60 persen wilayah Jawa Barat diterjang bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem dalam sepekan. 11.836 warga terdampak dan 3 di antaranya tewas.
26 Okt 2025 17:35 WIB · Nasional
BPBD Jawa Barat
BANDUNG, KOMPAS — Sebanyak 60 persen dari 27 kabupaten kota di Jawa Barat dilanda bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem selama sepekan terakhir. Terjadi banjir, tanah longsor dan angin puting beliung yang menyebabkan 11.836 warga terdampak dan tiga di antaranya tewas.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, tercatat 34 kejadian bencana meliputi banjir, tanah longsor, dan angin kencang dari Minggu hingga Minggu (19-26/10/2025).
Sebanyak 34 kejadian bencana di Jawa Barat meliputi 6 peristiwa banjir, 10 kejadian tanah longsor, 17 cuaca ekstrem, dan 1 kebakaran lahan. Total 34 kejadian ini terjadi di 16 kabupaten dan kota.
”Kabupaten Karawang menjadi wilayah dengan kejadian bencana terbanyak, yakni 8 peristiwa, disusul Kabupaten Bogor 7 peristiwa, Bandung Barat 5 peristiwa,” papar Hadi Rahmat Hardjasasmita selaku Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/5a5adb0311f13c56f9c3dd02af7b694e-longsor_kota_bandung.jpg)
Ia menuturkan, 34 kejadian ini mengakibatkan 93 unit rumah rusak berat, 200 rumah rusak sedang, dan 1.221 rumah rusak ringan. Sementara 3.059 rumah sempat terendam banjir. Selain itu, tiga orang tewas akibat terdampak bencana puting beliung.
Hadi mengimbau warga, terutama yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan perbukitan, agar meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah mitigasi mandiri saat hujan deras lebih dari satu jam.
”Warga perlu memetakan tempat aman untuk evakuasi. Pengendara juga sebaiknya menepi ketika hujan disertai angin kencang untuk menghindari risiko tertimpa pohon atau baliho tumbang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Barat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rakhmat Prasetia mengingatkan, intensitas hujan di sebagian besar wilayah Jawa Barat tahun ini berpotensi lebih tinggi daripada normal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/26/9a3c49ff21aa55eec7ab5a3b32725b73-IMG_20251026_170543.jpg)
Ia pun memaparkan bahwa musim hujan tahun ini datang lebih awal dengan curah hujan di atas normal di banyak wilayah.
”Sejak Agustus, sejumlah wilayah sudah memasuki musim hujan lebih awal. Puncak hujan diperkirakan terjadi pada Oktober hingga Januari mendatang,” katanya.
Dengan kondisi cuaca yang lebih basah dan intensitas hujan tinggi, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, serta angin kencang.
”Khusus wilayah pergunungan dan dataran tinggi, seperti Subang dan sekitarnya, risiko angin kencang dan pohon tumbang perlu diantisipasi,” kata Rakhmat.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase