Hadapi Trump, Beda Gaya Diplomasi Raja Abdullah II dan Zelenskyy

Pertemuan Trump-Zelenskyy berakhir ”cekcok”. Berkebalikan dengan Zelenskyy, gaya diplomasi elegan Raja Jordania membuahkan sikap Trump yang melunak.

01 Mar 2025 15:15 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

Sama-sama banyak bergantung pada bantuan Amerika Serikat, sama-sama ditekan untuk mengambil keputusan yang tak mereka sukai, dan sama-sama harus berhadapan langsung dengan Presiden AS Donald Trump, Raja Abdullah II dari Jordania dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy punya gaya diplomasi yang bertolak belakang.

Sikap Zelenskyy yang lugas dan blak-blakan serta tanpa rem memotong dan menyanggah pembicaraan Trump saat pertemuan di Ruang Oval, Jumat (28/2/2025), berakhir dengan cekcok dan batalnya kesepakatan dengan AS.

Sementara gaya diplomasi Raja Abdullah II tetap tenang dan elegan saat menghadapi Trump di ruang yang sama, Selasa (11/2/2025). Cara itu berbuah dengan sikap Trump yang melunak.

Pada saat bersamaan, dengan pernyataan-pernyataan diplomatik yang santun, Raja Jordania itu mengisyaratkan tidak sepakat dengan ide Trump untuk merelokasi penduduk Palestina dari Gaza.

US President Donald Trump (R) shakes hands with King Abdullah II of Jordan during a meeting in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on February 11, 2025. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Sebagai perbandingan dengan Zelenskyy, ketika di depan Trump, Raja Abdullah II ditanya reporter soal tanggapannya terhadap gagasan Trump merelokasi warga Palestina di Gaza. Tanpa memberi ”ruang” untuk kata sepakat, Raja Abdullah II menjawab dengan diplomatis.

Dengan tenang, Raja Abdullah menjawab bahwa ia dan para pemimpin Arab lainnya telah diundang oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh untuk menemukan solusi terbaik bagi semua pihak. ”Kita harus melihat yang terbaik untuk AS, warga di kawasan, terutama untuk rakyat Jordania,” katanya diplomatis.

Sebagai gantinya, kata Raja Abdullah II, satu hal yang bisa langsung dilakukan Jordania saat ini adalah menerima 2.000 anak yang sakit dari Gaza.

Quote

Kita harus melihat yang terbaik untuk AS, warga di kawasan, terutama untuk rakyat Jordania.

Jawaban itu membuat Trump senang. ”Ini niat yang sangat indah,” kata Trump menanggapi.

Raja Abdullah juga banyak melemparkan sanjungan untuk Trump. ”Saya akhirnya melihat seseorang yang dapat membawa kita melewati garis finis untuk membawa stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran bagi kita semua di kawasan ini,” katanya sebagai pujian untuk Trump.

Trump menyambut gembira kalimat pujian itu. ”Ini musik di telinga saya,” ujarnya.

Membawa Arab Saudi adalah diplomasi cerdik Raja Jordania. Hal ini karena Trump memahami pentingnya Arab Saudi secara politik dan ekonomi.

Negara itu adalah negara pertama yang dia kunjungi pada awal masa jabatan pertamanya. Pada awal masa jabatan keduanya, Trump berbicara tentang pentingnya kerajaan itu, terutama sebagai pusat kekuatan ekonomi yang berharga bagi ekonomi AS.

In this photo provided by the Saudi Ministry of Media, Arab leaders from left to right, Bahrain Crown Prince Salman bin Hamad Al Khalifa, Qatar's Emir Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, United Arab Emirates President Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman, Emir of Kuwait Mishal Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah, King Abdullah II bin Al-Hussein of Jordan, Egyptian President Abdel Fattah el-Sissi, Jordan Crown Prince Hussein bin Abdullah, and UAE's National Security Advisor Sheikh Tahnoun bin Zayed al-Nahyan pose for a picture during their meeting in Riyadh, Saudi Arabia, Friday, Feb. 21, 2025. (Saudi Ministry of Media via AP)

Dalam pertemuan 30 menit di depan media itu, Trump masih terus berapi-api berbicara soal rencananya untuk merelokasi penduduk Palestina dari Gaza. Namun, menghadapi ketenangan Raja Abdullah II yang sopan dan diplomatis, ia tetap bersikap baik dan dapat menerima jawaban Raja Jordania yang sebenarnya tak menyetujui relokasi Gaza.

Raja Abdullah II tak pernah memotong pembicaraan Trump. Padahal, di luar pertemuan dengan Trump, ia sebenarnya sudah tegas menolak usul itu.

Sepekan sebelum bertemu Trump, sejak awal Trump melontarkan ide itu, Raja Abdullah II sudah menegaskan ketidaksepakatannya. Ia mengatakan menolak segala upaya untuk mencaplok wilayah dan menggusur warga Palestina dari Gaza.

”Yang Mulia Raja Abdullah II menekankan perlunya menghentikan perluasan permukiman (Israel) dan menyatakan penolakan terhadap segala upaya untuk mencaplok tanah dan menggusur warga Palestina," kata Istana Kerajaan Jordania dalam sebuah unggahan di X, sepekan sebelum pertemuan di Gedung Putih.

Saat ini, Jordania telah menampung jutaan orang keturunan pengungsi Palestina yang dipaksa meninggalkan tanah mereka pada 1948. Peristiwa itu dikenal bangsa Palestina sebagai Nakba atau tragedi. 

Menerima rencana Trump dapat semakin mengobarkan kerusuhan di Jordania. Negeri itu sudah menghadapi banyak protes yang menyoroti ketergantungan Jordania pada AS dan Israel. Protes ini meningkat selama serangan Israel ke Gaza.

Trump melunak

Pertemuan Raja Abdullah II dengan Trump di Gedung Putih berlangsung sepekan setelah Trump melontarkan idenya untuk merelokasi penduduk Palestina dari Gaza. Trump menunjuk Jordania dan Mesir untuk menyediakan lahan guna menampung penduduk Gaza yang jumlahnya sekitar 2,3 juta orang itu.

Trump tahu benar posisinya kuat untuk meminta kedua negara itu menuruti kemauannya. Baik Mesir maupun Jordania sangat bergantung pada bantuan luar negeri AS selama puluhan tahun terakhir. 

Mesir telah menerima lebih dari 87 miliar dollar AS dari AS sejak 1946. Sementara untuk Jordania, AS kini memberi bantuan 1,72 miliar dollar AS setahun dalam bentuk bantuan luar negeri bilateral.

Children walk in an alley in a Palestinian refugee camp in Jerash, north of Amman, which was established in Jordan to host Palestinians who fled the Gaza Strip during the 1967 Arab-Israeli war, on February 18, 2025. Arab countries have put on a rare show of unity in their rejection of US President Donald Trump's proposal to settle Palestinians from Gaza in Jordan and Egypt. Jordan is already home to more than two million Palestinian refugees. More than half of the country's population of 11 million is of Palestinian origin. (Photo by Khalil MAZRAAWI / AFP)

Sebelum pertemuan dengan Raja Jordania, ia mengancam dapat menghentikan bantuan AS ke dua negara itu jika keduanya menolak menampung warga Gaza.

Gaya diplomasi elegan Raja Jordania Abdullah II membuahkan sikap Trump yang melunak, setidaknya untuk saat ini. Dalam pertemuan itu, saat ditanya apakah ia masih berniat menahan bantuan jika Jordania dan Mesir menolak kemauannya, Trump tak membenarkan.

”Saya tidak mau mengatakan begitu. Sebab, kita punya relasi yang sangat baik, hanya dengan pertemuan singkat ini. Jordania sudah membuat pernyataan yang saya tidak pernah minta, yaitu menyelamatkan 2.000 anak dari Jalur Gaza,” kata Trump.

Baru setelah selesai pertemuan dengan Trump, Raja Abdullah II kembali menegaskan penolakannya terhadap ide Trump menggusur warga Gaza.

”Jordania tetap teguh menentang pemindahan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Ini adalah posisi Arab yang bersatu,” katanya di X setelah tak lagi di depan Trump.

Akan tetapi, cara berdiplomasi Raja Abdullah II dalam pertemuan itu sudah meluluhkan sikap Trump. Beberapa hari kemudian, Trump bahkan menegaskan bahwa rencana memindahkan penduduk Palestina dari Jalur Gaza hanyalah rekomendasi, bukan pemaksaan. 

Zelenskyy terpancing emosi

Berbeda dengan cara berdiplomasi Raja Abdullah II, Presiden Zelenskyy justru tidak berupaya menutupi ekspresi tak nyaman mendengar kritik Trump dan dorongan untuk berdamai dengan Rusia.

Ia terlihat masih mampu menahan diri saat Trump mencerca dengan menuduhnya mempunyai kebencian luar biasa pada Presiden Rusia Vladimir Putin. ”Saya tidak bisa banyak berbuat kalau dia sudah punya kebencian begitu besar,” kata Trump kepada media, mengacu pada Zelenskyy.

Zelenskyy semakin terlihat tak terima saat Wakil Presiden AS JD Vance menyarankan untuk melakukan diplomasi dengan Rusia. Ia mempertanyakan pernyataan Vance itu.

”Diplomasi seperti apa yang kamu maksud?” tanya Zelenskyy setelah memberi penjelasan yang menuduh betapa Putin telah melanggar perjanjian sebelumnya.

Ukraine's President Volodymyr Zelensky speaks to US Vice President JD Vance as they meet with President Donald Trump in the Oval Office of the White House in Washington, DC, February 28, 2025. Zelensky on February 28 told Trump there should be "no compromises" with Russian President Vladimir Putin as the parties negotiate to end the war after Moscow's invasion. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Setelah itu, di depan Trump, Vance dan Zelenskyy saling potong pembicaraan, saling sanggah, dan melontarkan pernyataan-pernyataan panas.

Mengabaikan tata krama diplomasi, Zelenskyy melipat tangan sembari terus menyanggah pernyataan Trump dan Vance. ”Berapa kali kamu sudah ke Ukraina untuk mengetahui masalah apa yang sebenarnya kami hadapi,” katanya pada Vance. 

Trump panas dan membela Vance. Ia melontarkan lebih banyak cercaan kepada Zelenskyy. Ia, antara lain, menyebut Zelenskyy tak tahu terima kasih kepada AS, tak punya kartu untuk dimainkan, dan tak menghormati negara AS.

”Negaramu berada dalam situasi sangat sulit, kamu tidak punya apa pun untuk mendikte AS,” kata Trump dalam rangkaian cercaan itu.

Zelenskyy tak mau kalah. Ia menyanggah sejumlah pernyataan Trump saat Trump belum menyelesaikan kalimatnya. ”Meskipun berada di seberang lautan dari Eropa, AS akan terdampak di masa depan,” kata Zelenskyy memperingatkan AS jika Washington tak memberi dukungan kepada Kyiv.

”Jangan bilang apa yang kami rasakan. Negaramu berada dalam situasi sangat sulit, kamu tidak bisa mendikte AS,” jawab Trump dengan jari menuding-nuding ke arah Zelenskyy.

Trump akhirnya memotong pertemuan dan mengancam Ukraina untuk melakukan gencatan senjata secepatnya atau AS menarik dukungan. Selanjutnya, Zelenskyy pun batal menandatangani kesepakatan logam tanah jarang dengan AS. Ia sebetulnya diundang ke Gedung Putih untuk menandatangani kesepakatan itu.

Beberapa hari sebelum pertemuan dengan Zelenskyy tersebut, Trump sebenarnya sudah menggelar pertemuan-pertemuan dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terpisah.

Dua pertemuan itu berakhir manis meskipun keduanya menyatakan tidak setuju dengan langkah Trump yang menarik dukungan AS dari Ukraina. Trump tak mendebat mereka dan tetap bersikap baik. Bahkan saat kedua pemimpin Eropa itu berulang kali mengoreksi pernyataannya.

TOPSHOT - US President Donald Trump meets with French President Emmanuel Macron in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on February 24, 2025. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Macron menyentuh lembut tangan Trump sembari tersenyum saat hendak mengoreksinya. Adapun Starmer mengoreksi dengan gaya bicara yang tenang tanpa memotong pernyataan Trump.

Dengan gaya diplomasi Macron dan Starmer itu, Trump rupanya berkenan. Ia justru tersenyum dan mengangkat bahu dengan santai ketika Macron dan Starmer mengoreksi pernyataan-pernyataannya yang provokatif dan keliru tentang Eropa. 

Kedatangan Macron dan Starmer ke AS bermaksud untuk membujuk Trump memberi dukungan pada Ukraina. Selama ini, Ukraina bergantung pada AS untuk pasokan senjata dalam perang melawan Rusia.

Pertemuan-pertemuan manis Trump dengan para pendukung Ukraina itu sebenarnya modal untuk memuluskan pertemuan Zelenskyy dengan Trump.

Namun, pertemuan Trump-Zelenskyy menjadi bencana diplomasi yang semakin menggurat relasi Ukraina-AS.

Guratan itu juga membuat keretakan lebih dalam antara AS dan Eropa yang telah membicarakan kemungkinan mengirim pasukan ke medan perang Ukraina-Rusia jika AS betul-betul menarik dukungannya. (AP/REUTERS/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti