”Kijang-kijang Kenya” Berburu dan Diburu di Borobudur Marathon 2024

Ujian lebih berat menanti para pelari Kenya di Borobudur Marathon 2024. Selain pelari elite nasional yang semakin mengusik, banyak pelari internasional yang hadir.

20 Nov 2024 18:31 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Bagi para pelari jarak jauh asal Kenya, Borobudur Marathon sudah seperti ladang emas. Mereka selalu datang dengan ambisi berburu hadiah dan berhasil pulang dengan mendominasi podium pemenang. Wajar jika mereka terus kembali dari tahun ke tahun.

Sejak Borobudur Marathon dikelola Kompas pada 2017, nomor maraton terbuka selalu dimenangkan pelari Kenya, termasuk tahun lalu. Saat itu, Geoffrey Birgen menjuarai kategori putra untuk ketiga kali beruntun. Rekan senegara Birgen, Sheila Chesang, memenangi kategori putri.

Musim panen terasa semakin dekat bagi ”Kijang-kijang Kenya”, julukan mereka yang mayoritas berkaki jenjang. Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 akan segera diselenggarakan pada Minggu (1/12/2024) di Magelang, Jateng. Total hadiah senilai Rp 2,6 miliar diperebutkan.

Meskipun demikian, tantangan lebih berat sudah menanti Birgen dan rekan-rekan. Borobudur Marathon berstatus ”Label” dari World Athletic (WA) untuk pertama kali pada edisi nanti. Artinya, mereka masuk kalender resmi lomba lari jalan raya dunia dan bisa menarik lebih banyak pelari internasional.

Terbukti, pelari asing pada tahun ini meningkat lebih dari dua kali lipat, yaitu 193 peserta, dari sebelumnya 75 peserta pada tahun lalu. Penyebaran negara peserta juga lebih merata. Pelari dari Asia dan Australia menyaingi jumlah pendaftar dari Afrika. Beberapa lainnya datang jauh-jauh dari Eropa dan Amerika.

Persiapan Lomba Lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 - Sejumlah pelari asing mengambil perlengkapan lari lomba Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 di Mal Artos, Kota Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/11) malam. Lomba lari dengan 8.754 peserta ini juga diikuti pelari dari 27 negara asing seperti Kenya, Jepang, Malaysia, dan Belanda. (DRA) 18-11-2017

”Pengaruh label itu ya pelari asing bisa melihat. Kami masuk standar minimal untuk lomba lari jalan raya di WA. Jadi, mereka percaya untuk mendaftar. Penyebaran merata, tidak seperti tahun lalu (didominasi Afrika). Secara kompetisi akan lebih sengit,” kata Direktur Atlet Elite Borobudur Marathon 2024 Budhi Sarwiadi.

Pelari elite nasional

Atmosfer kompetitif sudah mulai terasa pada edisi 2023, khususnya dari kategori maraton putri terbuka. Pelari nasional Odekta Elvina Naibaho berhasil menempati peringkat ketiga. Dia mendampingi dua pelari Kenya lainnya di podium, Chesang Peninah dan Jepkoech Kigen.

Menariknya, Odekta mampu finis dengan catatan waktu 2 jam 52 menit 1 detik atau hanya berselisih kurang dari dua menit dari sang juara (Chesang/2 jam 50 menit 24 detik). Padahal, jelang garis finis, dia berada sekitar 200 meter di belakang Chesang.

Odekta enggan memaksakan diri karena kelelahan. Dia dua kali mengalami kram pada Kilometer 34 dan 38. ”Saya harus menyadari bahwa kemampuan setiap orang berbeda-beda. Ketika bisa mendahului mereka, belum tentu juga nantinya saya bisa berhasil finis lebih dulu,” katanya seusai lomba.

Sebelum Odekta, pelari elite nasional yang bisa mengusik dominasi Kijang-kijang Kenya adalah Irma Handayani pada edisi 2019. Dia menempati peringkat ketiga maraton putri terbuka dengan finis 3 jam 10 menit 17 detik. Artinya, ada pelari Indonesia dalam dua ajang terakhir di nomor terbuka.

Aksi selebrasi pelari nasional putri, Odekta Elvina Naibaho, saat finis di Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank Jateng di Taman Lumbini, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023). Odekta finis ketiga di nomor Marathon Overall Putri.
Aksi selebrasi pelari nasional putri, Odekta Elvina Naibaho saat finis di Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank Jateng di Taman Lumbini, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023). Odekta finis ketiga di nomor Marathon Overall Putri.
Aksi selebrasi pelari nasional putri, Odekta Elvina Naibaho, saat finis di Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank Jateng di Taman Lumbini, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023). Odekta finis ketiga di nomor Marathon Overall Putri.
Aksi selebrasi pelari nasional putri, Odekta Elvina Naibaho saat finis di Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank Jateng di Taman Lumbini, Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (19/11/2023). Odekta finis ketiga di nomor Marathon Overall Putri.

Adapun pada 2020-2022, nomor terbuka ditiadakan akibat pandemi Covid-19. Tidak ada pelari dari luar negeri di Magelang. Lomba di kompleks Taman Lumbini, Candi Borobudur, hanya diikuti puluhan pelari elite nasional. Kompetisi baru bergairah lagi pada edisi tahun lalu.

Odekta dan Irma akan membakar api kompetisi lagi pada edisi 2024. Mereka masuk dalam daftar 13 pelari elite nasional (9 putra dan 4 putri) yang diundang pada tahun ini. Di kategori putra, terdapat juara bertahan nomor maraton nasional, Rikki Marthin Simbolon.

Menurut Budhi, tujuan mengundang atlet elite tidak hanya untuk memanaskan persaingan. ”Kami ingin mengapresiasi para pejuang atletik nasional. Mereka harus diberikan panggung. Selain berprestasi, mereka juga bisa menjadi teladan pelari lain. Bagaimana turun (berlomba) dan mengakhiri dengan bahagia,” ujarnya.

Kompetisi sesama Kenya

Di sektor putra, para pelari Kenya memang sangat dominan. Namun, kompetisi antara sesama mereka dan diri sendiri juga menarik untuk disaksikan. Mereka memang berasal dari satu negara, mungkin juga berlatih bersama-sama, tetapi urusan juara adalah hal berbeda.

Quote

Semakin tinggi status label, semakin tinggi pula level kompetitif dari lomba tersebut.

Lihat saja ambisi Birgen, pemenang edisi 2018, 2019, dan 2023. Dia hanya menempati peringkat kelima pada 2017 dengan catatan 2 jam 28 menit dan 28 detik. Ia kalah dari juara ketika itu yang juga pelari Kenya, Kiprop Tonui (2 jam 26 menit 20 detik). Kekalahan itu dijadikan cambuk untuk lebih baik.

Pelari asal Kenya Geoffrey Kiprotich Birgen yang menjuarai Full Maratahon Putra membentangkan bendera Kenya di sekitar garis finis Electric Jakarta Marathon 2019 di Plaza Utara Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Acara lari ini diikuti 16.500 peserta dengan kategori Full Marathon, Half Marathon, 10 K , dan 5 K. Selain Indonesia, sebanyak 1.421 peserta lari diantaranya juga dari Malaysia, India, Amerika Serikat, Perancis, Portugal, Belanda, Italia, Kenya, Korea Selatan, Singapura, dan Jepang. Selain menjadi ajang bergengsi para peminat olahraga lari, acara ini juga masuk menjadi salah satu Kalender 100 Event Nasional. Dua pelari asal Kenya unggul dalam ajang ini yaitu Geoffrey Kiprotich Birgen menjuarai Full Maratahon Putra dan Peninah Jepkoech Kigen menjuarai Full Marathon Putri.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)27-10-2019

Birgen datang setahun berselang dan merebut takhta juara Borobudur Marathon 2018. Dia finis dengan catatan waktu impresif, 2 jam 20 menit 10 detik. Pada edisi 2019, dia menjuarai lomba lagi dan sukses memecahkan rekor waktu (2 jam 19 menit 35 detik). Rekor itu diperbarui pada 2023 (2 jam 15 menit 20 detik).

Borobudur Marathon, kata Budhi, ditargetkan semakin kompetitif setiap tahun. Mereka pun ingin menuntaskan lomba pertama berstatus ”Label” dengan baik agar bisa melangkah ke level selanjutnya, yaitu ”Elite Label”. Di ”Elite Label”, penyelenggara harus mengundang atlet internasional berdasarkan klasifikasi tertentu.

Dalam status ”Label” atau tingkatan pertama dari empat klasifikasi lomba lari jalan raya menurut WA, penyelenggara tidak diwajibkan mengundang pelari internasional. Seluruh pelari mendaftarkan diri sendiri. Adapun semakin tinggi status label, semakin tinggi pula level kompetitif dari lomba tersebut.

Akibat magis Candi Borobudur, nuansa berlibur nan santai sangat terasa di area lomba. Perlahan, Borobudur Marathon bisa mengubah atmosfer itu. Esensi lomba adalah beradu cepat. Sisi kompetitif tersebut yang sudah terlihat beberapa tahun terakhir dan akan semakin semarak kali ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari