Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax membuat sebagian pengguna memutuskan beralih ke BBM bersubsidi, seperti Pertalite. Kenaikan harga itu dikeluhkan warga.
10 Jun 2026 14:20 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/KRISTI DWI UTAMI
Warga yang datang ke SPBU Jalan Veteran, Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026), mendapat kejutan kecil yang menjengkelkan saat berada di depan pompa bensin. Datang dengan uang yang sama, mereka pulang dengan bahan bakar minyak (BBM) lebih sedikit.
Antrean kendaraan mengular di pompa BBM bersubsidi di SPBU Jalan Veteran, Rabu pagi. Hal itu kontras dengan pompa BBM nonsubsidi di sampingnya. Hanya ada satu hingga dua kendaraan yang datang mengisi BBM di pompa tersebut.
Salah satu yang langsung menuju pompa BBM nonsubsidi adalah Dodi (59), warga Semarang Selatan. Dia mengaku sudah terbiasa mengisi Pertamax untuk sepeda motornya. Kali ini, ia kembali meminta petugas mengisi tangkinya dengan Pertamax seharga Rp 30.000.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/a2f0b087c8d67e75c1a76f6bf90dc402-IMG_0460.JPG)
Akan tetapi, seusai pengisian dilakukan, ia terkejut. Kali ini, ia mendapatkan BBM jauh lebih sedikit dari biasanya. Sebelumnya, ia bisa mendapatkan Pertamax hingga 2,4 liter dengan uang Rp 30.000. Sekarang, Dodi hanya mendapat 1,8 liter.
Dodi sempat mengira pompa bensin itu rusak. Namun, dugaan itu keliru. Petugas menjelaskan bahwa memang ada kenaikan harga Pertamax mulai Rabu.
”Sebelumnya saya tidak tahu harganya naik. Baru dikasih tahu petugas waktu mengisi (BBM). Tidak ada informasi, tiba-tiba naik,” kata Dodi.
Edi Parusit (61), warga Kecamatan Gajahmungkur, juga tak menyangka harga Pertamax tiba-tiba naik. Kini, uang Rp 20.000 miliknya seperti tak berdaya. Jika nilai tersebut biasanya setara dengan 1,6 liter untuk pemakaian sepekan, kali ini Edi hanya bisa mendapat sekitar 1,2 liter Pertamax.
”Kenaikannya banyak banget, hampir Rp 4.000. Padahal, harga bahan pokok sekarang mahal sekali. Ke pasar bawa Rp 50.000 itu enggak dapat apa-apa. Cuma tempe, tahu, sayur. Kalau untuk lauk, daging sudah sulit. Untuk pemerintah, tolong ini kondisinya diperbaikilah,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/b70a58c50285eed78e4f20c86fad79d9-IMG_0461.JPG)
Kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat sejumlah pengguna berpikir untuk beralih ke BBM bersubsidi. Alvin (26), warga Kecamatan Semarang Selatan, misalnya, menyebut bakal beralih untuk menekan pengeluaran.
”Awalnya saya pengguna BBM subsidi, terus saya beralih ke nonsubsidi biar mesinnya lebih baik, suaranya lebih halus. Karena kenaikan ini, nanti saya kembali lagi ke Pertalite,” kata Alvin.
Ia menyayangkan keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM di tengah situasi ekonomi yang lesu. Kondisi itu dikhawatirkan Alvin bakal membuat kondisi perekonomian masyarakat semakin sulit.
”Kasihan yang untuk rakyat menengah ke bawah. Apalagi menengah ke bawah, kan, makan saja susah, apalagi ditambah dengan kenaikan harga. Saya khawatir ke depan kondisinya bakal lebih tak terkendali, apalagi situasi global juga masih perang,” ucap Alvin.
Raditya (46), pengguna BBM nonsubsidi lain, juga berniat beralih ke BBM bersubsidi. Hal itu terpaksa dilakukan agar arus keuangannya tidak terganggu. Ia kecewa dengan pilihan kebijakan yang diambil pemerintah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/4431737cbc37ed61e8f241d666790e92-IMG_0469.JPG)
”Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM ini sangat mengecewakan. Seharusnya program-program yang memberatkan, seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Kelurahan/Desa Merah Putih, itu dihapus saja. Lebih baik untuk subsidi yang lebih signifikan, seperti infrastruktur, energi, hingga pendidikan,” ujarnya.
Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufiq Kurniawan mengatakan, kenaikan harga BBM terjadi pada sebagian kecil produk yang dikonsumsi masyarakat.
Taufiq menuturkan, hingga Juni 2026, mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa bagian tengah masih didominasi oleh produk bersubsidi yang tidak mengalami perubahan harga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/12c57ead7b445d6e1a53a6575edf998a-IMG_0464.JPG)
Pada segmen gasolin, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax 25,9 persen. Sementara Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen.
”Sementara pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen,” kata Taufiq dalam keterangannya.
Belajar dari kejadian di SPBU ini, kata Dodi, sepertinya harus bersiap dengan kejutan lain di lain waktu. Dia khawatir, kenaikan harga BBM nonsubsidi bakal menular ke BBM bersubsidi. Jika sudah begitu, kenaikan biaya logistik yang berujung pada kenaikan harga berbagai komoditas tak bisa dihindari.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul