Empat gelar juara didapat atlet tuan rumah dari turnamen bulu tangkis Indonesia Masters Super 100. Selain atlet muda, gelar juga didapat Apriyani/Fadia.
26 Okt 2025 20:21 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
MEDAN, MINGGU — Atlet tuan rumah mendominasi kejuaraan bulu tangkis Indonesia Masters II Super 100 dengan meraih empat gelar juara. Ada makna berbeda bagi atlet muda dan senior yang memperoleh gelar tersebut.
Atlet Indonesia yang menjuarai Indonesia Masters II di GOR PBSI Pancing, Medan, Sumatera Utara, 21-26 Oktober, adalah Mohammad Zaki Ubaidillah pada nomor tunggal putra, Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata (ganda campuran), dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin (ganda putra). Mereka adalah atlet-atlet berusia 18-22 tahun yang memiliki gelar juara tertinggi dari level Super 100.
Satu gelar lain bagi Indonesia didapat ganda putri senior Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Adapun gelar juara tunggal putri didapat pemain senior Jepang yang merupakan juara dunia 2017, Nozomi Okuhara.
Bagi skuad muda Indonesia, gelar juara ini menjadi bagian dari bekal mereka untuk menjalani tantangan lebih tinggi. Raymond/Nikolaus bahkan mendapat gelar pertama dari Super 100 setelah empat kali menjuarai turnamen International Challenge/Series, yang berada di bawah Super 100, pada tahun ini.
Dalam laga final, Minggu (26/10/2025), mereka mengalahkan duet pemain berpengalaman beda negara, Choi Sol-gyu/Goh V Shem (Korea Selatan/Malaysia) dengan skor 21-18, 17-21, 24-22. Setelah gagal pada tiga match point sejak skor 20-19, Raymond/Nikolaus memenangi pertandingan pada match point keempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/cc7f10f1d1098c5c577c3c518f28ada9-WhatsApp_Image_2025_10_26_at_17.27.43.jpeg)
”Lega banget bisa juara Super 100. Sebelumnya, dengan partner berbeda, saya dua kali gagal di final (Super 100). Bersama Joaquin juga sekali gagal juara,” kata Raymond.
Kegagalan yang disebut Raymond adalah kekalahan dalam final Al Ain Masters di Uni Emirat Arab pada pekan pertama Oktober. Pada 2024, Raymond juga mencapai final turnamen Super 100 di Vietnam Terbuka dan Indonesia Masters II saat berpasangan dengan Patra Harapan Rindorindo.
Pengalaman yang menjadi beban tersebut muncul di benak Raymond saat mendapat match point. Apalagi, lawan adalah atlet berpengalaman yang sering tampil pada persaingan level tinggi pada ajang BWF World Tour hingga bisa tetap tenang pada momen kritis.
Raymond akhirnya bisa menghilangkan mimpi buruk kalah di final berkat dukungan partner, pelatih, dan penonton. Raymond/Nikolaus diminta tetap tenang oleh Pelatih Andrei Adistia meski tak mengendurkan serangan untuk mendapat poin.
Hasil yang didapat Raymond/Nikolaus, sebagai bagian dari atlet ganda putra pelatnas pratama, lebih baik dibandingkan ketika mereka tampil dalam Indonesia Masters I Super 100 di Riau pada September. Saat itu, mereka kalah di semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/512d7b88eba14bf38d76e70251bbc63c-WhatsApp_Image_2025_10_26_at_14.29.42.jpeg)
Gelar ini juga akan menjadi bekal untuk bersaing pada turnamen dengan level lebih tinggi, yaitu Korea Terbuka Super 300, 4-9 November. Ini akan menjadi pengalaman kedua Raymond/Nikolaus untuk bertanding dalam BWF World Tour setelah kalah pada babak pertama Makau Terbuka Super 300 pada 29 Juli-3 Agustus.
”Setelah meraih gelar di sini, kami ingin tampil lebih percaya diri di Korea, juga lebih baik dari penampilan di Makau,” kata Nikolaus.
Andrei mengatakan, Korea Terbuka dan Australia Terbuka Super 500 (18-23 November) akan menjadi turnamen untuk mengukur kemampuan Raymond/Nikolaus dalam persaingan lebih ketat. ”Harapannya bisa cepat mengejar prestasi para senior, tetapi mereka masih membutuhkan pengalaman dan kematangan bermain,” ucap Andrei yang melatih ganda putra pratama bersama Chafidz Yusuf.
Marwan juga menargetkan bisa menaikkan level kemampuannya hingga bisa bersaing di turnamen Super 300. ”Sebelumnya, kami kerap kalah di babak 16 besar pada level itu. Kami ingin lebih baik,” kata Marwan yang bersama Aisyah mengalahkan Jimmy Wong/Lai Pei Jing (Malaysia), 16-21, 21-19, 21-3, di final Indonesia Masters II.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/d702c2a1b4ffeeddbbc913d273387a71-WhatsApp_Image_2025_10_26_at_17.37.24.jpeg)
Untuk Zaki, gelar juara yang didapat setelah mengalahkan Dong Tian Yao (China), 21-11, 21-8, di final mengobati kekecewaan seusai kalah dalam final Kejuaaraan Dunia Yunior di India, 6-19 Oktober. Zaki dan rekan-rekan kalah dari China pada final beregu campuran, lalu kalah dalam final tunggal putra kategori perseorangan.
Adapun pada turnamen Super 100, Indonesia Masters II menjadi yang kedua bagi atlet berusia 18 tahun itu setelah menjuarai Indonesia Masters I pada 2024. Pada turnamen di Riau setahun lalu, Zaki mengalahkan seniornya, Alwi Farhan, di final.
Dalam final sesama pemain Indonesia pada ganda putri, Apriyani/Fadia mengalahkan ”adik” mereka di pelatnas, Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinara Nastine, 21-11-21-17. Berbeda dengan Zaki, Raymond/Nikolaus, dan Marwan/Aisyah, Apriyani/Fadia menjuarai turnamen Indonesia Masters II setelah memiliki pengalaman meraih gelar pada turnamen lebih tinggi.
Apriyani memiliki gelar juara dari semua level BWF World Tour, yaitu Super 300, 500, 750, dan 1000, bersama Fadia dan Greysia Polii. Atlet berusia 27 tahun itu bahkan meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 bersama Greysia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/1450d2493856511ede9e0731af64c67f-WhatsApp_Image_2025_10_26_at_17.59.16.jpeg)
Namun, dengan situasi saat ini, Apriyani/Fadia harus mendaki kembali dari bawah dengan bermain pada turnamen Super 100. Saat ini, Apriyani/Fadia hanya menempati peringkat ke-94 dunia sehingga sulit untuk mendapatkan tempat pada turnamen besar kecuali ketika banyak pasangan di atas mereka yang tak bermain.
Faktor lain yang membuat mereka harus bermain pada turnamen kecil adalah kebutuhan untuk membangun kembali ikatan, dalam hal teknis dan nonteknis, setelah bergonta-ganti pasangan.
Fadia bermain bersama Lanny Tria Mayasari ketika Apriyani absen dari turnamen selama enam bulan seusai Olimpiade Paris 2024. Pada Maret 2025, Fadia berduet kembali bersama Apriyani pada turnamen Orleans Masters dan All England. Namun, performa yang tak sesuai harapan pelatih membuat Fadia bermain lagi bersama Lanny, sedangkan Apriyani dipasangkan dengan pemain muda Febi Setianingrum pada rentang April hingga Agustus.
Lalu, ketika tim pelatih ganda putri yang dipimpin Karel Mainaky membuat perombakan pasangan, Apriyani dan Fadia digabungkan lagi seusai Kejuaraan Dunia di Perancis pada Agustus. Mereka bermain di Hong Kong dan Korea Terbuka Super 500 dan tersingkir pada babak kedua. Lama tak bermain bersama pada persaingan tinggi, Apriyani/Fadia kesulitan saat berhadapan dengan pasangan top dunia.
Sebelum menjalani Kejuaraan Dunia bersama Lanny, Fadia mengatakan bahwa dirinya harus menyiapkan mental untuk merangkak kembali dari bawah bersama Apriyani. Bertanding lagi dari turnamen level bawah bukan berarti mudah dijalani meski sudah memiliki banyak pengalaman menjuarai turnamen besar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/70fdb31f38a6ae6f5d39e28ecda41f34-WhatsApp_Image_2025_10_26_at_17.59.18.jpeg)
”Kemenangan di sini untuk menambah motivasi saya dan Fadia untuk ke depan. Ikatan dan komunikasi kami sudah lebih terbuka dan lebih baik,” kata Apriyani memaknai hasil dan performa di Indonesia Masters II.
Selain Indonesia Masters II, pada pekan yang sama, atlet Indonesia bermain di turnamen Perancis Terbuka Super 750. Dalam final yang berlangsung Minggu malam, hanya ada Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sebagai wakil Indonesia. Mereka berhadapan dengan ganda putra nomor satu dunia, Seo Seung-jae/Kim Won-ho (Korea Selatan).
Final yang berlangsung di Glaz Arena, Cesson-Sevigne, itu menjadi yang keempat dari enam turnamen bagi Fajar/Fikri sejak berpasangan pada Juli. Tiga final dijalani dalam tiga turnamen terakhir, yaitu Korea Terbuka (23-28 September), Denmark Terbuka (14-19 Oktober), dan Perancis Terbuka. Adapun final lain menghasilkan gelar juara China Terbuka pada Juli.
Dalam dua final Perancis Terbuka yang berlangsung awal, gelar juara didapat Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping pada ganda campuran dan An Se-young di tunggal putri. Feng/Huang mengalahkan Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, 27-25, 21-12, sementara An menang atas Wang Zhi Yi, 21-13, 21-7. Ini menjadi gelar kesembilan dari sepuluh final bagi An pada tahun ini.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul