Dengan kekuatan pemain senior dan yunior, timnas bola voli putri menargetkan minimal perunggu di SEA Games Thailand 2025.
19 Nov 2025 09:57 WIB · Olahraga
Kompas/Bahana Patria Gupta
Prestasi timnas bola voli putri Indonesia di SEA Games stagnan dalam tiga edisi terakhir. Mereka selalu finis di peringkat ketiga, kalah saing dari Thailand dan Vietnam. Meski kini Filipina juga bisa jadi ancaman, timnas putri bisa menemukan harapan dari para pemain yunior yang menunjukkan potensi dan meraih prestasi di Asian Youth Games 2025 dan Kejuaraan Dunia Bola Voli U-21 2025.
Timnas bola voli putri telah memanggil 18 nama untuk bergabung ke pemusatan latihan nasional SEA Games Thailand 2025. Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Indonesia Imam Sudjarwo mengatakan, dari 18 nama itu akan dipilih 14 pemain sebagai bagian skuad final untuk tampil di Thailand.
Setelah tiba di Padepokan Voli Sentul, Bogor, Jawa Barat, dan menjalani tes kesehatan pada 23-25 Oktober lalu, para pemain mulai menjalani pemusatan latihan di Medan, Sumatera Utara, 28 Oktober. Timnas putri merupakan perpaduan pemain-pemain senior berpengalaman, seperti Megawati Hangestri, Mediol Yoku, dan Arneta Putri Amelian, serta pemain yunior potensial, antara lain Junaida Santi, Pascalina Mahuze, dan Syelomitha Wongkar.
”Beberapa kali SEA Games, kita meraih perunggu, kalau tidak perak. Mudah-mudahan dengan ada perubahan komposisi dengan senior dan yunior, kekuatannya 50-50, paling tidak kita bertahan di peringkat ketiga, perunggu,” ucap Imam, Sabtu (16/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/29/6131bda0-cec7-4ec2-9647-cab9ae2f4817_jpeg.jpg)
Pemain-pemain senior punya pengalaman bermain di level internasional, termasuk SEA Games. Megawati bahkan berpengalaman masuk timnas dan jadi sosok kunci saat Indonesia meraih medali perak pada SEA Games Kuala Lumpur 2017. Prestasi ini jadi anomali bagi Indonesia setelah sejak edisi 2007 selalu finis sebagai peraih perunggu.
Thailand dan Vietnam akan kembali jadi lawan tangguh tim asuhan Pelatih Marcos Sugiyama di SEA Games Thailand 2025. Selain itu, Filipina, yang dalam empat edisi terakhir selalu jadi peringkat keempat, bisa menjadi ancaman.
Apalagi, di turnamen antarnegara Asia Tenggara, SEA V League, yang bisa jadi gambaran persaingan di SEA Games, Filipina mampu mengalahkan Indonesia dalam dua putaran. Mereka pun finis pada posisi ketiga di bawah Thailand dan Vietnam serta berhak merebut tiket ke turnamen Asia, AVC Nations Cup 2026.
Di sisi lain, punya pemain senior seperti Megawati Hangestri saja tidak cukup. Megawati memang salah satu pemain bola voli putri terbaik Indonesia yang punya pengalaman berkarier di luar negeri, mulai dari Liga Thailand, Vietnam, hingga Korea Selatan.
Dalam dua musim di Korea Selatan bersama Red Sparks, misalnya, Megawati menjadi tumpuan tim di setiap laga. Pada musim perdana, Megawati mengantarkan Red Sparks menembus playoff untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Semusim berselang, pemain asal Jember, Jawa Timur, ini membawa Red Sparks menembus babak final.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/08/a111dc4900c74e14168fd12a09a5da0d-528862449_612256075285208_5567026544539706542_n.jpg)
Namun, hasil buruk Indonesia di SEA V League menjadi bukti kehadiran Megawati saja tidak cukup untuk mendongkrak performa timnas putri. Indonesia hanya bisa finis pada posisi paling buncit, kalah saing dari Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Ketika sosok pemain senior saja tidak cukup, harapan lain muncul dari pemain-pemain yunior potensial. Pemain-pemain ini mulai menunjukkan sinar mereka di kancah internasional.
Dari 18 pemain yang dipanggil ke timnas, tiga di antaranya merupakan pemain yang jadi bagian skuad tim U-18 di Asian Youth Games 2025 di Bahrain, 19-29 Oktober lalu. Mereka adalah Chelsa Nurtomo Berliana, Syelomitha Aflilaliza Wongkar, dan Naisya Pratama Putri. Ketiga pemain ini turut andil membawa tim U-18 keluar sebagai peraih perak.
Bersama tim U-18, mereka tampil gemilang dengan meraih kemenangan atas tim-tim yang pada tingkat seniornya punya level di atas Indonesia, seperti Thailand, China, dan Taiwan. Pada final, Indonesia takluk kepada Iran, yang sebenarnya pernah dikalahkan Indonesia pada fase grup, dengan skor ketat 2-3 (26-28, 25-20, 25-18, 17-25, 14-16).
”Penampilan mereka sangat cerdas dan solid. Kami memang sempat kehilangan momentum di beberapa momen penting, terutama di tie-break, tapi secara keseluruhan perkembangan tim ini luar biasa,” kata Marcos.
”Saya yakin para pemain ini memiliki talenta besar dan akan menjadi tulang punggung tim senior Indonesia di masa depan,” ucap pelatih yang didatangkan pertama kali pada akhir 2024 untuk memegang tim putri U-21 itu.
Beberapa pemain yang tampil bersama tim U-18 juga tergabung dengan tim U-21 yang berlaga dalam Kejuaraan Dunia Bola Voli U-21 2025 di Surabaya, Agustus lalu. Adapun 10 dari 18 pemain dipanggil untuk timnas senior merupakan pemain yunior yang berjuang bersama tim U-21.
Di Kejuaraan Dunia, pemain yunior membuktikan perkataan Marcos soal potensi dan talenta mereka. Para pemain memenuhi target 16 besar dari total 24 peserta pada debut di ajang dunia.
Kendati hasil itu tak lepas dari dampak skandal memalukan Vietnam, penampilan Indonesia juga patut diacungi jempol. Dari total sembilan laga, mereka menelan tujuh kekalahan. Empat di antaranya selalu berakhir ketat dalam lima set.
”Saya melihat voli Indonesia mulai memiliki identitas permainan sendiri, mirip dengan gaya Jepang, tapi dengan karakter khas Indonesia. Tantangannya kini adalah menjaga disiplin dan konsistensi,” tutur Marcos.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti