Hal-hal terkait partikel terkecil itu diperkenalkan agar, siapa tahu, mereka tertarik kelak menjadi ilmuwan atau insinyur atom.
27 Jun 2025 07:00 WIB · Internasional
Rusia sangat serius mengembangkan sains dan teknologi. Sejak dini, anak-anak diperkenalkan aneka mata pelajaran ataupun kegiatan ekstrakurikuler terkait sains dan teknologi. Salah satunya melalui Atomclass yang dirancang untuk anak-anak usia sekolah.
Atomclass merupakan inisiatif Rosatom, perusahaan nuklir milik Pemerintah Rusia, yang diimplementasikan sejak 2011. Tujuannya, menciptakan lingkungan belajar modern di sekolah-sekolah, khususnya bidang pengetahuan alam. Laman Rosatom menyebutkan, saat ini Atomclass beroperasi di 80 sekolah di 28 wilayah Federasi Rusia sebagai bagian dari Rosatom School.
Di antaranya berada di Pevek, wilayah Chukotska, kota di ujung utara Rusia. Di kota terpencil itu, hanya terdapat satu sekolah untuk semua jenjang pendidikan, dari pendidikan dasar sampai menengah atas.
Selain kelas reguler, sekolah itu memiliki Atomclass dengan sistem ekstrakurikuler. Igor Mikhailovich Petrenya, Deputi Direktur Pusat Pendidikan Pevek, menjelaskan, Atomclass dimulai pada 2021. ”Di situ anak-anak belajar Fisika, Matematika, dan Informatika. Siapa saja yang tertarik boleh ikut,” katanya, Kamis (26/6/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/43110a5754119484bf0f6606ef6c80de-WhatsApp_Image_2025_06_26_at_21.19.18.jpeg)
Tim pendidik menerapkan metode lanjutan sesuai standar pendidikan negara untuk pendidikan dasar dan menengah. Komunitas pelajar yang tergabung dalam Atomclass kerap berkompetisi antarsekolah untuk meningkatkan keterampilan mereka. Anak-anak diajak untuk fokus, terampil, dan paham tentang apa yang mereka pelajari.
Tidak spesifik soal atom, tetapi hal-hal terkait partikel terkecil itu diperkenalkan agar, siapa tahu, mereka tertarik kelak menjadi ilmuwan atau insinyur atom. Di Pevek, menurut Petrenya, Atomclass kini diikuti 135 anak dari total 560 anak yang bersekolah di situ.
”Tidak ada batasan, sedini mungkin, kalau mereka tertarik, dipersilakan ikut. Nanti kalau mereka tidak tertarik lagi, boleh keluar. Apabila tertarik lagi, boleh masuk lagi,” paparnya.
Di dalam kelas Atomclass, terdapat ruang kelas dinamis. Petrenya mengungkapkan, ada peralatan bergerak, zona interaktif, dan peralatan komputer modern. Atomclass juga mencakup laboratorium, termasuk laboratorium keliling untuk kegiatan di luar sekolah.
Di samping kegiatan di dalam kelas, para peserta Atomclass berkesempatan untuk studi ekskursi. Di Pevek, mereka mengunjungi Pembangkit Tenaga Nuklir Terapung (FNPP) Akademik Lomonosov. Ini merupakan satu-satunya pembangkit nuklir terapung di dunia.
Di situ, anak-anak bisa berbincang dengan para pekerja dan ilmuwan. ”Dengan demikian, diharapkan ada ketertarikan terhadap industri atom,” ujar Petrenya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/3451d98255af9b66903923ccb399335a-WhatsApp_Image_2025_06_26_at_21.20.15.jpeg)
Sayangnya, ketika rombongan jurnalis dari sejumlah negara di Asia dan Afrika yang diundang Rosatom ke Pevek berkunjung ke sekolah, Atomclass sedang tidak ada aktivitas. Anak-anak tengah libur musim panas dan mengikuti perkemahan musim panas.
Sekolah juga sepi. Pada Kamis pagi, terlihat tiga rombongan anak sekolah berjalan beriringan untuk pergi ke museum.
Petrenya sangat bangga ada satu siswa lulusan Pusat Pendidikan itu yang lulus, lalu kuliah di universitas, dan kembali lagi ke Pevek untuk bekerja di FNPP Akademik Lomonosov. ”Tidak ada omong-omong, tetapi semua (bersifat) informatif dan interaktif tentang apa yang anak-anak ingin lakukan di masa depan,” katanya.
Meski telah berorientasi pada ilmu pengetahuan seperti atom, satu hal yang dirindukan para siswa ataupun alumni Pusat Pendidikan Pevek adalah keberadaan perguruan tinggi. Saat ini para siswa yang sudah lulus sekolah menengah atas harus melanjutkan ke jenjang kuliah di kota lain yang letaknya cukup jauh dari Pevek.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/26/4daa6355b810b117581e9565ec1b0896-WhatsApp_Image_2025_06_26_at_21.20.22.jpeg)
Sebagai gambaran, Pevek berada di lingkar Arktik dengan iklim tundra. Penerbangan dari Moskwa ke Pevek hanya ada seminggu sekali. Penerbangan selama sembilan jam, dengan satu kali transit.
Sejumlah warga Pevek yang bertemu rombongan wartawan mengungkapkan keinginan mereka akan adanya institusi pendidikan tinggi di kota itu. ”Saya senang semua yang ada di kota ini dan bagaimana kota ini berkembang. Hanya, kami tidak punya perguruan tinggi,” ujar Anna Pavlova.
Lena Markova, warga lain, menuturkan, ia menyelesaikan pendidikan di Pevek dan harus ke kota lain untuk kuliah. ”Saya pergi tahun 2019 dan kembali tahun 2021, dan semua sudah berubah,” ujarnya, merujuk pembangunan di kotanya setelah keberadaan FNPP Akademik Lomonosov tahun 2020.
Penulis:
Fransisca Romana Ninik W, dari Pevek, RusiaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase