Sebagai cabor unggulan, angkat besi punya ”beban” mengangkat prestasi Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Persaingan sengit dengan tuan rumah telah menanti.
05 Des 2025 05:06 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Setiap atlet angkat besi tahu, tugas utama mereka adalah mengangkat beban seberat mungkin. Ketika mampu menunaikan itu, para lifter juga sebenarnya mengangkat ”beban” lain yang lebih besar, yakni target prestasi Indonesia. Di SEA Games Thailand 2025, angkat besi kembali akan jadi andalan untuk memenuhi target keseluruhan sebanyak 80-85 medali emas.
Ricko Saputra memahami hal itu. Ketika lolos seleksi nasional untuk SEA Games Thailand 2025, Agustus lalu, Ricko bukan lagi akan tampil dengan hanya ambisi dan target pribadi. Lifter yang akan turun di kelas 60 kilogram ini juga bagian dari ”serdadu” yang disiapkan untuk memenuhi target cabang olahraga dan target kontingen Indonesia.
”Kalau ditanya apakah ingin membuktikan diri, pasti. Apalagi, ini akan jadi debut saya di SEA Games. Tapi, kami juga membawa tujuan dan target lebih besar,” kata Ricko selepas persiapan akhir di pemusatan latihan nasional (pelatnas) angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Jumat (28/11/2025).
Ricko adalah satu dari empat lifter debutan di SEA Games mendatang. Delapan lifter lainnya punya pengalaman tampil di pesta olahraga se-Asia Tenggara itu. Bahkan, beberapa di antaranya langganan meraih medali sekaligus olimpian, seperti lifter veteran Eko Yuli Irawan, Rizki Juniansyah, dan Rahmat Erwin Abdullah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/fe472b0a7830b73a58cdfc27c79a807c-FAK_1850.jpg)
Meski begitu, Ricko tak gentar. Performanya memang menurun selepas kualifikasi Olimpiade Paris 2024. Lifter berusia 25 tahun ini pun terdepak dari pelatnas, yang kemudian jadi salah satu alasan Ricko ingin membuktikan diri saat berlomba di Chonburi nanti.
Namun, Ricko bukan tanpa pengalaman. Lifter asal Bekasi, Jawa Barat, ini pernah tampil di ajang dengan level lebih tinggi, seperti Asian Games, Kejuaraan Asia, dan Kejuaraan Dunia. Dia juga mengoleksi tiga medali emas dari Islamic Solidarity Games 2021, satu medali emas IWF Grand Pix 2023, dan perak dan perunggu dari Kejuaraan Asia 2024.
Ricko adalah pesaing terdekat Eko Yuli Irawan yang masih belum terkalahkan. Meski berakhir antiklimaks, keduanya pernah bersaing demi satu tiket ke Olimpiade Paris 2024 di kelas 61 kg. Dengan total angkatan terbaiknya seberat 298 kg (snatch 133 kg dan clean and jerk 165 kg), Ricko hanya terpaut 2 kilogram dari total angkatan Eko dengan 300 kg (snatch 135 kg dan clean and jerk 165 kg).
Pengalaman itu jadi bekal Ricko untuk menatap SEA Games perdananya. Ricko tak hanya ingin membuktikan masih mampu menunjukkan performa terbaik, tetapi juga mampu turut menyumbang medali bagi Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/f357bbea6500109964d4868eb4a44c95-FAK_2626.jpg)
Seperti Ricko, pengalaman di ajang-ajang sebelumnya juga jadi bekal berharga lifter putri Alyamaulida Kartika Pertiwi, untuk debut di SEA Games. Jika Ricko mengumpulkan bekal itu sejak bertahun-tahun lalu, Alya mendapatkannya sepanjang tahun ini. Alya, yang akan turun di kelas 77 kg, langsung sibuk tak lama setelah dipanggil ke pelatnas pada awal 2025.
Alya menorehkan prestasi dengan meraih tiga perunggu pada debut internasionalnya di Kejuaraan Dunia Angkat Besi Remaja 2025 di Peru pada April lalu. Alya juga meraih tiga emas Kejuaraan Asia Angkat Besi Remaja 2025 di Kazakhstan, Juli. Terbaru, pada Oktober, lifter berusia 17 tahun ini meraih dua perunggu di Asian Youth Games 2025 di Bahrain.
Meski begitu, Alya tak memungkiri ada rasa gugup karena SEA Games tak hanya akan jadi debutnya di pesta olahraga tersebut, tetapi juga momen perdana berlomba bersama para seniornya. ”Ini, kan, pertama kali ikut kejuaraan bareng atlet senior, atlet Olimpiade lagi. Jadi tetap ada deg-degan,” ucap Alya.
Rasa gugup juga muncul karena persaingan di kelas 77 kg masih sulit untuk dipetakan. Di Kejuaraan Dunia 2025, Oktober lalu, tidak ada lifter Asia Tenggara yang ikut serta di kelas 77 kg. Padahal, pada beberapa kelas lain, Kejuaraan Dunia merupakan ajang untuk melihat kekuatan para pesaing setelah perubahan kategori berat badan.
Per Juni, Federasi Angkat Besi Internasional (IWF) menerapkan kelas baru yang terdiri dari 60 kilogram, 65 kg, 71 kg, 79 kg, 88 kg, 98 kg, 110 kg, dan +110 kg pada sektor putra. Adapun 48 kg, 53 kg, 58 kg, 63 kg, 69 kg, 77 kg, 86 kg, dan +86 kg ditetapkan pada sektor putri.
Hal ini pula yang disoroti pelatih tim angkat besi Indonesia, Dirdja Wihardja. Menurut Dirdja, gambaran utuh soal persaingan sulit didapat di Kejuaraan Dunia karena Thailand dan Vietnam, yang biasanya jadi pesaing Indonesia, tidak menurunkan skuad penuh. Namun, Dirdja meyakini, tuan rumah Thailand akan jadi salah satu pesaing terberat sekaligus ancaman untuk target empat medali emas.
Jika melihat hasil Kejuaraan Dunia 2025, Indonesia sebenarnya wajib waspada dengan sesama lifter Asia Tenggara lain, tidak hanya dari Thailand. Eko Yuli, misalnya, akan menghadapi persaingan ketat dari Muhammad Aznil bin Bidin asal Malaysia. Saat Eko menempati peringkat ketujuh Kejuaraan Dunia 2025 untuk total angkatan 300 kg (snatch 137 kg, clean and jerk 163 kg), Aznil menempati peringkat kelima dengan 301 kg (snatch 135 kg, clean and jerk 166 kg).
Pelatih tim angkat besi Indonesia yang menangani Eko Yuli, Erwin Abdullah, mengamini bahwa lifter-lifter Asia Tenggara lain, termasuk dari Malaysia, memang patut diwaspadai. ”Namun, kami juga berusaha untuk menyempurnakan angkatan, terutama clean and jerk. Kalau itu sudah baik, seharusnya angkatan juga akan bertambah,” tutur Erwin.
Ancaman lain juga datang pada sektor putri. Peraih emas kelas 55 kg di SEA Games Kamboja 2023, Juliana Klarisa, pulang tanpa medali di Kejuaraan Dunia 2025. Klarisa tampil di kelas 53 kg dan menempati peringkat ke-9 dengan total angkatan 183 kg (snatch 80 kg, clean and jerk 103 kg).
Di kelas ini, lifter Thailand Surodchana Khambao sukses meraih medali perunggu dengan total angkatan 200 kg (snatch 90, clean and jerk 110 kg). Surodchana sebelumnya meraih emas di SEA Games Vietnam 2021 dan meraih perak Olimpiade Paris 2024 saat turun di kelas 49 kg. Kehadirannya di kelas 53 kg bisa jadi ancaman bagi Klarisa untuk meraih medali emas lagi di Thailand.
Ricko pun akan menemui tantangan berat karena berada di kelas yang sama dengan peraih perak Olimpiade Paris 2024, Silachai Theerapong (Thailand). Selain Theerapong, pesaing Ricko adalah lifter Malaysia, Mohamad Aniq bin Kasdan, yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/1ac04acb889e2778c58ead46a07e71e4-FAK_2057.jpg)
Setiap SEA Games, angkat besi selalu jadi cabang andalan Indonesia untuk mengumpulkan medali emas. Setidaknya dalam lima edisi terakhir, angkat besi selalu menyumbang minimal dua medali emas dan finis di tiga besar klasemen cabang olahraga.
Maka, kendati tantangannya berat, Dirdja yang menangani Ricko optimistis anak asuhannya dan juga lifter-lifter Indonesia lain mampu mengejar target empat medali emas di SEA Games mendatang. Menurut Dirdja, seperti yang sudah-sudah, para lifter siap untuk mengangkat ”beban” prestasi demi memenuhi target total 80-85 medali emas.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait dengan penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji