Meski harus berhadapan dengan suhu beku dan musim dingin yang panjang, kehidupan di Pevek tetap hangat dan berwarna-warni.
24 Jun 2025 18:01 WIB · Internasional
Debu mengepul mengikuti laju truk tambang yang membelah jalanan kota yang tidak rata. Di sisi kiri jalan berderet perbukitan hijau. Sisa-sisa salju yang belum meleleh menghiasi punggung-punggung bukit. Sementara di sisi kanan, Laut Utara yang tenang mengalunkan riak gelombang.
”Selamat datang di Pevek. Hari ini cuaca cukup hangat, 12 derajat celsius. Terasa benar-benar musim panas di sini. Tetapi, beberapa hari ke depan, suhu akan menurun drastis, tinggal 1, bahkan 0 derajat celsius,” ujar pegawai Rosatom yang menyambut rombongan wartawan di Bandara Pevek, Selasa (24/6/2025).
Rosatom, badan energi nuklir milik Pemerintah Rusia, mengundang wartawan dari sejumlah negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, ke Pevek. Kota ini berada di Teluk Chaunskaya, bagian dari Laut Siberia Timur. Perjalanan dari Moskwa, ibu kota Rusia, menuju Pevek ditempuh selama lebih dari sembilan jam melalui udara dengan transit di Yakutsk. Penerbangan dari Moskwa ke Pevek hanya ada sepekan sekali.
Pevek—warga Rusia melafalkannya sebagai Piviek—terletak di atas lingkar Arktik. Ekosistem tundra mendominasi wilayah ini. Tidak ada pohon yang bisa hidup dalam ekosistem tersebut. Hanya semak-semak yang menghijaukan kota.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/ffd0bbecccf3f9cad365e54d6950f8b0-WhatsApp_Image_2025_06_24_at_21.11.20.jpeg)
Siang itu matahari bersinar cerah. Namun, angin berembus kencang, meniupkan hawa dingin dari kutub utara Bumi. Para wartawan pun merapatkan jaket sambil berjibaku merapikan rambut yang berantakan tertiup angin ketika dipandu berkeliling kota.
Valeria Schvets-Shust, Kepala Museum Chaunskiy Original, yang memandu tur keliling kota menuturkan, Pevek merupakan kota pelabuhan paling utara Rusia. ”Kota ini salah satu pelabuhan penting di Rute Laut Utara,” katanya.
Kota ini sebelumnya merupakan kota tambang. Timah dan uranium menjadi primadona. Pada masa jayanya, kota ini dihuni hingga 15.000 orang. Ketika mineral habis dan Uni Soviet bubar pada era 1990-an, Pevek pun ditinggalkan. Warga pindah ke kota-kota lain di Rusia.
Kini, menurut Schvets-Shust, penduduk Pevek berjumlah sekitar 5.000 orang. Mereka bekerja di sejumlah sektor, seperti penambangan, pekerja pelabuhan, staf sekolah, pegawai museum, rumah sakit, dan pegawai di pembangkit tenaga nuklir terapung (FNPP). Masih tersisa sedikit aktivitas penambangan di Pevek saat ini, seperti emas, timah, merkuri, dan batubara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/283bd6460e8b0c01793782a0365a7944-WhatsApp_Image_2025_06_24_at_21.11.25.jpeg)
Sisa-sisa kota yang ditinggalkan terserak di berbagai penjuru Pevek. Bangunan nyaris roboh, mobil rusak dan terguling, hingga tumpukan kontainer kosong teronggok di banyak tempat. Schvets-Shust mengatakan, sebuah yayasan saat ini tengah mengkaji nasib bangunan-bangunan rusak itu. ”Jika dinyatakan baik, bisa direstorasi. Jika tidak, akan dihancurkan,” ujarnya.
Pada pertengahan 1930-an, Pevek menjadi bagian penting kawasan berkat pelabuhan alami yang terbentuk oleh Teluk Chaunskaya. Temuan aneka mineral penting di sekitar Pevek membuat pelabuhan memainkan peran penting dalam mengekspor hasil tambang dan mengimpor mesin-mesin yang diperlukan untuk menambang.
Meski level pelayaran niaga menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, pelabuhan Pevek masih menjadi bagian penting dalam perniagaan via laut. Pelabuhan lebih banyak menangani impor bahan bakar seperti minyak dari Eropa dan Amerika Serikat.
Truk-truk berukuran cukup besar kerap terlihat berlalu-lalang. Tak banyak mobil pribadi. Sepeda motor tidak terlihat sama sekali.
Pevek saat ini lebih dikenal berkat keberadaan FNPP Akademik Lomonosov. PLTN terapung satu-satunya di dunia ini mulai beroperasi pada 2020. Pembangkit inilah yang menyuplai listrik bagi Pevek dan daerah sekitarnya. Listrik terutama diperlukan untuk penerangan dan penghangat ruangan.
Di sekitar Pevek terdapat desa-desa kecil, sebagian dihuni penduduk asli. Mereka memelihara rusa kutub dan unggas sebagai mata pencarian. Namun, lokasinya jauh di bukit-bukit di utara. Bisakah kita bertemu rusa kutub di sini? ”Sayangnya tidak, mereka sangat jauh dan selalu hidup berpindah,” kata Schvets-Shust.
Pada bulan-bulan tertentu, warga dan pengunjung Pevek bisa menikmati aurora. Tirai cahaya utara akan menari-nari di atas kota. Namun, tidak pada Juni ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/3bf18d839d9eb63eb2556d23be86b8fc-WhatsApp_Image_2025_06_24_at_21.11.28.jpeg)
Tantangan terbesar tinggal di Pevek adalah iklimnya. Musim dingin yang beku berlangsung panjang mulai dari Oktober sampai Mei. Suhu bisa mencapai minus 40 derajat celsius. Sementara pada musim panas yang singkat pun, suhu maksimal hanya 15 derajat celsius. Suhu hangat semacam itu jarang terjadi. Pada Selasa, warga mengatakan, ini benar-benar musim panas di Pevek.
Meski penuh tantangan, hidup di Pevek tetap berjalan dengan tenang dan nyaman. Menjelang sore, terlihat sejumlah warga berolahraga di lapangan basket. Anak-anak berlarian di taman bermain. Beberapa warga lain membawa anjing peliharaan menikmati ombak di pantai.
Kadang-kadang ada kelompok pengunjung yang sengaja datang ke Pevek untuk berenang di air yang beku. Di pantai masih terlihat bongkah-bongkah es yang tidak mencair. ”Cari petualangan, katanya,” ujar Schvets-Shust.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/24/3541423adc3c7dd682bfcc07d3a5fabf-WhatsApp_Image_2025_06_24_at_21.11.32.jpeg)
Bangunan bertingkat di Pevek dicat dengan aneka warna cerah. Rumah susun, sekolah, museum, dan rumah sakit menampilkan warna-warna vibran, membawa keceriaan tersendiri di tengah dinginnya cuaca.
”Dulu kota ini termasuk salah satu kota dengan standar hidup tertinggi di Rusia. Sekarang warga masih menikmatinya, terutama dengan fasilitas lengkap yang tersedia untuk mendukung kehidupan,” kata Schvets-Shust.
Itulah sebabnya, lanjutnya, tidak ada kejahatan di Pevek. Warga bisa keluar rumah kapan pun dengan aman dan tenang. Apalagi pada Hari Polar, ketika matahari bersinar demikian panjang. Selasa ini, misalnya, matahari masih terang meski waktu sudah pukul 21.00. Mereka hanya perlu membawa baju hangat.
Penulis:
Fransisca Romana Ninik W dari Pevek, RusiaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti