinggi, gereja ortodoks terorganisasi dalam berbagai gereja nasional yang menunjuk pemimpinnya sendiri. Meskipun demikian, Patriark Bartholomew disepakati sebagai perwakilan tertinggi Gereja Ortodoks Timur. Ia disebut sebagai Primus Inter Pares, yang utama di antara yang setara, di kalangan para pemimpin gereja ortodoks.
Menurut Gereja Ortodoks, Bartholomew adalah penerus ke-270 dari Rasul Andreas. Lahir dengan nama Dimitrios Arhondonis di Pulau Imbros, kini ia ”memimpin” 300 juta umat Kristen Ortodoks di beberapa negara.
Sejak jadi patriark pada November 1991, salah satu fokusnya soal lingkungan. Tak sampai setahun selepas dinobatkan, ia mengumpulkan para pemimpin gereja ortodoks untuk menekankan bahwa isu lingkungan perlu menjadi perhatian gereja. Sejak itu, hampir dalam setiap kesempatan, Bartholomew selalu membahas isu perlindungan lingkungan.
Menginspirasi banyak dari kita dalam kerja untuk lingkungan.
Gagasan lingkungannya antara lain disokong Pangeran Philip. Meski menjadi suami Kepala Negara Inggris Ratu Elizabeth II, Pangeran Philip punya keterikatan batin dengan gereja ortodoks. Sebab, mendiang Philip anggota keluarga Kerajaan Yunani dan Yunani, baik era kerajaan atau republik seperti sekarang, mengakui Kristen Ortodoks sebagai salah satu agama resmi. Sementara Bartholomew, meski warga negara Turki, lahir dari keluarga dan dibesarkan dalam lingkungan diaspora Yunani.
Karya Bartholomew pada lingkungan antara lain disanjung mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore. Kala menerima Bartholomew di Washington DC pada 1997, Gore menyebutnya sebagai Patriark Hijau. ”Menginspirasi banyak dari kita dalam kerja untuk lingkungan,” kata Gore.
Dosa ekologi
Pada 2025, Bartholomew menerima Anugerah Laudato Si dan Anugerah Templeton atas karya-karyanya terkait lingkungan. Anugerah Templeton antara lain mengakui pernyataan bersejarahnya pada 1997.
”Bagi manusia yang menyebabkan kepunahan spesies dan menghancurkan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan. Bagi manusia yang merusak integritas Bumi dengan menyebabkan perubahan iklim, dengan melucuti hutan alami Bumi, atau menghancurkan lahan basah. Bagi manusia yang melukai manusia lain dengan penyakit, bagi manusia yang mencemari air Bumi, tanahnya, udaranya, dan kehidupannya, dengan zat beracun. Ini adalah dosa,” ujarnya pada 7 November 1997.
Pidatonya itu disebut menjadi asal-usul istilah dosa ekologi. Kala menerima Anugerah Templeton, Patriark Bartholomew mengapresiasi karena kini umat Katolik dan Kristen menyediakan waktu untuk mendoakan perlindungan lingkungan. Setiap 1 September di berbagai gereja, Katolik atau Kristen, mendoakan perlindungan dan keselamatan lingkungan.
Jurnalis peliput isu-isu kepausan dan kekristenan, Bruce Clark, menyebut gagasan dan karya Bartholomew soal lingkungan menjadi salah satu rujukan mendiang Paus Fransiskus. Mendiang Paus Fransiskus memang dikenal sebagai pejuang gigih isu lingkungan dan pembelaan kaum tersisih. Lewat Laudato Si 2015, mendiang Paus Fransiskus meneguhkan teladannya sebagai pembela lingkungan.
Menurut Clark, jejak inspirasi Bartholomew pada mendiang Paus Fransiskus antara lain dalam pertemuan Wali Gereja Amerika Latin 2007 di Brasil. Waktu itu, Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang belakangan terpilih sebagai Paus Fransiskus, bertanggung jawab menyusun deklarasi akhir.
Kardinal Bergoglio meyakini nasib orang miskin dan Bumi saling terkait. Di forum 2007, para imam antara lain diyakinkan dengan kehadiran Bartholomew di Manaus, Brasil, pada Juli 2006.
Forum 2006 digagas Patriark Bartholomew dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan itu mengumpulkan ratusan rohaniwan dan ilmuwan lingkungan. Hadir pula perwakilan sejumlah negara. ”Amazon adalah simbol keagungan sekaligus kerentanan ciptaan Tuhan,” ujar Bartholomew kala itu.
Persatuan
Ia terpilih sebagai Patriark saat dunia mengalami perubahan besar. Uni Soviet runtuh dan Perang Dingin berakhir. Karena tidak ada pemimpin tertinggi di kalangan gereja ortodoks, Bartholomew berinisiatif mengontak dan menyambung komunikasi di antara gereja ortodoks di negara pecahan Uni Soviet.
Meski menerapkan komunisme, Uni Soviet tak bisa menghilangkan gereja ortodoks. Kini, gereja ortodoks menjadi salah satu institusi sosial terkuat di Rusia, Ukraina, dan berbagai pecahan Uni Soviet lain.
Amazon adalah simbol keagungan sekaligus kerentanan ciptaan Tuhan.
Persatuan dan toleransi menjadi salah satu misi pokok lain Bartholomew. Gagasan itu lekat dengan kehidupannya sejak kecil.
Meski lahir dari keluarga diaspora Yunani, ia tumbuh di Turki yang mayoritas Muslim. Dimitrios Arhondonis sekolah di Istanbul, kota yang dulu jadi pusat Gereja Timur setelah ada perpecahan antara Roma dan Konstantinopel. Sebelum jadi Istanbul di era Turki Utsmani, kota itu memang dikenal sebagai Konstantinopel yang dibangun Konstantin Agung pada tahun 330.
Pembangunan Konstantinopel dimulai sekitar lima tahun selepas Konsili Nicaea berlangsung. Kini, Nicaea bernama Iznik, yang seperti juga Konstaninopel menjadi salah satu wilayah Turki.
Dari Istanbul, Arhondonis melanjutkan pelajaran ke seminari Halki. Ia belajar sampai menjadi doktor teologi di sana.
Sebelum resmi menjadi imam, ia menjalani wajib militer seperti halnya semua pria warga negara Turki. Pangkatnya setara pembantu letnan satu dan berdinas dua tahun sampai 1963.
Selesai wajib militer, ia melanjutkan kuliah di Italia, Jerman, dan Swiss untuk mendalami kajian-kajian oriental. Ia juga mendapat gelar doktor kedua dari Universitas Kepausan Gregoriana di Roma. Selama belajar lanjutan, ia meningkatkan kefasihan berbahasa Latin, Italia, Perancis, Jerman, dan tentu Inggris.
Setelah semua pelajaran lanjutan, baru ia ditahbiskan sebagai imam pada Oktober 1969. Setelah berkarya beberapa dekade, ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Konstantinopel pada Oktober 1991. Sebulan kemudian, ia menjadi patriark.
Dalam jabatan itu, ia semakin gencar mendorong persatuan. Ia menjadi Patriark Gereja Ortodoks Timur pertama yang menghadiri penobatan Paus di Roma pada 2013. Kehadirannya di Alun-alun Santo Petrus mengejutkan sekaligus membawa kesejukan bagi banyak orang.
Bersama mendiang Fransiskus, Bartholomew terus mendorong persatuan kristiani, dialog antariman, serta memajukan toleransi. Pada Mei 2014, Bartholomew dan Fransiskus berdoa bersama di Gereja Makam Kudus di Jerusalem.
Pada 2016, mereka bersama imam lain mengunjungi Pulau Lesbos, Yunani. Lawatan itu cara mereka menyuarakan kepedulian atas krisis pengungsi. (AP/AFP)
Bartholomew dari Konstantinopel
Nama lahir: Dimitrios Arhondonis
Lahir: 29 Februari 1940
Pendidikan :
Seminari Halki
Universitas Kepausan Gregoriana, Roma
Penghargaan :
Gelar doktor honoris causa dari berbagai perguruan tinggi
Anugerah Laudato Si 2025
Anugerah Templeton 2025
Medali Kongres AS 1997
Anugerah Sophie 2002
Plakat Santo Patrik 2019
Jumat (28/11/2025), Bartholomew I dari Konstantinopel, Patriark ekumenis konstantinopel Gereja Ortodoks Timur, akan kembali ikut mencatat sejarah. Bersama Paus Leo XIV, ia menghadiri peringatan 17 abad Konsili Nicaea di Iznik, Turki.
Berbeda dari Gereja Katolik Roma yang punya pemimpin tertinggi, gereja ortodoks terorganisasi dalam berbagai gereja nasional yang menunjuk pemimpinnya sendiri. Meskipun demikian, Patriark Bartholomew disepakati sebagai perwakilan tertinggi Gereja Ortodoks Timur. Ia disebut sebagai Primus Inter Pares, yang utama di antara yang setara, di kalangan para pemimpin gereja ortodoks.
Serial Artikel
Episkop Daniel, Pemimpin Baru Gereja Ortodoks Indonesia
Pemimpin Gereja Ortodoks Indonesia, Episkop Daniel dari Nikopolis, baru saja ditahbiskan. Ia merupakan episkop pertama Gereja Ortodoks yang merupakan warga Indonesia.
Menurut Gereja Ortodoks, Bartholomew adalah penerus ke-270 dari Rasul Andreas. Lahir dengan nama Dimitrios Arhondonis di Pulau Imbros, kini ia ”memimpin” 300 juta umat Kristen Ortodoks di beberapa negara.
Sejak jadi patriark pada November 1991, salah satu fokusnya soal lingkungan. Tak sampai setahun selepas dinobatkan, ia mengumpulkan para pemimpin gereja ortodoks untuk menekankan bahwa isu lingkungan perlu menjadi perhatian gereja. Sejak itu, hampir dalam setiap kesempatan, Bartholomew selalu membahas isu perlindungan lingkungan.
Menginspirasi banyak dari kita dalam kerja untuk lingkungan.
Gagasan lingkungannya antara lain disokong Pangeran Philip. Meski menjadi suami Kepala Negara Inggris Ratu Elizabeth II, Pangeran Philip punya keterikatan batin dengan gereja ortodoks. Sebab, mendiang Philip anggota keluarga Kerajaan Yunani dan Yunani, baik era kerajaan atau republik seperti sekarang, mengakui Kristen Ortodoks sebagai salah satu agama resmi. Sementara Bartholomew, meski warga negara Turki, lahir dari keluarga dan dibesarkan dalam lingkungan diaspora Yunani.
Karya Bartholomew pada lingkungan antara lain disanjung mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore. Kala menerima Bartholomew di Washington DC pada 1997, Gore menyebutnya sebagai Patriark Hijau. ”Menginspirasi banyak dari kita dalam kerja untuk lingkungan,” kata Gore.
Dosa ekologi
Pada 2025, Bartholomew menerima Anugerah Laudato Si dan Anugerah Templeton atas karya-karyanya terkait lingkungan. Anugerah Templeton antara lain mengakui pernyataan bersejarahnya pada 1997.
”Bagi manusia yang menyebabkan kepunahan spesies dan menghancurkan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan. Bagi manusia yang merusak integritas Bumi dengan menyebabkan perubahan iklim, dengan melucuti hutan alami Bumi, atau menghancurkan lahan basah. Bagi manusia yang melukai manusia lain dengan penyakit, bagi manusia yang mencemari air Bumi, tanahnya, udaranya, dan kehidupannya, dengan zat beracun. Ini adalah dosa,” ujarnya pada 7 November 1997.
Pidatonya itu disebut menjadi asal-usul istilah dosa ekologi. Kala menerima Anugerah Templeton, Patriark Bartholomew mengapresiasi karena kini umat Katolik dan Kristen menyediakan waktu untuk mendoakan perlindungan lingkungan. Setiap 1 September di berbagai gereja, Katolik atau Kristen, mendoakan perlindungan dan keselamatan lingkungan.
Jurnalis peliput isu-isu kepausan dan kekristenan, Bruce Clark, menyebut gagasan dan karya Bartholomew soal lingkungan menjadi salah satu rujukan mendiang Paus Fransiskus. Mendiang Paus Fransiskus memang dikenal sebagai pejuang gigih isu lingkungan dan pembelaan kaum tersisih. Lewat Laudato Si 2015, mendiang Paus Fransiskus meneguhkan teladannya sebagai pembela lingkungan.
Serial Artikel
"Laudato Si", Bertobatlah Kerusakan Alam Sudah di Depan Mata
Paus Fransiskus mengingatkan Bumi sebagai rumah bersama. Hal itu disampaikan karena kerusakan alam sudah di depan mata.
Menurut Clark, jejak inspirasi Bartholomew pada mendiang Paus Fransiskus antara lain dalam pertemuan Wali Gereja Amerika Latin 2007 di Brasil. Waktu itu, Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang belakangan terpilih sebagai Paus Fransiskus, bertanggung jawab menyusun deklarasi akhir.
Kardinal Bergoglio meyakini nasib orang miskin dan Bumi saling terkait. Di forum 2007, para imam antara lain diyakinkan dengan kehadiran Bartholomew di Manaus, Brasil, pada Juli 2006.
Forum 2006 digagas Patriark Bartholomew dan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan itu mengumpulkan ratusan rohaniwan dan ilmuwan lingkungan. Hadir pula perwakilan sejumlah negara. ”Amazon adalah simbol keagungan sekaligus kerentanan ciptaan Tuhan,” ujar Bartholomew kala itu.
Persatuan
Ia terpilih sebagai Patriark saat dunia mengalami perubahan besar. Uni Soviet runtuh dan Perang Dingin berakhir. Karena tidak ada pemimpin tertinggi di kalangan gereja ortodoks, Bartholomew berinisiatif mengontak dan menyambung komunikasi di antara gereja ortodoks di negara pecahan Uni Soviet.
Meski menerapkan komunisme, Uni Soviet tak bisa menghilangkan gereja ortodoks. Kini, gereja ortodoks menjadi salah satu institusi sosial terkuat di Rusia, Ukraina, dan berbagai pecahan Uni Soviet lain.
Amazon adalah simbol keagungan sekaligus kerentanan ciptaan Tuhan.
Persatuan dan toleransi menjadi salah satu misi pokok lain Bartholomew. Gagasan itu lekat dengan kehidupannya sejak kecil.
Meski lahir dari keluarga diaspora Yunani, ia tumbuh di Turki yang mayoritas Muslim. Dimitrios Arhondonis sekolah di Istanbul, kota yang dulu jadi pusat Gereja Timur setelah ada perpecahan antara Roma dan Konstantinopel. Sebelum jadi Istanbul di era Turki Utsmani, kota itu memang dikenal sebagai Konstantinopel yang dibangun Konstantin Agung pada tahun 330.
Pembangunan Konstantinopel dimulai sekitar lima tahun selepas Konsili Nicaea berlangsung. Kini, Nicaea bernama Iznik, yang seperti juga Konstaninopel menjadi salah satu wilayah Turki.
Serial Artikel
Paus Leo XIV Dukung Mediasi Perdamaian Turki
Paus Leo mendukung Turki sebagai mediator konflik di kawasan. Kepada Lebanon, ia mengajak agar jangan menyerah.
Dari Istanbul, Arhondonis melanjutkan pelajaran ke seminari Halki. Ia belajar sampai menjadi doktor teologi di sana.
Sebelum resmi menjadi imam, ia menjalani wajib militer seperti halnya semua pria warga negara Turki. Pangkatnya setara pembantu letnan satu dan berdinas dua tahun sampai 1963.
Selesai wajib militer, ia melanjutkan kuliah di Italia, Jerman, dan Swiss untuk mendalami kajian-kajian oriental. Ia juga mendapat gelar doktor kedua dari Universitas Kepausan Gregoriana di Roma. Selama belajar lanjutan, ia meningkatkan kefasihan berbahasa Latin, Italia, Perancis, Jerman, dan tentu Inggris.
Setelah semua pelajaran lanjutan, baru ia ditahbiskan sebagai imam pada Oktober 1969. Setelah berkarya beberapa dekade, ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Konstantinopel pada Oktober 1991. Sebulan kemudian, ia menjadi patriark.
Dalam jabatan itu, ia semakin gencar mendorong persatuan. Ia menjadi Patriark Gereja Ortodoks Timur pertama yang menghadiri penobatan Paus di Roma pada 2013. Kehadirannya di Alun-alun Santo Petrus mengejutkan sekaligus membawa kesejukan bagi banyak orang.
Bersama mendiang Fransiskus, Bartholomew terus mendorong persatuan kristiani, dialog antariman, serta memajukan toleransi. Pada Mei 2014, Bartholomew dan Fransiskus berdoa bersama di Gereja Makam Kudus di Jerusalem.
Pada 2016, mereka bersama imam lain mengunjungi Pulau Lesbos, Yunani. Lawatan itu cara mereka menyuarakan kepedulian atas krisis pengungsi. (AP/AFP)
Bartholomew dari Konstantinopel
Nama lahir: Dimitrios Arhondonis
Lahir: 29 Februari 1940
Pendidikan :
Seminari Halki
Universitas Kepausan Gregoriana, Roma
Penghargaan :
Gelar doktor honoris causa dari berbagai perguruan tinggi