Ada puluhan saham yang mengalami pergerakan harga negatif setelah kebijakan harga saham minimum Rp 1 diterapkan.
29 Sep 2026 11:39 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengakui bahwa kebijakan bursa mengubah harga minimum saham dari Rp 50 ke Rp 1 berdampak pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan. Pada hari implementasi kebijakan tersebut, Senin (28/9/2026), indeks komposit saham RI melemah 1,51 persen ke level 6.147.
Jeffrey Hendrik, dalam pesan tertulis kepada media, Selasa (29/9/2026), menyampaikan bahwa pada perdagangan saham kemarin, terdapat puluhan saham yang mengalami pergerakan harga negatif setelah kebijakan harga minimum Rp 1 diterapkan.
Ia menyebutkan, sebelum kebijakan tersebut diimplementasikan, setidaknya ada 26 saham yang harganya stagnan di batas terendah Rp 50. Saham-saham tersebut memiliki bobot pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,91 persen. Ini dihitung per 25 September 2026.
”Kemarin, pada 28 September (Senin), saham tersebut mengalami penurunan antara 8 persen-14 persen. Penurunan ini berkontribusi terhadap pelemahan IHSG sekitar -0,27 persen atau -16,707 poin," tutur Jeffrey.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/28/139d4b876c6189a89933ee685512e198-Screenshot_20260928_172857_RTI_Business.jpg)
Data ini menganulir pernyataan Jeffrey sehari sebelumnya kepada wartawan di Jakarta, yang menyebut bahwa kebijakan anyar tersebut tidak seharusnya berpengaruh negatif terhadap pasar. Sebelumnya, ia mengatakan, bobot saham yang mengalami perubahan harga seusai kebijakan ini tidak besar terhadap bobot IHSG.
Namun, ia mengakui bahwa akan ada pergerakan harga pada saham-saham yang sebelumnya tidak likuid. Ini menjadi pertanda bahwa investor saat ini tengah menyesuaikan atau mencari nilai saham yang sesuai dengan kondisi fundamental saham terkait.
”Tentu ini akan membutuhkan waktu. Ada proses auto-rejection dan lainnya sampai nanti menemukan titik fair value,” katanya, kemarin.
Riset Samuel Sekuritas Reformasi mencatat, penerapan minimum harga saham Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi Rp 1 memicu tekanan jual pada saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp 50. ”Sebanyak enam saham menyentuh ARB (auto rejection bawah) pada hari pertama penerapan reformasi,” kata mereka.
Salah satu saham yang mengalami penurunan harga akibat aturan ini adalah saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Setelah tertahan di harga Rp 50 sejak 5 Mei 2026, saham GOTO mengalami ARB dengan penurunan 14 persen ke harga Rp 43.
Pada hari ini, Selasa (29/9/2026), harga saham GOTO juga kembali mengalami ARB pada menit-menit awal pembukaan pasar sedalam 13,9 persen ke harga Rp 37. Nilai kapitalisasi pasar saham ini pun anjlok ke Rp 42 triliun dari Rp 52,9 triliun pada hari perdagangan sebelumnya.
Salah satu investor pengendali GOTO, perusahaan jasa keuangan dan bank investasi asal AS, Morgan Stanley & Co International PLC, dilaporkan mengurangi kepemilikan sahamnya pada Rabu, 23 September 2026. Manajemen GOTO, dalam Keterbukaan Informasi BEI, Senin (28/9/2026), menyatakan bahwa Morgan Stanley telah menjual sebanyak 450 juta saham GOTO dengan harga Rp 27 per saham.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/08/204ee4a6-0d5c-4cb2-8af3-25996f959197.jpg)
Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Morgan Stanley di GOTO menjadi 80,41 miliar saham atau setara dengan 6,98 persen dari sebelumnya sebanyak 80,8 miliar saham atau 7,02 persen.
Berdasarkan data terakhir per 31 Agustus 2026, GOTO memiliki saham publik sebanyak 958 miliar saham atau sekitar 9 miliar lot. Dari total tersebut, jumlah free float atau saham yang dimiliki publik tercatat mencapai 8 miliar lot atau 70,14 persen dari total saham.
Di luar faktor kebijakan BEI, Samuel Sekuritas melaporkan, pelemahan IHSG kemarin mencatatkan penjualan bersih oleh investor asing mencapai Rp 1,13 triliun pada seluruh pasar. Faktor lain yang menyebabkan ini terjadi adalah faktor makroekonomi.
Kemarin, rupiah sempat menembus level Rp 18.000 untuk pertama kali secara intraday sebelum ditutup di level Rp 17.978. Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS 10 tahun (UST 10Y) ke 5,24 persen. ”Tiga indikator utama, yaitu UST 10Y, rupiah, dan harga minyak, berada di zona negatif,” kata mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/08/31/5a86ca43c3cf8953bca52e7782f00615-20260831TOK6.jpg)
Kemarin, harga minyak mentah dunia, Brent, ditutup naik 0,92 persen ke harga 105 dolar AS per barel setelah sempat menyentuh 108 dolar AS.
Pada perdagangan awal hari ini, Brent turun tajam ke sekitar 98 dolar AS seiring perkembangan negosiasi AS-Iran dan pemulihan sebagian aliran pipa minyak Arab Saudi. Penurunan harga minyak mentah diharapkan dapat melepas tekanan terhadap rupiah dan biaya impor di dalam negeri yang bisa membebani pertumbuhan ekonomi.
Samuel Sekuritas memprediksi, pergerakan IHSG yang hari ini dibuka melemah di level 6.118 dapat kembali melemah. Proyeksi ini menimbang pasar regional dan global yang masih negatif.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase