Tanpa ada evaluasi menyeluruh, kepolisian khawatir kasus sakit perut dan muntah setelah menyantap menu makan bergizi gratis terulang di Empat Lawang.
21 Feb 2025 09:00 WIB · Nusantara
Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, belum diizinkan melanjutkan program karena belum ada evaluasi menyeluruh atas kasus di Sekolah Dasar Negeri 7 Tebing Tinggi. Tanpa ada evaluasi, kepolisian khawatir kasus serupa terulang.
Kepala Polres Empat Lawang Ajun Komisaris Besar Abdul Aziz Septiadi, saat dihubungi dari Palembang, Sumsel, menegaskan, hingga Kamis (20/2/2025) kemarin, pihaknya masih meminta program MBG di Empat Lawang dihentikan sementara waktu.
Hal itu berarti sudah dua hari program MBG di sana dihentikan, buntut delapan siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, sakit perut dan muntah-muntah setelah menyantap menu MBG yang diduga basi dan berulat, Selasa (18/2/2025).
Penghentian itu dilakukan karena belum ada ketegasan dari penyelenggara MBG di Empat Lawang, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Empat Lawang, untuk melakukan evaluasi menyeluruh seusai muncul peristiwa tersebut.
”Hingga hari ini, kami minta MBG jangan dilanjutkan dahulu. Kami larang sementara sampai pihak SPPG melakukan evaluasi menyeluruh, yang perlu dimulai dari vendor atau penyedia jasa makanan yang mereka tunjuk,” ujar Aziz.
Menurut Aziz, penghentian itu bukan berarti pihaknya tidak mendukung MBG. Justru sebaliknya, karena sangat mendukung MBG, mereka ingin pelaksanaan program itu berjalan dengan lebih baik dan tidak muncul peristiwa serupa di kemudian hari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/17/ba07b442-a905-4b13-884b-9d744da30c8f_png.png)
Atas dasar itu, SPPG Empat Lawang harus melakukan evaluasi menyeluruh agar MBG berjalan lebih lancar dan aman. SPPG Empat Lawang pun diminta bersikap tegas kalau memang ada hal yang tidak beres yang bisa mengganggu jalannya program tersebut.
”SPPG Empat Lawang harus segera melakukan evaluasi internal dan sampaikan hasilnya kepada Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Empat Lawang dan masyarakat. Kalau memang ada yang tidak memenuhi persyaratan, mereka harus mengambil langkah tegas, seperti memutus kontrak vendor karena sudah ada fakta korban. Saya telah menemui para korban dan memang mereka mengeluh sakit perut dan muntah-muntah usai menyantap menu MBG hari kedua,” kata Aziz.
Aziz mengatakan, SPPG Empat Lawang pun diharapkan segera memberikan keterangan resmi kepada masyarakat. Tujuannya, untuk memberikan kejelasan dan menenangkan masyarakat. Kalau tidak, masyarakat bisa trauma saat MBG kembali dimulai.
”Peristiwa kemarin itu tidak main-main karena korbannya anak-anak. Kalau SPPG Empat Lawang tidak memberikan keterangan kepada masyarakat, bisa-bisa nanti, masyarakat trauma dengan MBG. Bisa-bisa, anak-anak resisten atau tidak mau lagi menyantap menu MBG atau orangtua melarang anak mereka mengonsumsi menu MBG,” ucap Aziz.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/19/86d774b8-8c2c-4e37-9c0f-68f047116df8_jpg.jpg)
Terkait perkembangan kasus tersebut, Aziz menyampaikan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan para saksi. Sejauh ini, sudah ada lima orang yang diperiksa. Pada Kamis ini, rencananya mereka akan memanggil pihak pemasok (supplier). ”Kasus ini masih dalam tahap pengembangan penyelidikan. Jadi, hasilnya belum bisa diungkap,” tuturnya.
Di sisi lain, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium sempel menu MBG hari kedua yang sudah diterima oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang, Rabu (19/2/2025) pagi. Kepolisian ingin hasil uji laboratorium itu bisa segera keluar, tetapi pihak BBPOM di Palembang memiliki tahapan tersendiri yang tidak bisa dintervensi. ”Kabarnya, maksimal pekan depan, hasil uji laboratorium itu sudah keluar,” ujarnya.
Menurut Aziz, hasil uji laboratorium itu sangat penting untuk menjawab penyebab delapan siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi sakit perut dan muntah-muntah tersebut. Saat ini, kepolisian masih menduga bahwa peristiwa itu dipicu oleh menu MBG yang disajikan sudah basi dan berulat.
”Dari hasil penyelidikan di lapangan, kami mendapatkan informasi bahwa anak-anak itu sakit perut dan muntah-muntah seusai menyantap menu MBG yang diduga basi dan berulat. Tetapi, itu masih dugaan walau kasatmata bisa kita lihat. Pasalnya, kami tidak ada wewenang untuk menjelaskan apakah menu itu layak dikonsumsi atau tidak. Yang bisa memberikan penjelasan itu adalah hasil uji laboratorium,” terang Aziz.
Kasus menu MBG di Empat Lawang yang diduga basi dan berulat itu mencuat pertama kali di sejumlah akun media sosial yang berbasis di Empat Lawang dan Sumsel, Selasa. Salah satunya dikabarkan oleh akun Instagram empatlawangterkini.
Dalam video yang diunggah, perekam menunjukkan ada sejumlah ulat atau belatung yang menempel di wadah makanan dan menempel di beberapa bagian lauk yang disediakan. Temuan itu diduga tidak hanya di SD Negeri 7 Tebing Tinggi, tetapi juga terjadi di SD Negeri 8 Tebing Tinggi.
”Dapat kiriman video dari salah satu follower sanak. Bekal Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 8 Tebing Tinggi dan SDN 7 Tebingg Tinggi terdapat ulat/belatung (biso sanak-sanak liat di video). Hmm… Ckamano lah menurut kalian?” tulis akun Instagram empatlawangterkini, Selasa.
Kami sudah meminta vendor agar tidak mengiring opini ke publik yang seolah-olah fakta dan data itu fitnah sebelum hasil pemeriksaan tuntas.
Aziz membenarkan, selain di SD Negeri 7 Tebing Tinggi, menu MBG yang diduga basi dan berulat pun ditemukan di SD Negeri 8 Tebing Tinggi. Pasalnya, kedua sekolah itu memang berada dalam satu kompleks sehingga menu MBG diterima dalam waktu bersamaan.
Saat peristiwa terjadi, delapan siswa SD Negeri 7 Tebing Tinggi bersangkutan telanjur menyantap menu tersebut. Dalam waktu singkat seusai mengonsumsi menu, delapan siswa itu mengeluh sakit perut dan muntah-muntah. Mereka lekas dilarikan ke puskesmas terdekat. Tujuh siswa hanya menjalani rawat jalan, sedangkan satu siswa sempat menjalani rawat inap sehari.
Siswa lainnya di SD Negeri 7 maupun SD Negeri 8 tidak sempat menyantap menu itu sehingga tidak turut menjadi korban. Sebagian siswa urung makan karena ada rekannya yang sakit perut dan muntah-muntah tersebut. Sebagian siswa lain memang tidak mau menyantap menu karena sempat melihat kondisi menu yang diduga basi dan berulat.
Sejauh ini, laporan tentang menu MBG yang diduga basi dan berulat itu hanya ada di SD Negeri 7 dan SD Negeri 8. ”Ini adalah fakta dan data yang kami temukan. Faktanya ialah ada siswa yang sakit perut dan muntah-muntah seusai menyantap menu MBG yang diduga basi dan berulat. Datanya ialah ada delapan siswa yang menjadi korban. Kami sudah minta kepada vendor agar tidak mengiring opini ke publik yang seolah-olah fakta dan data itu fitnah sebelum hasil pemeriksaan tuntas,” tegas Aziz.
Berdasarkan informasi yang diterima Kompas, menu MBG di Empat Lawang disediakan oleh Yayasan Vieki Indira. Yayasan itu berada di bawah naungan atau koordinasi Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Sumsel.
Setelah tidak menjawab pertanyaan Kompas pada Rabu (19/2/2025), Ketua DPD PPJI Sumsel Evie Hadenli akhirnya memberikan keterangan melalui pesan Whatsapp, Kamis pagi. Dia menyatakan, pihak penyedia menu sudah menjalankan prosedur standar operasi (SOP).
Menu MBG hari kedua itu, terdiri dari nasi putih, ikan patin fillet crispy, pergedel tahu (sebelumnya disebut tahu goreng), bihun goreng, dan buah pepaya. Kalau dilihat dari menu tersebut, dia meyakininya aman atau tidak berpotensi basi dan berulat.
”Kalau dilihat dari menu, insya Allah aman dari basi apalagi ulat,” tulisnya.
Terkait video ada ulat di wadah makanan dan beberapa bagian menu, Evie membantahnya. Menurut dia, semua ulat posisinya ada di atas wadah makanan. Dia pun menunjukkan video sampel menu MBG hari kedua yang sempat disita kepolisian.
Setelah sampel menu itu dibawa kembali ke dapur pada Rabu malam, tidak ada ulat yang menempel di bagian menu, seperti ikan, perkedel tahu, dan pepaya. ”Ini tidak ada ulat (di menu) yang sudah dua hari semalam yang dari kantor polisi,” kata Evie.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/d81348b3-b08c-4f96-9ffd-1ffec6dc97fc_jpg.jpg)
Evie pun berpendapat, kemungkinan peristiwa itu terjadi karena ada unsur kesengajaan. Saat ditanya siapa yang diduga melakukan unsur kesengajaan itu dan apakah Evie atau pihaknya akan melaporkannya ke polisi, Evie tidak bersedia menjawabnya.
Evie hanya menekakan tidak perlu membalas perbuatan tersebut. ”Kenapa kita harus balas. Biarkan saja, kalau mereka mau ambil semua dapur (jasa penyedia makanan). Kami kebagian yang terakhir, tidak apa-apa, santai sajalah,” ungkapnya.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Mukhamad Kurniawan