Perusahaan pelayaran menginginkan stabilitas panjang di sekitar Laut Merah. Selama Gaza masih bergolak, stabilitas sulit terwujud.
17 Mar 2025 06:00 WIB · Internasional
Lebih dari dua pekan setelah gencatan senjata Israel-Hamas tahap 1 selesai, kelompok Houthi Yaman mengeluarkan ancaman. Rabu (12/3/2025), Houthi mengancam kembali menyerang kapal-kapal di perairan timur wilayah Yaman.
Seperti diberitakan media Israel, The Times of Israel, serangan ditujukan untuk menekan Israel supaya segera membuka akses bantuan kemanusiaan bagi warga Jalur Gaza. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (15/3/2025), dalam laporan The New York Times, merespons ancaman itu dengan perintah untuk menyerang kelompok Houthi.
Seperti diketahui, begitu gencatan senjata tahap 1 berakhir pada 1 Maret 2025, Israel menutup akses bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Penutupan dengan alasan Hamas menolak memperpanjang fase pertama. Perundingan gencatan senjata pun masih berlangsung di Qatar hingga kini.
Tidak mungkin industri akan melihat peralihan besar kembali ke Terusan Suez dalam jangka pendek.
Di tengah perundingan itu, ancaman serangan pada kapal-kapal komersial dan kapal angkatan laut kembali muncul. Bagi perusahaan pelayaran internasional, ancaman Houthi itu menjadi penegas bahwa jalur pelayaran internasional yang melewati Selat Bab al-Mandab di Laut Merah masih berisiko.
Para pelaku industri pelayaran internasional berpandangan sama saat gencatan senjata Israel-Hamas tahap I diumumkan Januari silam. Mereka masih belum ingin kembali melewati jalur pelayaran internasional itu. Padahal, saat gencatan senjata tahap I diumumkan, Houthi berjanji tidak menyerang kapal-kapal komersial.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/29/de460b6f-d908-43a1-88aa-afb16ad33154_jpg.jpg)
Pelaku industri pelayaran internasional, dalam laporan Reuters edisi 19 Desember 2023, memilih mengubah rute pelayaran. Dari Eropa, kapal-kapal akan melewati Tanjung Harapan dan menyusuri Benua Afrika menuju Asia, demikian sebaliknya.
Perubahan rute dilakukan sejak Houthi mulai menyerang kapal-kapal komersial dan kapal angkatan laut di Selat Bab al-Mandab. Houthi melancarkan lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal. Serangan itu terjadi pada November 2023 hingga Januari 2025.
Houthi menyebut serangan itu wujud solidaritas bagi Palestina itu. Houthi sudah menenggelamkan dua kapal, menyita satu kapal, dan menewaskan sedikitnya empat pelaut dalam aksi mereka itu.
Aksi Houthi mengganggu kegiatan pengiriman global. Aksi Houthi itu membuat rantai pasok terganggu karena perubahan rute pengiriman.
Sebagai contoh, kompas.id pada 22 Januari 2024 menulis, kapal dagang dari Belanda menuju Taiwan memilih berputar melewati Tanjung Harapan lalu menyusuri Benua Afrika untuk menuju Taiwan. Jalur tradisional itu jelas lebih lama dibandingkan dengan jalur pelayaran melewati Laut Merah.
Sebagai perbandingan, dari Eropa menuju Taiwan melewati Laut Merah, kapal-kapal kontainer memerlukan 25,5 hari untuk menempuh pelayaran sejauh 10.000 mil laut atau 18.250 kilometer. Sementara melewati Tanjung Harapan, kapal kontainer memerlukan 34 hari untuk melayari 13.500 mil laut atau 25.002 kilometer.
Laut Merah akhirnya bukan lagi rute pilihan perusahaan pelayaran internasional. Sebelumnya, rute itu merupakan rute sekitar 12 persen perdagangan global.
Jumlah kapal komersial yang menggunakan Terusan Suez untuk melewati Mediterania dan Laut Merah anjlok. Pada 2023 jumlah kapal yang melewati area itu tercatat lebih dari 26.000 unit, pada 2024 sebanyak 13.200 kapal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/15/511df0a3-d9b8-4d51-8def-86f304159214.jpg)
Ketika gencatan senjata Gaza tahap I dilakukan, pelayaran internasional tetap memandang Laut Merah tetap berisiko. Mereka berpendapat, tidak ada jaminan keselamatan dan keamanan bagi kru, kargo, dan kapal mereka.
”Tidak mungkin saya menaruh barang dagangan saya di atas kapal yang akan melewati Laut Merah untuk beberapa waktu mendatang,” kata Jay Foreman, CEO Basic Fun yang berbasis di AS.
Foreman mengatakan, ia akan tetap mengirim lewat Afrika meski harus mengeluarkan ongkos ekstra. ”Tidak ada gunanya mengambil risiko,” kata Foreman.
Matt Castle dari grup logistik CH Robinson mengatakan, ”Tidak mungkin industri akan melihat peralihan besar kembali ke Terusan Suez dalam jangka pendek.”
Pengirim kendaraan dengan kapal asal Norwegia Wallenius Wilhelmsen menyatakan tidak akan melanjutkan pelayaran melalui Laut Merah sampai keadaan aman. Pengecer busana Swedia H&M mengatakan, mereka sedang memantau situasi.
Tailwind Shipping Lines, perusahaan pelayaran milik jaringan supermarket Jerman Lidl, mengatakan, keamanan awak kapal, kapal, dan kargo merupakan prioritas utama. AL anggota Uni Eropa di Laut Merah mengatakan, potensi ancaman dari tindakan Houthi tidak berubah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/07/d812c121-b0ae-4640-b75d-9b13f2282184_jpg.jpg)
Daniel Muller, analis Intelijen untuk Timur Tengah pada perusahaan keamanan maritim Ambrey dalam laporan Seatrade Maritim News 14 Januari 2025, mengatakan, ada beberapa hal yang membuat Laut Merah tetap berisiko. Jamak diketahui, serangan Houthi kepada kapal-kapal dagang internasional berkaitan dengan perang di Gaza. Houthi menargetkan aset yang terkait dengan Israel dan sekutunya.
Sementara, lanjut Muller, pasukan Israel sangat tidak mungkin segera ditarik dari Gaza. Oleh karena itu, Ambrey menilai, tidak mungkin gencatan senjata akan segera membuat Houthi menghentikan serangan terhadap kapal-kapal pengiriman barang dagang.
Ambrey menilai, tindakan Houthi terkait dengan pasukan militer Israel yang beroperasi di Jalur Gaza. Jika penilaian itu benar, ancaman Houthi terhadap kapal-kapal komersial akan tetap ada hingga akhir tahap kedua proses perdamaian.
Faktor lainnya adalah situasi politik di Yaman. Situasi politik Yaman juga penting bagi industri pengiriman barang lewat laut. ”Terjadinya lagi Perang Saudara Yaman masih mungkin. Bila itu terjadi, Houthi akan menargetkan lebih banyak kapal di luar kapal yang berafiliasi dengan Israel,” kata Muller.
Perusahaan-perusahaan pelayaran, dalam laporan EconoTimes edisi 31 Januari 2025, melihat situasi di Selat Bab al-Mandab masih belum dapat diprediksi. Itu membuat mereka belum ingin cepat-cepat menggunakan lagi jalur pelayaran Terusan Suez dan Laut Merah.
Supaya kapal-kapal kargo mau kembali melewati Selat Bab el-Mandab di Laut Merah, perusahaan-perusahaan pelayaran menginginkan stabilitas panjang di sekitar Laut Merah. Lagi-lagi hal itu terkait dengan keselamatan dan keamanan awak kapal, kargo, dan kapal.
Muller mengatakan, apabila kapal-kapal pelayaran internasional hendak kembali melintasi Selat Bab al-Mandab, hal itu akan dilakukan secara bertahap. Yang jelas, masih belum ada angin segar di Laut Merah hari ini. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .