Rencana AS menyerang Iran terkendala antrean toilet dan tentara yang rindu keluarga. Tentara ”kena mental” oleh faktor nonteknis.
25 Feb 2026 05:15 WIB · Internasional
AP/Andrew Vaughan
Kapal perang terbesar dan termahal di dunia. Itulah julukan bagi kapal induk Amerika Serikat, USS Gerald Ford. Akan tetapi, tetap saja kapal itu punya masalah besar yang bisa mengganggu perang.
Presiden AS Donald Trump telah memerintahkan kapal itu bergerak mendekati Iran. Hingga Selasa (24/2/2026), berbagai persiapan serangan terus dimatangkan AS. Penarikan pegawai dari kedutaan AS di sekitar Iran salah satu persiapan itu.
Sementara pegawai sipil ditarik, tentara seperti di USS Gerald Ford mendekati Iran. Panjang kapal itu 333 meter. Kalau mau diposisikan berdiri, tingginya setara dengan Menara Eiffel atau sedikit lebih tinggi daripada Menara BCA Jakarta.
Biaya pembuatan kapal itu 13,3 miliar dolar AS atau Rp 200 triliun. Geladaknya bisa mengangkut sampai 80 pesawat, termasuk jet tempur F-35. Kapal itu digerakkan dua reaktor nuklir.
Terlihat keren.
Namun, bagi awaknya kini, banyak sekali masalahnya. Mereka sudah bertugas sejak Juni 2025 atau melebihi satu kali masa tugas terpanjang.
Laksamana Muda (Purn) Mark Montgomery menyebut, awak kapal itu kemungkinan bisa bertugas sampai 11 bulan. Itu akan memecahkan rekor penugasan berkelanjutan oleh kapal AL AS.
Hidup di atas kapal induk secanggih Ford saat teknologinya sedang rewel bisa bikin kesal juga. Kerewelan itu memicu drama di awal peluncuran kapal induk tersebut. Penugasan perdana tertunda bertahun-tahun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/c41378f967b5c31bef2c38960b2135c4-9492789.jpg)
Salah satu masalah serius di kapal itu adalah sistem pembuangan limbah, termasuk toilet. Ada sekitar 650 toilet di Ford yang pakai sistem baru—sistem vakum—seperti toilet di pesawat terbang atau kapal pesiar.
Namun, sistem vakum yang tujuannya untuk menghemat air ini sering tersumbat. Sebab, pipanya terlalu sempit untuk melayani kebutuhan buang air besar 4.600 personel di dalam Ford.
Masalahnya tambah runyam dengan proses perbaikan. Kalau ada satu bagian pipa tersumbat, seluruh blok toilet harus ditutup. Berarti, orang harus mencari toilet lain yang dibuka.
Perbaikannya mahal, bisa habis Rp 6,7 miliar sekali kuras. Harus memakai bahan kimia khusus.
Selain masalah pipa, ada juga persoalan rancangan ruang. Dengan semangat kesetaraan, toilet di USS Gerald Ford tidak dipisah untuk perempuan dan laki-laki.
Konsekuensinya, tak ada urinoir atau tempat buang air kecil khusus laki-laki. Cuma ada bilik toilet. Maka, kapasitas pun terbatas.
Dampaknya, antrean bisa sejam. Bayangkan kalau sudah di ujung… aduh….
Juru Bicara Komando Armada AS, Mayor David Carter, membenarkan ada persoalan itu. Kalau butuh perbaikan, bisa sampai 60 menit. Walakin, masalah itu tak mengganggu operasionalisasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/3b82ce28a56a71f93281014f1e7901ed-cropped_image.jpg)
Ulasan media AS, NPR, mengungkap masalah toilet di kapal induk itu tak bisa dianggap remeh. Sejak 2023, ada 42 permintaan perbaikan toilet kapal induk itu. Hingga 32 permintaan diajukan pada 2025. Bahkan, pada 2011, dilaporkan 423 toilet di kapal itu tidak berfungsi.
Penyebabnya? Sebagian awak kapal memasukkan aneka barang ke toilet. Bukan cuma tisu pembersih, tambang sampai baju ditemukan dalam pipa toilet. Entah apa pikiran awak kapal induk AS itu….
Masalah seperti itu nyaris tak terdengar di kapal induk lain, seperti USS Abraham Lincoln yang sudah lebih dulu dekat Iran. Memang, kapal induk lain dianggap punya masalah berbeda: butuh tangki penampung dan banyak pipa. Tak efisien.
Kini, USS Gerald R Ford sedang singgah di pesisir Yunani. Selain memberi kesempatan awak ke darat sebentar, persinggahan itu juga mengurus masalah toilet.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/10/2218eeea-cc2c-4af5-a0f3-c0da0dc8f509_jpg.jpg)
Urusan toilet mampet ini makin bikin para personelnya ”kena mental”. Mereka sudah ”kena mental” sebelumnya karena waktu dinasnya jadi lebih panjang.
USS Gerald R Ford jadi andalan waktu AS mengepung lalu menyerbu Venezueal. Sebelum ke Karibia, kapal itu bertugas di Laut Tengah.
Keputusan Trump untuk memperpanjang penugasan Ford kedua kalinya berdampak buruk pada mental para pelaut dan keluarganya.
Karena sudah tak tahan, beberapa orang sudah menimbang-nimbang mau keluar saja dari Angkatan Laut saat pulang nanti. Banyak yang sudah kangen dengan keluarga.
Harian The Wall Street Journal, 21 Februari 2026, menyebutkan, penugasan kapal induk selama masa damai biasanya berlangsung selama enam bulan. Jika diperlukan, bisa ditambah beberapa bulan.
AL punya 11 kapal induk yang semuanya mengikuti jadwal yang sudah direncanakan sejak lama. Pada waktu tertentu, ada yang dikirim ke berbagai wilayah di dunia. Kapal lainnya menjalani perawatan.
AL mengakui awak kapal yang terlalu lama bekerja di kapal bisa jadi masalah. Pada April dan Mei 2025, menjelang akhir penugasan delapan bulannya, kapal induk USS Harry S Truman kehilangan beberapa jet tempur saat melawan serangan Houthi di Laut Merah. Hasil investigasi menyalahkan tempo operasional yang tinggi dari misi tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/09c5a7a3005dbfbb0344ab2401e83e83-9492786.jpg)
Seorang awak di USS Gerald Ford kepada The Wall Street Journal menceritakan, banyak kru marah dan kecewa sampai ingin keluar pada akhir penugasan ini. Tidak ada kepastian kapan bisa bertemu keluarga lagi.
Perpanjangan masa tugas dapat berarti melewatkan banyak momen penting dalam hidup. Tidak menghadiri kelahiran atau ulang tahun anak, pernikahan atau pemakaman kerabat.
Banyak personel yang berusia awal 20-an yang merindukan orangtua dan masakan rumah. Untuk mengobati rasa kangen, mereka menghubungi orang-orang terkasih dengan panggilan telepon atau pesan Whatsapp.
Komandan kapal Ford, David Skarosi, menyadari ada masalah pada awaknya. Namun, mereka tak bisa menolak karena ini tugas negara.
Kepala Operasi AL, Daryl Caudle, menyesalkan penugasan yang panjang karena ada dampak finansialnya, selain beban awak kapal dan keluarga. Setelah delapan bulan di laut, pasti ada saja peralatan yang mulai rusak dan butuh pemeliharaan. Ini berbuntut panjang karena akan mengganggu jadwal pemeliharaan kapal-kapal lainnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/024f2f6b-3e0e-46e0-9577-0bd4df3998e0_jpg.jpg)
Salah satu kerabat awak kapal induk itu, Jami Prosser, sering tak mendengar kabar anaknya sampai hampir sebulan. Hal itu terjadi kala armada dalam ”mode hantu” alias memutus komunikasi publik.
Anak Posser sudah menikah dan punya dua anak. Penugasan panjang membuatnya melewatkan pemakaman kakek, perceraian keluarga, hingga tak bisa membantu merawat saudaranya yang sakit.
Rosarin McGhee juga kesulitan menghubungi suaminya di kapal induk itu. Sejak Juni lalu, sudah 17 kali ia mengirim paket bagi suaminya. Hatinya teriris waktu mendengar penugasan diperpanjang.
Sementara Charlene Poston bersiap menyambut anaknya pulang bersama awak lain USS Gerald Ford. Anaknya jadi petugas pemasang bom di pesawat.
Pada awal Februari 2026, Poston sudah berencana menyewa mobil dari Mississippi menuju Virginia Beach untuk menyambut kedatangan anaknya.
Ternyata, penugasan anaknya malah diperpanjang. Semua rencana dibatalkan. ”Mereka masih sangat muda. Bagi kami, mereka masih bayi,” kata Poston sambil menangis.
Anak Poston pun berusaha optimistis. Ia minta dikirimi kue.
Sementara anak Scott Tomlin, warga Virginia, bekerja di bagian logistik USS Gerald R Ford. Anak Tomlin sering cerita: tak suka makanan di kapal.
Ia pun dikirimi keju, makaroni, sampai saus. Kirimannya banyak sekali. Sebab, tak tahu kapan kapal pulang. (AP/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto