Benci dan Rindu ”Tanjakan Cinta” di Borobudur Marathon

”Tanjakan Cinta” Borobudur Marathon dibenci para pelari saat hari lomba, tetapi selalu dirindukan setelah berhasil melewati. Tanjakan itu kembali menyapa tahun ini.

21 Nov 2024 19:17 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

”Tanjakan Cinta”, begitu para pelari menyebut rute dengan elevasi yang sudah terkenal di Borobudur Marathon. Kata ”cinta”, yang terkesan indah dan damai, membuat tanjakan terdengar mudah. Namun, kenyataan berbanding terbalik. Tanjakan itu penuh dengan penderitaan. Butuh fisik dan mental kuat untuk melaluinya.

Rute dengan banyak tanjakan sudah menjadi ciri khas Borobodur Marathon. Ibarat prinsip ”hidup seperti roda”, jangan senang dulu ketika melihat turunan. Sebab, tanjakan sudah menanti setelah itu. Bagi pelari debutan yang belum berpengalaman, tantangan itu mesti benar-benar dipersiapkan.

Bahkan, pelari elite nasional selevel Odekta Elvina Naibaho, yang sudah langganan berlomba di Borobudur Marathon, bisa kewalahan. Odekta nyaris menyerah pada 8 kilometer menjelang garis finis. Kaki dari pemenang ketiga kategori maraton putri terbuka edisi 2023 itu mengalami kram.

”Hantu” terseram bagi Odekta dan banyak pelari lain adalah tanjakan pada Kilometer 35. Rute sangat menyiksa dengan elevasi sekitar 30 derajat. Belum lagi, posisi tanjakan terletak hanya beberapa kilometer menjelang garis finis. Artinya, kondisi tubuh mereka sudah menurun drastis, terutama untuk peserta maraton.

Rute serupa dengan ujian ”Tanjakan Cinta” akan kembali menyapa di Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 yang diselenggarakan pada Minggu (1/12/2024). Seperti cinta yang membuat degdegan, begitu pula yang dirasakan para peserta menjelang menghadapi tanjakan lomba di area Magelang, Jateng, itu.

Para pelari melakukan lari-lari ringan sekitar 3 kilometer sambil menikmati pemandangan di Candi Borobudur, Magelang, Sabtu (18/11).

”Semangat dan takut jadi satu. Kalau berhasil melewati (tanjakan), seperti ada rasa bangga. Ada perasaan ’Bomar akhirnya bisa gua taklukkan’. Ada kepuasaan sendiri kalau bisa lewat yang Km 35. Itu lagi capek-capeknya dikasih tanjakan. Paling menantang, tetapi ngangenin,” kata Stefanus Atyanto (34), pelari dari Pamulang, Tangerang Selatan.

Persiapan sebelum lomba

Stefanus adalah pelari yang terdaftar untuk berlomba di kategori maraton, tahun ini. Dia selalu mengikuti lomba di seluruh edisi sejak 2017, kecuali saat lomba virtual pada masa pandemi Covid-19. Kata peserta yang mengincar waktu finis di bawah 4 jam itu, persiapan sebelum lomba dan manajemen saat berlari menjadi kunci.

”Saya sudah latihan selama 3-4 bulan terakhir. Jadi, kadang berlatih di rute yang ada tanjakan kalau dekat rumah. Beberapa kali juga mencoba rute Bomar saat pulang ke Jogja (kampungnya). Sempat ikut trail run juga di Kawah Ratu. Soalnya, saya ingin serius, ingin berlari di tanjakan itu. Tidak mau jalan,” tutur Stefanus.

Para pelari kategori maraton akan menghadapi total jalan menanjak sampai sekitar 320 meter. Ujian serupa dengan jalan menanjak lebih pendek juga menanti peserta kategori separuh maraton (170 meter) dan 10 km (70 meter). Adapun jumlah peserta maraton tahun ini naik 30 persen menjadi sekitar 2.200 peserta.

Direktur Medis Borobudur Marathon 2024 Andi Kurniawan mengatakan, para pelari tidak perlu ragu untuk mengeluarkan kemampuan terbaik di setiap tanjakan. Panitia sudah mengantisipasi dengan keberadaan tenda medis dan ambulans di titik-titik tanjakan yang berpotensi tingggi menyebabkan cedera.

Petugas medis berjaga untuk segala kemungkinan darurat bagi peserta lari Borobudur Marathon 2020 di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (14/11/2020).
Tenaga medis menolong peserta Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank Jateng yang mengalami kram kaki saat memasuki garis finis di Taman Lumbini, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023).
Petugas medis memeriksa kondisi fisik pelari peserta Bootcamp Bank Jateng Young Talent yang baru saja mengikuti uji Balke di Stadion Jatidiri, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (19/10/2023).
Petugas medis memberikan pertolongan kepada salah satu peserta lomba lari Borobudur Marathon 2022 Powered by Bank Jateng kategori Elite Race setelah finis di Taman Lumbini Kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (12/11/2022).

Hanya saja, Andi mengingatkan, mereka harus peka terhadap kondisi dan sinyal-sinyal dalam tubuh. ”Kalau lagi tidak bisa nanjak dan lari kencang, diperlambat dulu. Jalan dulu. Tunggu jalan rata, nanti baru lari lagi. Terutama untuk yang tidak terlatih. Sebab, ketika menanjak, beban kaki dan jantung jadi lebih berat,” tuturnya.

Kasus cedera

Tahun lalu, banyak kasus cedera terjadi di tanjakan Km 35. Mayoritas peserta yang mendapat perawatan bermasalah dengan kram.

Beberapa mengalami masalah serius, seperti nyeri di lutut, sampai tidak bisa berlari lagi. Menurut Andi, peregangan sebelum lomba dan latihan penguatan otot sejak jauh hari sangat krusial.

Di kategori separuh maraton (21,097 km), tanjakan yang paling menantang terletak di Km 17. Karakter tanjakan itu mirip dengan yang ada di Km 35 untuk kategori maraton (42,195 km). Adapun kedua tanjakan sama-sama memiliki tingkat kecuraman cukup tinggi dan jalan yang cukup panjang.

Direktur Lomba Borobudur Marathon 2024 Andreas Kansil menilai, rute banyak tanjakan membuat ajang jadi lebih spesial. Itu salah satu yang menjadi pertimbangan untuk mempertahankan rute.

”Ini bentuk keunikan dari Bomar. Buat pelari yang menyelesaikan itu pasti jadi poin plus, juga agar lebih mempersiapkan diri. Ada tanjakan dan turunan sehingga bisa mengatur strategi masing-masing,” katanya.

Cinta memang indah, tetapi butuh pengorbanan. Biasanya pula, semakin sulit proses, semakin indah pula hasilnya. Proses pengorbanan yang penuh derita itu pula yang harus dilalui pelari untuk menggapai perasaaan bahagia di garis finis. Wajar saja jika ”Tanjakan Cinta” hanya dibenci sesaat, tetapi dirindukan kemudian.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono