Musim kompetisi di lapangan tanah liat berlangsung di Eropa sekitar 2,5 bulan ke depan. Banyak tuntutan kemampuan untuk menguasai lapangan tenis unik ini.
01 Apr 2026 07:51 WIB · Olahraga
AFP/Dimitar DILKOFF
Persaingan petenis profesional beralih dari lapangan keras ke tanah liat sejak akhir Maret. Setelah bersaing dengan bekal tenaga dan kekuatan pukulan, kini saatnya mereka beradu cerdik dalam menerapkan strategi dan ketangguhan mental.
Musim kompetisi di lapangan tanah liat berlangsung sejak akhir Maret hingga pertengahan Juni 2026. Mereka beralih dari beberapa negara di Asia dan Australia pada tiga bulan pertama ke negara-negara di Eropa dengan Grand Slam Perancis Terbuka di Roland Garros, Paris, 24 Mei-7 Juni, sebagai ajang puncak.
Sebagai salah satu lapangan alam, selain lapangan rumput, lapangan tanah liat punya keunikan. Lapangan yang bagian paling atasnya merupakan tumbukan batu bata ini memantulkan bola dengan lambat dan tinggi. Kedua jenis lapangan itu juga punya permukaan tidak serata lapangan keras hingga pantulan bola terkadang sulit ditebak.
Karakter lapangan seperti itu membuat perebutan setiap poin di tanah liat berlangsung lebih lama dibandingkan permainan pada jenis lapangan keras dan rumput. Permainan seperti ini menuntut petenis lebih cerdik menetapkan taktik untuk meraih poin karena mustahil jika hanya mengandalkan pukulan keras.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/09/a4c5cb08a0c58c9f4c9f384bae2d7359-final_RG3.jpg)
Petenis big server, seperti Pete Sampras, Andy Roddick, dan Mark Philippousis, misalnya, tak pernah menjuarai Perancis Terbuka. Bersaing di arena profesional pada 1988-2003, Sampras mempunyai 64 gelar juara dan hanya tiga yang didapat dari turnamen lapangan tanah liat.
Roddick hanya memiliki lima gelar dari tanah liat dari 32 gelar, sementara Philippousis menjuarai satu turnamen tanah liat dari satu final. Total gelar juara mantan petenis Australia ini adalah 11 gelar.
Kunci kemampuan petenis agar bisa menguasai lapangan tanah liat, antara lain, bergerak dengan mulus di atas licinnya lapangan, pukulan top spin yang membuat bola berputar dengan kecepatan tinggi, dan daya tahan fisik. Kesabaran dalam menerapkan strategi dan ketangguhan mental menjadi faktor tak kasatmata yang juga memegang peranan penting.
Ditambah dengan final ATP 500 Barcelona, Alcaraz harus mempertahankan 4.300 poin untuk membuka peluang mempertahankan posisi di puncak peringkat dunia.
Tantangan semakin besar bagi petenis tunggal putra ketika bermain di Roland Garros. Seperti tiga Grand Slam lain, Perancis Terbuka dimainkan dalam format best of five sets di tunggal putra. Untuk menjadi juara, petenis harus memenangi tujuh pertandingan beruntun dalam rentang dua pekan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/05/969d3044-6887-4c25-8806-0eed469c1005.jpg)
Sebelum turnamen puncak di lapangan tanah liat tersebut, petenis akan menjalani pemanasan dalam level 250, 500, dan 1000. Pada level tertinggi, yaitu 1000, ada ATP Masters 1000 Monte Carlo, Madrid, dan Roma untuk putra serta WTA 1000 Madrid dan Roma di putri.
Meskipun sama-sama digelar di lapangan tanah liat, setiap turnamen memiliki karakteristik sendiri. Turnamen di Madrid digelar di La Caja Magica dengan ketinggian 650 meter di atas permukaan laut, sementara lapangan Foro Italico di Roma berada di ketinggian 20-30 mdpl. Tipisnya lapisan udara di Madrid membuat bola melaju lebih cepat dibandingkan di Roma karena hambatan lebih kecil untuk laju bola.
Roland Garros, Paris, tempat diselenggarakan Perancis Terbuka, berada di ketinggian yang serupa dengan Foro Italico. Maka, mereka yang bisa juara di Roland Garros adalah petenis yang bisa beradaptasi dengan baik di lapangan dengan kondisi lebih lambat.
Dalam persaingan tenis putra, semua tuntutan bermain di lapangan tanah liat dikuasai dengan baik oleh Rafael Nadal. Petenis Spanyol yang bertanding pada 2003 hingga 2024 ini mempunyai persentase kemenangan tertinggi di era terbuka, yaitu 90,5 persen dengan 63 gelar juara.
Jumlah gelar itu hampir dua kali lipat dari Bjorn Borg di posisi kedua tunggal putra dengan gelar turnamen tanah liat terbanyak, yaitu 32 gelar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/31/31f02fdb1648c89d293339059d62e628-Tenis_best_clay_court_stats.png)
Adapun di antara petenis aktif, Carlos Alcaraz menjadi yang terbaik. Dalam usia 22 tahun, Alcaraz memiliki 11 gelar juara turnamen tanah liat dari total 26 gelar. Alcaraz juga adalah juara Perancis Terbuka dalam dua tahun terakhir.
Gelar Perancis Terbuka, yang didahului gelar juara dari Monte Carlo dan Roma Masters pada 2025, akan menjadi tantangan Alcaraz untuk menjalani persaingan turnamen tanah liat tahun ini. Ditambah dengan final ATP 500 Barcelona, Alcaraz harus mempertahankan 4.300 poin untuk membuka peluang mempertahankan posisi di puncak peringkat dunia.
Sebaliknya, rival utamanya, Jannik Sinner, hanya mempunyai 1.950 poin untuk dipertahankan dari hasil final Roma Masters dan Perancis Terbuka. Sinner mendekati Alcaraz setelah meraih ”Sunshine Double”, gelar juara Indian Wells dan Miami Masters secara beruntun pada Maret. Dia pun berpeluang menggeser Alcaraz di posisi teratas peringkat dunia jika bisa lebih baik di arena tanah liat tahun ini.
Final Roma Masters dan Perancis Terbuka yang dicapai pada 2025 memperlihatkan perkembangan Sinner di lapangan tanah liat. Capaian itu menjadi hasil terbaik petenis Italia tersebut pada level tinggi. Meski kalah di Roland Garros, Sinner bisa mengimbangi Alcaraz yang lebih atletis dan eksplosif dalam bermain serta memiliki heavy topspin forehand mematikan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/fb88c8d67c35bcccf3b31c2fd2f28191-IW_sinner2.jpeg)
Novak Djokovic, yang akan berusia 39 tahun saat Perancis Terbuka tahun ini digelar, tak bisa dianggap enteng. Petenis yang akan absen di Monte Carlo Masters, 5-12 April, ini bisa diimbangi semua pesaing muda dalam turnamen ATP yang berformat best of three sets, tetapi dia masih bisa menunjukkan ketangguhan di arena Grand Slam.
Juara Perancis Terbuka 2016, 2021, dan 2023 tersebut menembus final Australia Terbuka, Januari, sebelum dikalahkan Alcaraz. Final itu menjadi final pertama Djokovic di arena Grand Slam setelah Wimbledon 2024.
Petenis lain yang terbilang bisa bermain baik di lapangan tanah liat adalah Stefanos Tsitsipas. Dia mempunyai lima gelar juara di lapangan tersebut dari total 12 gelar. Tiga gelar juara dari turnamen ATP Masters 1000 juga didapat di tanah liat, yaitu di Monte Carlo Masters 2021, 2022, dan 2024, tetapi masa terbaik petenis Yunani ini sudah berlalu.
Persaingan dalam musim kompetisi lapangan tanah liat di antara petenis putri akan sulit diprediksi. Dua faktor utama menjadi alasan, yaitu tak adanya lagi dominasi dari jagoan tanah liat, Iga Swiatek, dan belum ada petenis yang bisa menyamai kemampuannya.
Swiatek memiliki syarat menjuarai turnamen tanah liat, seperti forehand heavy top spin, olah kaki yang mulus di tanah liat, dan disiplin dalam menerapkan taktik. Dari sepuluh gelar juara di turnamen lapangan tanah liat, delapan berasal dari ajang besar, yaitu Grand Slam dan turnamen WTA 1000. Dia menjuarai Perancis Terbuka 2020, 2022, 2023, dan 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/d28831036a67e44190c79c6b8bcb49da-000_87FT6ZQ.jpg)
Akan tetapi, performa petenis Polandia itu menurun pada 2025, termasuk di lapangan tanah liat. Tak sekali pun Swiatek mencapai final di tanah liat hingga kehilangan gelar Perancis Terbuka, WTA 1000 Madrid, dan WTA 1000 Roma. Persaingan pun menjadi lebih terbuka dibandingkan ketika Swiatek menjadi yang terdepan pada 2022-2024.
Cori Gauff menjadi yang paling konsisten pada 2025 dengan mencapai final semua turnamen besar, WTA 1000 Madrid dan Roma, serta menjuarai Perancis Terbuka. Namun, petenis berusia 22 tahun ini masih sering tak tampil konsisten. Setelah menjuarai AS Terbuka 2023, dia tersingkir pada babak keempat di tahun berikutnya.
Gauff juga gagal mempertahankan gelar WTA 1000 Cincinnati 2023, Beijing 2024, dan Wuhan 2025. Satu-satunya keberhasilan dalam mempertahankan gelar adalah ketika menjadi juara WTA 250 Auckland 2024.
Peluang juara pun cukup terbuka bagi petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka yang untuk pertama kalinya mencapai final Perancis Terbuka pada 2025. Petenis yang meraih ”Sunshine Double” pada 2026 ini memiliki tiga gelar juara WTA 1000 Madrid, pada 2021, 2023, dan 2025. Hasil-hasil tersebut setidaknya bisa menjadi modal bagi Sabalenka untuk lebih percaya diri menghadapi persaingan di tanah liat pada tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/b15d4fd3bfd840898b82a02b8e9add5f-iw_sabalenka.jpeg)
Di persaingan putri ini, tantangan besar ada di depan petenis Indonesia, Janice Tjen. Petenis 23 tahun yang memasuki persaingan WTA dan Grand Slam sejak Agustus 2025 ini jarang bermain di turnamen tanah liat.
Sejak comeback pada Juni 2024, setelah lulus dari Universitas Pepperdine, AS, Janice hanya bermain dalam tiga turnamen tanah liat level ITF pada rentang Agustus-Desember 2024. Adapun sepanjang 2025, dia hanya bermain di lapangan keras.
Janice menjalani debut di ajang WTA di tanah liat dengan tampil dalam turnamen WTA 500 Charleston, AS, 30 Maret-5 April. Dia bermain di nomor tunggal dan ganda, bersama petenis Indonesia lainnya, Aldila Sutjiadi.
Turnamen Lapangan Tanah Liat 2026
(ATP/WTA 500, Masters 1000, dan Grand Slam)
Putra
ATP Masters 1000 Monte Carlo, 5-12 April
ATP 500 Barcelona, 13-19 April
ATP 500 Munchen, 13-19 April
ATP Masters 1000 Madrid, 2 April-3 Mei
ATP Masters 1000 Roma, 6-17 Mei
ATP 500 Hamburg, 17-23 Mei
Grand Slam Perancis Terbuka, 24 Mei-7 Juni
Putri
WTA 500 Charleston, 30 Maret-5 April
WTA 500 Linz, 6-12 April
WTA 500 Stuttgart, 13-19 April
WTA 1000 Madrid, 21 April-3 Mei
WTA 1000 Roma, 5-17 Mei
WTA 500 Starsbourg, 17-23 Mei
Grand Slam Perancis Terbuka, 24 Mei-7 Juni
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji