Bencana Kelaparan di Gaza Makin Mengkhawatirkan

Warga Gaza yang tewas akibat kelaparan terus bertambah. Tidak hanya warga, staf kemanusiaan dan jurnalis juga menderita kelaparan.

23 Jul 2025 14:15 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

DEIR AL-BALAH, RABU — Ketika perang Hamas-Israel kian berlarut-larut, bencana kelaparan di Gaza makin mengkhawatirkan. Korban jiwa terus berjatuhan, sementara warga berusaha mencari makan. Tidak hanya warga, pekerja kemanusiaan dan jurnalis juga kelaparan.

Setelah memblokir ketat bantuan kemanusiaan, Israel sedikit melonggarkan arus bantuan ke Gaza pada Mei 2025. Bantuan tersebut didistribusikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dikelola Israel dan Amerika Serikat. Namun, jumlahnya masih jauh dari cukup.

Puluhan warga Palestina mengantre, Selasa, di luar dapur umum di kota Gaza. Mereka menantikan semangkuk sup tomat yang encer. Jika beruntung, ada yang mendapatkan terong dalam potongan kecil. Karena persediaan menipis, orang-orang yang memegang panci saling dorong agar bisa sampai ke depan.

”Saya melakukannya demi anak-anak saya. Ini kelaparan—tidak ada roti atau tepung,” kata Nadia Mdoukh, seorang warga yang sedang hamil.

Kementerian Kesehatan Gaza, Selasa (22/7/2025), menyatakan, dalam beberapa hari terakhir sebanyak 101 orang, termasuk 80 anak-anak, telah meninggal karena kelaparan. Meskipun laporan itu tidak dapat diverifikasi secara independen, PBB dan sejumlah badan bantuan internasional sudah mengakui kelaparan terjadi di Gaza. 

Orang-orang berjalan di sepanjang Jalan Al-Rashid di Jabalia barat setelah menerima bantuan kemanusiaan dari titik distribusi bantuan di Jalur Gaza utara, Selasa (22/7/2025). Kepala rumah sakit terbesar di Gaza pada 22 Juni mengatakan, 21 anak telah meninggal dunia akibat malnutrisi dan kelaparan di wilayah Palestina tersebut.

Bahkan, Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) mencatat, sejak 27 Mei lalu, sebanyak 1.054 warga Palestina terbunuh saat berusaha mendapatkan makanan. Dari jumlah itu, sebanyak 766 orang terbunuh saat menuju lokasi pos distribusi GHF, sisanya tewas karena tertembak di sekitar konvoi PBB atau lokasi bantuan.

Saksi mata warga Palestina mengatakan, pasukan Israel menembaki kerumunan ribuan orang yang menuju lokasi GHF. Dari sisi Israel, militer berdalih hanya melepaskan tembakan peringatan ke udara agar massa tidak berdesak-desakan, atau berdalih para pengungsi mendekati pasukan Israel. Mereka menganggap tindakan sebagai ancaman.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) mengatakan, krisis kelaparan di Gaza sangat mencengangkan dan membuat banyak pihak kian putus asa. Ross Smith, Direktur Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat WFP, Senin lalu mengatakan, hampir 100.000 perempuan dan anak-anak menderita malanutrisi akut dan sepertiga penduduk Gaza tidak makan selama berhari-hari.

MedGlobal, sebuah badan amal di Gaza, mengatakan, dalam tiga hari terakhir sebanyak lima anak berusia tiga bulan meninggal akibat kelaparan. Persediaan obat-obatan, seperti cairan infus dan therapeutic formula, pun tidak cukup untuk memulihkan kondisi mereka.

”Ini adalah bencana yang disengaja dan disebabkan oleh manusia,” ujar Joseph Belliveau, Direktur Eksekutif MedGlobal.

Beberapa hari lalu, sebanyak 28 negara mengeluarkan pernyataan yang mengecam tindakan militer di Gaza. Mereka gerah dengan pelanggaran HAM yang terjadi. Pernyataan itu ditandatangani, antara lain, oleh Inggris, Perancis, dan negara sahabat Israel lainnya.

Staf kelaparan

Bukan hanya warga Gaza, staf bantuan kemanusiaan juga ikut kelaparan. Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), salah satu organisasi bantuan independen terbesar di Gaza, mempunyai 64 anggota staf Palestina dan dua anggota staf internasional di Gaza. Staf NRC pingsan saat bekerja karena kelaparan dan kelelahan.

NRC belum lagi memiliki stok bantuan untuk didistribusikan. Selama 145 hari terakhir, NRC tidak dapat mengirimkan tenda, air, perlengkapan sanitasi, makanan, dan materi pendidikan ke Gaza.

”Tenda terakhir, paket makanan terakhir, dan barang-barang bantuan terakhir kami telah didistribusikan. Tidak ada yang tersisa,” ujar Jan Egeland, Sekretaris Jenderal NRC di Oslo, Selasa.

Menurut NRC, persediaan air minum mereka pun menipis karena bahan bakar untuk pabrik desalinasi terbatas. Beberapa pekan terakhir, pasokan air telah menjangkau 100.000 orang di wilayah tengah dan utara Gaza.

Warga laki-lak9 berjalan membawa karung tepung yang diambil dari truk pengangkut bahan makanan yang dirampok, di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, Selasa (22/7/2025)

Egeland melanjutkan, Israel ingin melumpuhkan tugas mereka sebagai organisasi kemanusiaan. ”Ratusan truk tengah tertahan di gudang-gudang, di Mesir atau di tempat lain, dan menghabiskan banyak uang para donor kami dari Eropa Barat, tetapi mereka terhalang untuk masuk. Itulah sebabnya, kami sangat marah,” tuturnya.

Badan Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) menyatakan kondisi yang sama. Stafnya pingsan karena kelaparan dan kelelahan saat bertugas.

”Tak seorang pun luput: para perawat di Gaza juga membutuhkan perawatan. Para dokter, perawat, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan juga kelaparan,” ujar Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini dalam jumpa pers di Geneva, dilansir dari Arab News.

MedGlobal melaporkan situasi senada. Staf di lembaga ini pusing dan sakit kepala karena lapar.

Jurnalis terdampak

Jurnalis yang meliput di Gaza tak luput dari bahaya kelaparan. Di wilayah perang, Israel umumnya melarang jurnalis asing masuk. Organisasi berita internasional, seperti AFP, Associated Press, dan Reuters, mengandalkan tim lokal untuk meliput berita atau mengambil foto.

Ahlam Afana (30), jurnalis Agence France-Presse (AFP), mengatakan, masalah terbesar adalah kekurangan makanan, air, dan uang tunai. Ditambah lagi, harga makanan melejit mahal.

”Harganya keterlaluan. Satu kilogram tepung dijual 30-45 dollar AS, di luar kemampuan kami untuk membeli. Begitu pula dengan beras, gula, pasta, minyak, tomat, dan buah-buahan. Kami tidak mampu membelinya. Saya bahkan tidak ingat rasanya,” ujar Afana kepada France24.

Afana terus bekerja di tenda usang di bawah terik matahari. Suhunya bisa mencapai lebih dari 30 derajat celsius. Kondisi lapar dan haus membuatnya harus bergerak pelan-pelan.

”Bahayanya bukan hanya pengeboman. Kelaparan perlahan-lahan membunuh tubuh kami dan mengancam kemampuan kami untuk bertahan hidup. Sekarang, saya tidak hanya melaporkan berita. Saya mengalami bencana ini sekaligus mendokumentasikannya,” tutur Afana.

Jurnalis AFP Bashar Taleb berpose untuk foto di Jalur Gaza pada 10 Desember 2024. Para jurnalis AFP di Jalur Gaza, Selasa (22/7/2025), mengatakan, kelaparan dan kehausan memengaruhi kemampuan mereka untuk meliput perang Hamas-Israel.

Bashar Taleb (35), fotografer AFP, menceritakan, dirinya harus berhenti bekerja beberapa kali demi mencari makanan bagi keluarganya. Untuk pertama kali, dia benar-benar merasa kalah secara emosional.

”Saya sudah mencoba begitu banyak hal, mengetuk banyak pintu untuk menyelamatkan keluarga saya dari kelaparan,” kata Taleb yang tinggal di reruntuhan rumahnya di Jabalia al-Nazla.

Menurut Masyarakat Jurnalis di AFP (SDJ), salah satu saudara laki-laki Taleb telah mati karena kelaparan. SDJ tengah mengupayakan evakuasi bagi para pekerja AFP bersama keluarga mereka.

Sementara itu, perwakilan AP dan Reuters juga menyatakan kekhawatiran pada tim mereka di Gaza. Reuters menjalin komunikasi dengan para jurnalis lepasnya setiap hari yang juga sulit mendapatkan makanan.

”Jika mereka harus meninggalkan wilayah itu, kami akan memberikan bantuan apa pun untuk membantu mereka keluar,” bunyi pernyataan Reuters. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji