Basarnas menyebut jumlah korban jiwa sementara akibat bencana di Sumut dan Sumbar mencapai 105 orang. Korban jiwa di Aceh masih didata.
28 Nov 2025 15:01 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
JAKARTA, KOMPAS — Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional atau Basarnas merilis 105 orang tewas akibat bencana alam di Sumatera Utara dan Sumatera Barat hingga Jumat (28/11/2025), pukul 12.00 WIB. Untuk korban jiwa di Aceh, petugas masih mendata lebih lanjut. Hampir 2.000 personel diturunkan untuk proses evakuasi bencana di tiga daerah itu.
Di Sumatera Utara, berdasarkan pendataan Kantor SAR Medan dan SAR Nias, tercatat 83 orang tewas dan 81 orang masih dalam pencarian. Korban tewas terbanyak ada di Tapanuli Tengah, yakni 34 orang, dan di Sibolga 30 orang, sedangkan yang berhasil dievakuasi 677 orang.
Sementara itu, di Sumatera Barat tercatat 22 orang tewas dan 12 orang masih dicari. Data Kantor SAR Padang menyebutkan, korban meninggal terbanyak ada di Agam, yakni 10 orang. Total warga yang dievakuasi mencapai 29.152 orang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/abcb49740762930597cc8815aefe8929-antarafoto_pengungsian_korban_banjir_bandang_di_padang_1764229144.jpg)
Di Aceh, korban tewas dan hilang masih didata. Namun, sebanyak 645 orang sudah dievakuasi. Pengungsi terbanyak ada di Aceh Utara, yakni 3.507 orang, dan Aceh Timur 2.456 orang.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, pencarian korban hilang dan evakuasi warga terus dilakukan. Berbagai peralatan digunakan, mulai dari helikopter, ekskavator, perahu karet, dan drone pemantauan. Jumlah personel dalam proses SAR di tiga provinsi hampir mencapai 2.000 orang.
Akan tetapi, semua dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. Alasannya, curah hujan dan muka air sungai masih tinggi, sementara akses jalan masih tertutup material.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/f27ebe3e572a8a169ceb32edc7cdcbca-IMG_20251001_140459.jpg)
Berkaca dari hal itu, ia merekomendasikan berbagai pihak untuk meminimalkan risiko. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diharapkan dapat melakukan modifikasi cuaca terkait tingginya curah hujan. Sementara Kementerian Pekerjaan Umum diharapkan bantuannya untuk membersihkan akses jalan yang tertutup material longsor.
Ke depan, kata Syafii, tim evakuasi akan terus didatangkan untuk membantu. KN SAR Purworejo, misalnya, berangkat dari Tanjung Pinang menuju Lhokseumawe dengan 30 personel, 12 perahu karet, dan 2 unit Starlink. Selain itu, helikopter HR-3604 akan bergerak ke Sumbar menyisir permukiman terdampak banjir guna evakuasi lanjutan.
”Seluruh langkah ini dirancang untuk mempercepat penanganan, memperluas jangkauan pencarian, dan memastikan seluruh masyarakat terdampak mendapatkan bantuan secepat dan seaman mungkin,” kata Syafii.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/7cebbc806f1ef53baabe72395456bdbe-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_14.41.12.jpeg)
Pakar hidrologi dari Universitas Padjadjaran Chay Asdak mengatakan, ada dua hal utama yang memicu bencana di Sumut, Sumbar, dan Aceh.
Pertama, faktor alam yang dipengaruhi siklon dan topografi kawasan. Dampak siklon tropis Senyar yang memicu cuaca ekstrem itu efeknya semakin besar saat berada di daerah perbukitan.
Di daerah perbukitan, penguapan biasanya terjadi lebih tinggi sehingga memicu pembentukan awan konvektif yang menyebabkan cuaca ekstrem, seperti badai dan angin kencang.
”Keberadaan siklon ditambah penguapan di perbukitan membuat cuaca ekstrem semakin tinggi dan dampaknya kian berbahaya,” kata Chay.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/31581cf9-7d53-4455-8e95-8a5d6cd8c0cb.jpg)
Chay mengatakan, fenomena alam tidak akan pernah bisa dilawan, tapi, ia menekankan, bisa ditekan dampaknya. Setidaknya pemerintah daerah atau warga di sekitarnya bisa lebih siap menghadapi kemungkinan munculnya siklon di daerah rawan.
”Ke depan, saya berharap informasi mengenai kerawanan siklon dan topografi ini diberikan BMKG lebih cepat dan akurat sebelum bencana datang. Tujuannya, demi mitigasi terbaik mencegah jatuhnya korban jiwa,” katanya.
Kedua, ulah manusia atau antropogenik. Salah satunya kebijakan tata guna lahan. Tanpa pengaturan yang ideal, kata Chay, ulah manusia hanya akan mengundang bahaya lebih besar di kemudian hari.
”Perkebunan sawit hingga food estate, misalnya, membutuhkan penanganan yang ideal. Kami tidak sedang menolak keduanya, tetapi ke depan pelaksanaan di lapangan harus tetap bisa meminimalkan bencana di kemudian hari,” ujar Chay.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji