Bencana Alam, Bencana Manusia

Judul Tajuk Rencana 1 Desember 1980 ini diangkat kembali karena kita masih mengulang masalah yang sama. Bencana alam kembali terjadi di Sukabumi.

09 Des 2024 05:17 WIB · Editorial

Oleh Redaksi

Hujan terus-menerus pada pekan akhir November 1980 itu mengakibatkan longsor sisi bukit Kamuning di Kecamatan Sagaranten, 54 kilometer selatan Sukabumi, Jawa Barat. Tidak ada korban jiwa, tetapi 271 rumah dikosongkan dan 965 orang mengungsi. Saat itu kita mendorong pemerintah untuk selalu mengingatkan masyarakat tentang perlunya kewaspadaan terjadinya bencana pada musim hujan.

Upaya Tim SAR mencari dua warga yang tertimbun longsoran tanah di Kecamatan Tegal Buleud, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (6/12/2024). Total sebanyak empat warga belum ditemukan hingga kini.

Peringatan tentang perlunya kita belajar dari sejarah bencana  juga dikemukakan melalui Tajuk Rencana ini ketika terjadi longsor di Sukabumi, 31 Desember 2018. Longsor tahun 2018 itu menyebabkan 11 orang meninggal, 3 orang luka berat, dan 24 orang belum ditemukan. Longsor terjadi di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Longsor berasal dari lereng perbukitan di belakang permukiman warga. Lereng dengan kemiringan lebih dari 30 derajat itu puluhan tahun dimanfaatkan warga sebagai sawah. Kita memberikan catatan bahwa pemanfaatan lahan tebing untuk sawah oleh warga mempermudah terjadinya longsor saat musim hujan. Selain disebabkan dahsyatnya kuasa alam, ada juga faktor manusia yang bisa kita jadikan pijakan untuk meminimalkan dampak bencana.  

 Dalam perkembangannya, setidaknya dari pemberitaan harian Kompas (Kompas.id), tergambar skala bencana alam di Sukabumi makin luas. Selain di Kecamatan Sagaranten yang pernah terkena bencana tahun 1980, bencana alam juga meluas di  38 kecamatan dari 47 kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Bencana alam yang berlangsung sejak Rabu (4/12/2024)  dalam musim hujan ini berupa banjir, tanah longsor, angin kencang, dan pergerakan tanah. Hingga Sabtu (7/12), bencana alam ini mengakibatkan 8 warga tewas dan 4 orang lainnya belum ditemukan.

Sejumlah personel SAR gabungan membawa kantong berisi jenazah korban bencana longsor saat pencarian di Kampung Cisarakan, Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (7/12/2024). Komandan Tim Operasi Basarnas Fajar Laksana Ginting menyatakan musibah tanah longsor yang melanda Kampung Cisarakan RT 22/09, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi pada Rabu (4/12) menyebabkan lima korban jiwa tertimbun longsor, dan kelimanya telah ditemukan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.

Selain itu, warga yang terdampak mencapai 3.153 keluarga atau 4.892 jiwa. Sebanyak 2.859 warga di antaranya mengungsi ke tempat aman. Sementara itu,  1.254 rumah rusak dan 1.090 rumah terendam banjir. Ada pula 34 ruas jalan yang terputus serta 79 bangunan fasilitas umum yang terdampak, antara lain jembatan, saluran air, tempat ibadah, dan sekolah. Sawah seluas 46 hektar juga terdampak bencana banjir.

Dari rangkaian sedikitnya  tiga kejadian bencana alam di Sukabumi tahun 1980, 2018, dan 2024 ini kita tidak belajar secara tuntas tentang bagaimana memitigasi bencana alam agar terhindar dari dampak yang lebih parah. Organisasi penanggulangan bencana dan teknologi komunikasi saat ini lebih canggih dibandingkan dengan 1980-an. Setiap informasi lebih mudah diakses masyarakat, termasuk informasi cuaca dan peta rawan bencana. Namun, mengapa kita masih belum dapat meminimalkan dampak bencana yang dapat kita kendalikan sedini mungkin? 


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase