Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini:
- Bagaimana perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran berdampak pada minyak dunia?
- Mengapa Trump yakin kenaikan harga minyak hanya sementara?
- Bagaimana strategi negara-negara menghadapi lonjakan harga?
- Bagaimana negara lain menata ulang pola konsumsi minyak?
- Apa yang terjadi jika perang terus berlanjut?
Dampak perang AS-Israel melawan Iran pada minyak dunia
Ketakutan terhadap dampak perang di Timur Tengah mewujud nyata. Harga minyak dunia tembus 100 dolar AS per barel. Dalam perdagangan Senin, harga minyak Brent dan WTI melonjak sampai 116 dolar AS per barel. Harga akhirnya terkoreksi ke 110,8 dolar AS untuk Brent dan 108 dolar AS per barel untuk WTI.
Kenaikan harga itu terjadi setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Menyikapi serangan itu, Teheran menutup Selat Hormuz yang menjadi pintu keluar setidaknya 20 persen minyak mentah global atau sebesar 17 juta barel per hari. Pasokan gas bumi juga mengalir di jalur ini.
Bukan cuma akses distribusi, fasilitas produksi di kilang minyak dan gas bumi Teluk Persia juga terganggu atau berhenti beroperasi. Sejak perang berlangsung, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mengurangi produksi minyak karena tangki penyimpanan penuh akibat ekspor minyak terhambat.
Di sisi lain, Israel menyerang depot minyak di Teheran dengan dalih depot itu menjadi bahan bakar peluncuran rudal. China merupakan pembeli utama minyak Iran dan pelanggan pasokan migas dari negara-negara Teluk.
Trump yakin kenaikan harga minyak hanya sementara
Presiden AS Donald Trump tampak masa bodoh dengan kenaikan harga minyak global. Menurut dia, lonjakan harga minyak adalah ”harga kecil” yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran.
”Kenaikan harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil yang harus dibayar untuk AS dan dunia, keamanan, serta perdamaian. Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda,” tulis Trump di Truth Social.
Menteri Energi AS Chris Wright menambahkan, kenaikan harga minyak hanya akan berlangsung singkat, yakni beberapa minggu. Lonjakan harga minyak membuat harga bensin reguler di AS naik menjadi 3,45 dolar AS per galon atau naik 47 sen dari pekan sebelumnya, sedangkan harga solar 4,6 dolar AS per galon atau naik 83 sen.
”Harga minyak seharusnya tidak akan jauh lebih tinggi dari sekarang karena dunia memiliki pasokan minyak yang sangat baik. Tidak ada kekurangan energi di seluruh belahan bumi bagian barat,” ucap Wright. Walakin, belum ada tanda-tanda serangan AS-Israel atau serangan balasan Irak segera berhenti.
Strategi negara-negara menghadapi lonjakan harga
Negara-negara menerapkan berbagai kebijakan darurat guna menyikapi situasi saat ini. Sebagian melepas cadangan strategis, sebagian lainnya menata ulang pola konsumsi.
Para menteri keuangan dari negara G7 dan perwakilan Badan Energi Internasional (IEA) mengoordinasikan pelepasan cadangan strategis minyak sebesar 400 juta barel, menurut Financial Times. AS dan Jepang mendukung usulan itu.
Kabar ini membantu harga minyak terkoreksi. Namun, Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan, belum ada keputusan soal pelepasan cadangan strategis. Cadangan minyak Jepang sekarang setara untuk kebutuhan sampai 254 hari, berbeda dengan Indonesia yang hanya 20 hari.
Anggota IEA memiliki 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah. Cadangan itu setara dua bulan kebutuhan seluruh 32 negara anggota IEA. Dari cadangan itu, 700 juta barel dimiliki AS-Jepang.
Sementara itu, AS sedang berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan pelayaran yang ingin mengeluarkan kapalnya dari Teluk. ”Kapal tanker awalnya mungkin akan memerlukan perlindungan langsung dari militer AS untuk melewati Selat Hormuz. Lalu lintas (pengiriman minyak) akan segera kembali normal,” kata Menteri Energi AS Chris Wright.
Negara lain menata ulang pola konsumsi minyak
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengumumkan, pembatasan harga BBM demi melindungi konsumen. Seoul mempersiapkan sampai 67 miliar dolar AS untuk stabilisasi dampak lonjakan harga minyak.
Vietnam mempertimbangkan rencana menghapus tarif atas impor bahan bakar minyak (BBM). Tujuannya, membantu menstabilkan pasar domestik dan menjamin keamanan energi nasional. ”Jika konflik berlanjut dan blokade Selat Hormuz terus berlangsung, pasokan alternatif di pasar internasional akan langka dan berisiko mendorong harga naik,” demikian pernyataan Kementerian Keuangan Vietnam.
Di Bangladesh, pemerintah memilih untuk menekan konsumsi. Salah satu caranya ialah memberi waktu libur lebih panjang. Semua perguruan tinggi negeri dan swasta Bangladesh sudah mulai libur Lebaran. Sekolah-sekolah sudah lebih dulu libur sejak awal bulan Ramadhan.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos mengalihkan sistem kerja kantor pemerintah menjadi empat hari dalam sepekan, kecuali petugas untuk layanan darurat. Kebijakan ini bersifat sementara, tetapi belum tahu kapan berakhir. Filipina sangat bergantung pada minyak Timur Tengah. ”Kami adalah korban perang yang bukan pilihan kami. Namun, kami mengendalikan bagaimana kami akan melindungi rakyat Filipina,” ujarnya.
Jika perang terus berlanjut
Kepala Ekonom JP Morgan Bruce Kasman mengatakan, ekonomi global tetap bergantung pada aliran minyak dan gas alam Timur Tengah yang terkonsentrasi melalui Selat Hormuz. Skenario jangka pendek adalah lonjakan harga hingga 120 dolar AS per barel diikuti oleh penurunan seiring meredanya konflik.
Namun, Kasman memperingatkan, konflik yang lebih luas dan terus berlanjut dapat mendorong harga minyak di atas 120 dolar AS per barel. Kondisi ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6 persen per tahun untuk paruh pertama tahun ini dan mendorong harga konsumen naik sebesar 1 persen per tahun. ”Ini berisiko menyebabkan resesi global,” ucapnya.
Saat ini, lonjakan harga minyak sudah menghajar bursa saham di sejumlah negara, termasuk Jepang, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), menyentuh titik terlemah di 7.156 dengan pelemahan rata-rata 4 persen.
Nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot pada Senin menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Secara tahun kalender berjalan, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 2,03 persen.
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini:
- Bagaimana perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran berdampak pada minyak dunia?
- Mengapa Trump yakin kenaikan harga minyak hanya sementara?
- Bagaimana strategi negara-negara menghadapi lonjakan harga?
- Bagaimana negara lain menata ulang pola konsumsi minyak?
- Apa yang terjadi jika perang terus berlanjut?
Dampak perang AS-Israel melawan Iran pada minyak dunia
Ketakutan terhadap dampak perang di Timur Tengah mewujud nyata. Harga minyak dunia tembus 100 dolar AS per barel. Dalam perdagangan Senin, harga minyak Brent dan WTI melonjak sampai 116 dolar AS per barel. Harga akhirnya terkoreksi ke 110,8 dolar AS untuk Brent dan 108 dolar AS per barel untuk WTI.
Kenaikan harga itu terjadi setelah AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Menyikapi serangan itu, Teheran menutup Selat Hormuz yang menjadi pintu keluar setidaknya 20 persen minyak mentah global atau sebesar 17 juta barel per hari. Pasokan gas bumi juga mengalir di jalur ini.
Bukan cuma akses distribusi, fasilitas produksi di kilang minyak dan gas bumi Teluk Persia juga terganggu atau berhenti beroperasi. Sejak perang berlangsung, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mengurangi produksi minyak karena tangki penyimpanan penuh akibat ekspor minyak terhambat.
Di sisi lain, Israel menyerang depot minyak di Teheran dengan dalih depot itu menjadi bahan bakar peluncuran rudal. China merupakan pembeli utama minyak Iran dan pelanggan pasokan migas dari negara-negara Teluk.
Trump yakin kenaikan harga minyak hanya sementara
Presiden AS Donald Trump tampak masa bodoh dengan kenaikan harga minyak global. Menurut dia, lonjakan harga minyak adalah ”harga kecil” yang harus dibayar untuk menghilangkan ancaman program nuklir Iran.
”Kenaikan harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil yang harus dibayar untuk AS dan dunia, keamanan, serta perdamaian. Hanya orang bodoh yang akan berpikir berbeda,” tulis Trump di Truth Social.
Menteri Energi AS Chris Wright menambahkan, kenaikan harga minyak hanya akan berlangsung singkat, yakni beberapa minggu. Lonjakan harga minyak membuat harga bensin reguler di AS naik menjadi 3,45 dolar AS per galon atau naik 47 sen dari pekan sebelumnya, sedangkan harga solar 4,6 dolar AS per galon atau naik 83 sen.
”Harga minyak seharusnya tidak akan jauh lebih tinggi dari sekarang karena dunia memiliki pasokan minyak yang sangat baik. Tidak ada kekurangan energi di seluruh belahan bumi bagian barat,” ucap Wright. Walakin, belum ada tanda-tanda serangan AS-Israel atau serangan balasan Irak segera berhenti.
Strategi negara-negara menghadapi lonjakan harga
Negara-negara menerapkan berbagai kebijakan darurat guna menyikapi situasi saat ini. Sebagian melepas cadangan strategis, sebagian lainnya menata ulang pola konsumsi.
Para menteri keuangan dari negara G7 dan perwakilan Badan Energi Internasional (IEA) mengoordinasikan pelepasan cadangan strategis minyak sebesar 400 juta barel, menurut Financial Times. AS dan Jepang mendukung usulan itu.
Kabar ini membantu harga minyak terkoreksi. Namun, Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan, belum ada keputusan soal pelepasan cadangan strategis. Cadangan minyak Jepang sekarang setara untuk kebutuhan sampai 254 hari, berbeda dengan Indonesia yang hanya 20 hari.
Anggota IEA memiliki 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah. Cadangan itu setara dua bulan kebutuhan seluruh 32 negara anggota IEA. Dari cadangan itu, 700 juta barel dimiliki AS-Jepang.
Sementara itu, AS sedang berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan pelayaran yang ingin mengeluarkan kapalnya dari Teluk. ”Kapal tanker awalnya mungkin akan memerlukan perlindungan langsung dari militer AS untuk melewati Selat Hormuz. Lalu lintas (pengiriman minyak) akan segera kembali normal,” kata Menteri Energi AS Chris Wright.
Negara lain menata ulang pola konsumsi minyak
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengumumkan, pembatasan harga BBM demi melindungi konsumen. Seoul mempersiapkan sampai 67 miliar dolar AS untuk stabilisasi dampak lonjakan harga minyak.
Vietnam mempertimbangkan rencana menghapus tarif atas impor bahan bakar minyak (BBM). Tujuannya, membantu menstabilkan pasar domestik dan menjamin keamanan energi nasional. ”Jika konflik berlanjut dan blokade Selat Hormuz terus berlangsung, pasokan alternatif di pasar internasional akan langka dan berisiko mendorong harga naik,” demikian pernyataan Kementerian Keuangan Vietnam.
Di Bangladesh, pemerintah memilih untuk menekan konsumsi. Salah satu caranya ialah memberi waktu libur lebih panjang. Semua perguruan tinggi negeri dan swasta Bangladesh sudah mulai libur Lebaran. Sekolah-sekolah sudah lebih dulu libur sejak awal bulan Ramadhan.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos mengalihkan sistem kerja kantor pemerintah menjadi empat hari dalam sepekan, kecuali petugas untuk layanan darurat. Kebijakan ini bersifat sementara, tetapi belum tahu kapan berakhir. Filipina sangat bergantung pada minyak Timur Tengah. ”Kami adalah korban perang yang bukan pilihan kami. Namun, kami mengendalikan bagaimana kami akan melindungi rakyat Filipina,” ujarnya.
Jika perang terus berlanjut
Kepala Ekonom JP Morgan Bruce Kasman mengatakan, ekonomi global tetap bergantung pada aliran minyak dan gas alam Timur Tengah yang terkonsentrasi melalui Selat Hormuz. Skenario jangka pendek adalah lonjakan harga hingga 120 dolar AS per barel diikuti oleh penurunan seiring meredanya konflik.
Namun, Kasman memperingatkan, konflik yang lebih luas dan terus berlanjut dapat mendorong harga minyak di atas 120 dolar AS per barel. Kondisi ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,6 persen per tahun untuk paruh pertama tahun ini dan mendorong harga konsumen naik sebesar 1 persen per tahun. ”Ini berisiko menyebabkan resesi global,” ucapnya.
Saat ini, lonjakan harga minyak sudah menghajar bursa saham di sejumlah negara, termasuk Jepang, Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan awal pekan, Senin (9/3/2026), menyentuh titik terlemah di 7.156 dengan pelemahan rata-rata 4 persen.
Nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot pada Senin menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Secara tahun kalender berjalan, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 2,03 persen.