Bencana Sumatera, Tim SAR Lanjutkan Pencarian Korban di Daerah Terisolasi

Kondisi cuaca dan struktur tanah yang labil menjadi tantangan dalam upaya pencarian korban.

01 Des 2025 11:53 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Vina Oktavia

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas di wilayah Aceh dan Sumatera Utara terus bekerja untuk mengevakuasi korban selamat ataupun korban tewas akibat bencana hidrometeorologi. Hingga Senin (1/12/2025), operasi lanjutan diprioritaskan untuk menjangkau daerah yang masih terisolasi dan tidak dapat diakses melalui jalur darat.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh Al Hussain menuturkan, evakuasi dan pencarian korban dilakukan di hampir seluruh wilayah di Aceh, meliputi Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Meulaboh, dan Nagan Raya. Selain itu, tim SAR gabungan juga melakukan operasi serupa di Kota Langsa dan Kota Lhokseumawe yang juga dalam kondisi cukup parah.   

Hingga Minggu (30/11/2025) pukul 17.00 WIB, jumlah korban bencana yang dapat dievakuasi dalam kondisi selamat sebanyak 1.066 jiwa. Adapun 100 korban lain dievakuasi dalam kondisi tewas dan sembilan lainnya masih dalam pencarian.

Dia menambahkan, tim SAR gabungan masih terus melanjutkan operasi pencarian dan pertolongan korban bencana. Operasi diperluas ke wilayah lain yang terdampak bencana, meliputi Kabupaten Bireuen, Aceh Barat, dan Bener Meriah. Di Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat, akses jalan terputus sehingga tim membantu memberikan logistik menggunakan sistem tali.

”Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh terus berupaya menjangkau seluruh masyarakat yang terjebak banjir untuk dapat dilakukan pertolongan dan evakuasi ke tempat aman. Kami terus merencanakan operasi lanjutan dengan skala prioritas terhadap tempat yang terisolasi dan tidak dapat diakses melalui jalur darat,” kata Al Hussain dalam keterangan melalui video yang dikirim kepada media, Senin (1/12/2025).

Personel Kantor SAR Aceh melakukan proses evakuasi korban terdampak bencana di kawasan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Sementara itu, di Sumatera Utara, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan Hery Marantika mengatakan, tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban tanah longsor di area proyek pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) yang berlokasi di Kecamatan Aek Sibundong, Kabupaten Tapanuli Utara. Korban adalah Wilvilton Hutasoit (30), pekerja proyek PLTM tersebut.

Longsor di lokasi tersebut terjadi pada Selasa (25/11/2025) setelah intensitas hujan tinggi di wilayah itu. Material longsoran berupa tanah dan bebatuan yang menimpa area kerja proyek mengakibatkan beberapa pekerja tertimbun.

Sampai saat ini, operasi pencarian dan pertolongan terus dilakukan untuk menemukan satu korban lain yang masih hilang. Operasi SAR juga akan diperluas ke wilayah lain, seperti di Kecamatan Parmonangan dan Kecamatan Adian Koting. Di dua lokasi tersebut, tim SAR mendapat laporan adanya sejumlah warga yang masih hilang.

Menurut dia, kondisi cuaca dan struktur tanah yang labil menjadi tantangan dalam upaya pencarian korban. Apalagi, alat berat tidak bisa masuk ke lokasi karena akses menuju lokasi terputus. Meski mengalami berbagai kendala di lapangan, tim SAR terus berupaya mengevakuasi semua korban. ”Tim SAR gabungan bekerja semaksimal mungkin di lapangan,” ucapnya.

Petugas mengevakuasi korban meninggal dalam bencana longsor dan banjir bandang di Desa Sibalanga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Sabtu (29/11/2025). Petugas sudah berhasil mengevakuasi 13 korban meninggal dari desa itu. Tujuh warga masih hilang di desa itu.

Dia menambahkan, pihaknya juga terus berkoordinasi lintas instansi untuk memperkuat operasi di lapangan. ”Sinergi antar-instansi sangat membantu mempercepat proses. Kami mengimbau seluruh personel tetap mengutamakan keselamatan mengingat potensi longsor susulan masih ada,” tambahnya.

Korban bencana

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 30 November 2025, total korban meninggal akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 442 jiwa. Sementara itu, 402 jiwa masih dinyatakan hilang.

Personel Kantor SAR Aceh melakukan proses evakuasi korban terdampak bencana di kawasan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Minggu (30/11/2025).

Dari jumlah itu, korban tewas di Sumatera Utara tercatat paling banyak, yakni 217 jiwa, dan 209 jiwa lainnya masih hilang. Korban meninggal ini tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidimpuan, Deli Serdang, dan Nias.

Sementara itu, pengungsi tersebar di beberapa lokasi, antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.

Akses darat di beberapa kabupaten masih terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Di Tapanuli Utara, jalan Tarutung-Sibolga terputus di sejumlah lokasi. Sementara sejumlah desa di Parmonangan dan Adiankoting masih belum dapat dijangkau dengan total lebih dari 12.000 jiwa terdampak.

Warga desa korban bencana berjalan kaki pergi pulang enam jam untuk membeli bahan pokok mi instan dan minyak tanah, di Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Sabtu (29/11/2025). Sudah lima hari desa mereka terisolasi akibat jalan putus pasca banjir bandang dan longsor.

”Untuk Tarutung-Sibolga ini masih normalisasi. Yang bisa ditembus alat berat ini 40 kilometer,” kata Kepala BNPB Suharyanto saat menyampaikan konferensi pers di Tapanuli Utara.

Adapun di Aceh, sesuai data pada 30 November 2025, tercatat 96 jiwa meninggal dan 75 jiwa hilang. Korban bencana tersebar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Sementara jumlah pengungsi akibat bencana di Aceh sebanyak 62.000 keluarga di hampir semua kabupaten dan kota.


Kerabat Kerja

Penulis:

Vina Oktavia
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti