Jika teka-teki di sisi kanan serangan City tidak kunjung terjawab tim-tim lawan, itu berpotensi besar menjadi pembeda dalam perburuan gelar juara Liga Inggris.
13 Apr 2026 02:03 WIB · Olahraga
AP
LONDON, MINGGU — Manchester City telah kembali ke perebutan gelar juara Liga Inggris. Lewat kemenangan telak atas Chelsea dan rentetan positif sejak akhir Maret, mereka tampak lebih tangguh untuk menantang gelar. Ketangguhan itu salah satunya diperlihatkan lewat serangan di sisi kanan yang belum terjawab oleh tim-tim lawan.
City benar-benar terlihat berbeda dibandingkan beberapa bulan silam, khususnya saat ditahan imbang Chelsea di kandang sendiri pada awal tahun. Tim asuhan Manajer Pep Guardiola itu menunjukkan dominasi mereka di Stadion Stamford Bridge, London, dengan menumbangkan tuan rumah Chelsea 3-0, Minggu (12/4/2026).
Hasil itu sangat berarti bagi City dalam konteks perebutan gelar mengingat pemuncak klasemen Arsenal baru saja kalah pada Sabtu malam. Mereka kini berada dalam laju tiga kemenangan beruntun, setelah menang atas Arsenal (Piala Liga) dan Liverpool (Piala FA). Itu menjadi modal penting sebelum menjamu Arsenal di liga pada pekan depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/130cf518fea0f1a78748a8efa4276574-wires_photo_2026_04_13T013908.545.jpg)
City kesulitan di paruh pertama. Serangan mereka selalu bisa digagalkan dengan mudah oleh Chelsea. Menurut Guardiola, itu karena sistem permainan mereka belum bekerja sepenuhnya. ”Kami terlalu sering menyerang dari sisi kiri, kurang mengancam dari sisi kanan. Di paruh kedua, kami lebih baik di kedua sisi (serangan),” katanya.
Pembeda City muncul pada menit ke-51. Mereka berhasil membuka keunggulan lewat sundulan Nico O’Reilly. Dalam laga besar, satu gol bisa mengubah drastis momentum. Itulah yang terjadi di Stamford Bridge. Tim tamu semakin nyaman dan menambah dua gol dalam rentang kurang dari 17 menit, lewat Marc Guehi dan Jeremy Doku.
Seperti kata Guardiola, problem utama mereka sebelum jeda adalah gagal memanfaatkan senjata di sisi kanan. Itu yang diubah pada babak kedua. Gol O’Reilly berawal dari kombinasi gelandang serang Rayan Cherki dan penyerang sayap Antoine Semenyo di sisi sayap. Cherki mengeksekusi umpan akhir untuk O’Reilly.
Pelatih Chelsea Liam Rosenior berkata, gol O’Reilly meruntuhkan mentalitas skuad ”Si Biru” dan mengubah segalanya. ”Kami dikepung selama lima menit awal (paruh kedua), lalu kemasukan. Jika Anda tertinggal dari tim sebaik ini, hal yang harus dilakukan adalah tidak kemasukan lagi. Namun, semua menjadi semakin berat di paruh kedua,” ujarnya.
Gol itu mungkin terlihat biasa, diawali umpan silang dan diakhiri sundulan. Namun, semua itu terasa istimewa karena sudah dipersiapkan dan dilatih dengan matang. Buktinya, gol dari skema seperti itu selalu muncul dalam tiga pertandingan terakhir City. Aktor utamanya selalu sama, yaitu Cherki dan Semenyo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/798f32adb719bb63bd0de63e544ee4d6-Britain_Premier_League_Soccer_79_.jpg)
Duet di sisi kanan City begitu sulit dihentikan. Cherki dan Semenyo bisa mengancam dari area luar maupun masuk ke arah dalam. Mereka bisa saling bertukar posisi di sayap ataupun halfspace. Menariknya, kedua pemain itu saling melengkapi. Saat Cherki berkaki kidal, Semenyo bisa menggunakan dua kaki dengan sama baik.
Pada gol pertama City, Cherki beroperasi di halfspace dan Semenyo di sayap. Mereka melakukan kombinasi umpan terlebih dulu untuk merusak struktur sisi kiri pertahanan Chelsea yang dikawal bek Marc Cucurella. Saat ada ruang, Cherki bisa mengeksekusi umpan dengan sangat nyaman layaknya pemain dengan peran inverted winger.
Guardiola secara khusus memuji penampilan Cherki yang juga menyumbang asis untuk gol kedua dari Guehi. ”Rayan talenta yang luar biasa. Masalahnya adalah terkadang dia berada terlalu dekat dengan (Gianluigi) Donnarumma. Dengan bakat itu, dia harus berada di sepertiga akhir lapangan, dengan striker dan pemain sayap,” katanya.
Kombinasi di sisi sayap itu membuat peran O’Reilly semakin penting di kotak penalti. Dengan tinggi badan 193 sentimeter, sang bek sayap sangat nyaman menyambut umpan-umpan silang dari Cherki ataupun Semenyo. Adapun O’Reilly telah mencetak tiga gol dalam tiga laga terakhir. Dia selalu menginspirasi gol pertama tim di semua laga itu.
Masalahnya, City berpotensi kehilangan O’Reilly pada waktu yang tidak tepat. Pemain 21 tahun itu ditarik keluar pada menit ke-64 karena masalah otot paha. Dia pun dikhawatirkan tidak bisa tampil dalam laga penentu versus Arsenal pada pekan depan. Adapun waktu pemulihan cedera paha berkisar tiga sampai enam minggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/90c1ce3accd2dcd0ed7e7ddddf3afcbf-wires_photo_2026_04_13T014002.663.jpg)
Meskipun begitu, Guardiola tidak khawatir dengan problem tersebut. Dia bahkan sempat menyapa O’Reilly dengan senyuman saat sang pemain kembali ke ruang ganti. ”Apa yang dilakukannya sangat fantastis, tetapi kemenangan ini adalah hasil performa tim yang luar biasa. Rayan dan Erling (Haaland) juga penting, dan semua pemain lain,” jelas sang manajer.
City berhasil mengembalikan takdir juara ke tangan mereka. ”The Citizens” kini hanya terpaut enam poin dari Arsenal dengan satu laga yang belum dimainkan. Jika mereka bisa memenangi semua laga sisa, termasuk mengalahkan Arsenal pekan depan, City bisa meraih gelar liga dengan keunggulan selisih gol.
Di sisi lain, peluang Chelsea untuk masuk ke zona Liga Champions semakin kecil. Mereka terpojok di peringkat keenam setelah kalah tiga kali beruntun. Keputusan Rosenior untuk menghukum gelandang Enzo Fernandez akibat komentar soal rencana transfer terbukti salah. Chelsea merindukan gelandang berteknik tinggi tersebut. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji